📑 Daftar Isi

Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan China dengan logo Mercedes-Benz di tengahnya, menggambarkan ketegangan regulasi kepemilikan saham China di pasar otomotif AS.

Senat AS Perketat Aturan Kepemilikan China, Mercedes Aman

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Senat AS bahas RUU bipartisan larang produsen otomotif dengan kepemilikan China 15 persen atau lebih
  • Mercedes-Benz dipastikan aman meski investor China kuasai sekitar 20 persen saham
  • Tenaciou3 Prospect Investment Limited pegang 9,69 persen, BAIC Group 9,98 persen saham Mercedes
  • Geely miliki 17 persen saham Aston Martin, perlu restrukturisasi jika RUU disahkan
  • 99 senator dukung RUU, hanya Rand Paul (R-KY) menolak karena khawatir Mercedes terdampak

Telset.id – Senat Amerika Serikat tengah membahas RUU bipartisan yang akan melarang produsen otomotif dengan kepemilikan saham China sebesar 15 persen atau lebih untuk beroperasi di pasar Negeri Paman Sam. Meski aturan ini berpotensi menyeret sejumlah merek besar, seorang senator memastikan Mercedes-Benz tidak akan terkena imbasnya meskipun investor China menguasai sekitar 20 persen saham perusahaan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Senator Partai Republik Bernie Moreno (R-MI) kepada Reuters. Menurutnya, larangan terhadap Mercedes-Benz bukanlah target dari regulasi baru ini. “Yang jelas tidak akan kami lakukan adalah melarang kendaraan Mercedes-Benz di Amerika,” ujar Moreno. Ia justru menyoroti kekhawatiran lain, yakni apakah Mercedes mampu menurunkan porsi kepemilikan China hingga di bawah 15 persen tanpa melumpuhkan perusahaannya sendiri.

Aturan ini merupakan kelanjutan dari Connected Vehicle Rule yang diperkenalkan pada 2025. Regulasi tersebut telah lebih dulu menutup akses kendaraan dan pabrikan China ke pasar Amerika Serikat. Dampaknya, Volvo yang dimiliki Geely harus melalui berbagai prosedur rumit agar tetap bisa menjual mobil di sana, dan Polestar dikabarkan bakal tersingkir, meski hal itu masih menjadi perdebatan.

Porsi Saham China di Mercedes dan Aston Martin

Berdasarkan data yang dihimpun, kepemilikan China di Mercedes-Benz berasal dari dua entitas. Tenaciou3 Prospect Investment Limited memegang 9,69 persen saham, sementara BAIC Group menguasai 9,98 persen. Jika digabungkan, totalnya melampaui ambang batas 15 persen yang disebut Moreno. Namun karena kepemilikan tersebut bersifat pasif dan tidak ada keterlibatan dalam operasional harian, perencanaan produk, maupun pengembangan, pemerintah Amerika Serikat tampaknya dapat menerima kondisi ini selama perusahaan mampu menekan kepemilikan China di bawah 15 persen.

Mercedes-Benz bukan satu-satunya merek yang menghadapi situasi serupa. Geely diketahui memiliki 17 persen saham Aston Martin, sehingga merek asal Inggris itu juga perlu melakukan restrukturisasi jika RUU ini disahkan. Volvo sebelumnya berhasil mengakali hukum yang berlaku dengan membuktikan bahwa mereka tidak menggunakan perangkat lunak buatan China, meskipun Geely tetap menjadi perusahaan induknya. Jika RUU ini menjadi undang-undang, Lotus juga berpotensi hilang sepenuhnya dari pasar Amerika Serikat karena merek tersebut juga dimiliki oleh China. Namun karena Lotus tergolong kecil dan penjualannya tidak terlalu besar di sana, dampaknya tidak akan terlalu signifikan.

Baca Juga:

Dukungan Bipartisan dan Pengecualian untuk Mercedes

RUU ini mendapat dukungan luas dari kedua kubu di Senat. Senator Elissa Slotkin (D-MI) dilaporkan mengatakan kepada Reuters bahwa 99 senator mendukung rancangan undang-undang tersebut. Satu-satunya penolak adalah Senator Rand Paul (R-KY). Menariknya, alasan Rand menolak bukan karena prinsip, melainkan karena kekhawatiran bahwa RUU ini akan membahayakan Mercedes. Ia menyatakan akan mendukung jika klausul mengenai Mercedes dihapus dari rancangan tersebut.

Bagi Mercedes-Benz dan Aston Martin, pasar Amerika Serikat jelas sangat penting. Keduanya disebut harus mencari jalan keluar, termasuk kemungkinan restrukturisasi kepemilikan, agar tetap dapat beroperasi di sana. Sementara itu, langkah Mercedes-Benz dalam menghadirkan teknologi terbaru terus berjalan, seperti yang terlihat pada Mercedes-Benz G 580 Electric 2027 yang kini mengadopsi port NACS, menawarkan jangkauan lebih jauh, dan pengisian daya lebih cepat.

Perusahaan juga tengah mengunci akses terhadap baterai solid-state Gen4 ProLogium, sebuah langkah strategis untuk memperkuat posisinya di segmen kendaraan listrik. Di sisi lain, Mercedes-Benz juga menggandeng AI Driver Wayve untuk menantang Tesla FSD, menunjukkan ambisi perusahaan dalam mengembangkan teknologi berkendara otonom.

Di sektor komersial, Amazon bahkan telah memasang 50 truk listrik Mercedes-Benz eActros 600 di Eropa, menandakan kepercayaan mitra bisnis terhadap lini kendaraan listrik Mercedes. Sementara itu, Mercedes C300 4MATIC yang baru meluncur diklaim memiliki jarak tempuh 690 Km, mempertegas komitmen perusahaan dalam menghadirkan efisiensi dan performa.

Jika RUU ini disahkan, lanskap industri otomotif Amerika Serikat diprediksi akan mengalami pergeseran signifikan. Merek-merek dengan kepemilikan China di atas ambang batas harus segera beradaptasi atau kehilangan akses ke salah satu pasar terbesar dunia. Namun, dengan pengecualian yang disebutkan untuk Mercedes, tampaknya ada ruang negosiasi yang memungkinkan merek-merek tertentu tetap bertahan selama mampu memenuhi syarat yang ditetapkan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.