📑 Daftar Isi

Mobil listrik berwarna putih terparkir di bawah kanopi panel surya berukuran besar

Solar Roof EV Belum Efisien, Ini Sebab Utama dan Hitungannya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Solar roof EV hanya menghasilkan sekitar 1,6kWh per 4 jam, cukup untuk sekitar 4 mil
  • Konsumsi median EV model-year 2025 versi EPA mencapai 390Wh per mil
  • Panel tambahan menambah bobot dan hambatan udara sehingga menurunkan efisiensi
  • Nissan Sakura memakai Ao-Solar Extender 300W, naik jadi 500W saat diparkir
  • Aptera menargetkan 100Wh per mil dengan hasil uji 4,23kWh atau sekitar 42 mil
  • Aptera bidik harga US$40.000 dan produksi 40 unit pada akhir 2026

Telset.id – Panel surya di atap mobil listrik ternyata belum mampu menggantikan kebutuhan pengisian daya dari colokan. Hitungan konsumsi energi menunjukkan bahwa luas atap mobil yang terbatas membuat hasil panen listrik dari sinar matahari jauh lebih kecil dibanding kebutuhan daya kendaraan modern. Persoalan ini menjadi inti dari upaya sejumlah produsen yang masih menguji berbagai pendekatan agar solar roof EV lebih masuk akal.

Angka menjadi titik awal yang paling jelas. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) memperkirakan kendaraan listrik model-year 2025 dengan konsumsi median memakai 39kWh per 100 mil, atau setara 390Wh per mil. Dengan asumsi panel surya berkapasitas 400W dipasang pada atap seluas sekitar 22 kaki persegi, dan panel menghasilkan output sesuai rating selama empat jam, energi yang dihasilkan hanya 1,6kWh sebelum memperhitungkan kerugian pengisian. Jumlah itu cukup untuk sekitar 4 mil pada tingkat konsumsi rata-rata EPA.

Hitungan tersebut bahkan berlaku dalam kondisi ideal. Bayangan, cuaca berawan, panas, dan sudut parkir yang kurang menguntungkan dapat menurunkan output panel surya. Ruang atap yang tersedia juga tetap terbatas, sehingga menambah panel bukan solusi sederhana.

Menambah perangkat tambahan justru membawa masalah baru. Bobot tambahan membuat motor listrik bekerja lebih keras dan menarik lebih banyak energi. Perangkat ekstra juga dapat mengganggu aerodinamika, meningkatkan hambatan udara, dan menurunkan efisiensi. Panel yang dipasang menonjol di atas bodi kendaraan memperparah hambatan tersebut, sementara panel yang menyatu rata dengan atap bisa menghindari penalti aerodinamika namun tidak menyelesaikan persoalan luas permukaan.

A white car parked beneath a large canopy of solar panels

Perbandingan dengan kendaraan rekreasi atau RV memperjelas batas kemampuan solar roof. RV lebih cocok memakai panel atap karena listriknya digunakan untuk menyalakan lampu, kipas, dan lemari pendingin, bukan untuk menggerakkan kendaraan. Contohnya sistem 210W pada Winnebago Revel Sport. Ekspektasi yang berbeda inilah yang membuat panel surya di RV lebih masuk akal dibanding pada mobil listrik penumpang.

Produsen pun mencoba berbagai jalan keluar. Squad Mobility menghadirkan kendaraan listrik mungil bertenaga surya yang memadukan panel atap 250W dengan mobil kota berbobot 794 pon. Pendekatan lain datang dari Nissan melalui prototipe Ao-Solar Extender untuk mobil listrik Sakura. Panel tersebut menghasilkan hingga 300W saat panel tertutup untuk berkendara. Ketika mobil diparkir, panel tambahan bergeser menutup area kaca depan sehingga output naik menjadi 500W. Konfigurasi yang bisa diperluas ini memberi Nissan area pengumpulan energi lebih luas tanpa panel besar yang menonjol saat melaju di jalan tol.

A light blue Nissan Sakura parked outdoors with a black solar panel extended forward above its windshield.

Pendekatan Aptera yang Berbeda

Alih-alih memaksakan panel surya besar pada kendaraan konvensional, Aptera merancang kendaraan listrik dengan bodi berbentuk tetesan air, tiga roda, hanya dua kursi, dan konstruksi komposit ringan. Desain ini sangat berbeda dari kendaraan listrik model-year 2025 dengan konsumsi median. Aptera menargetkan konsumsi 100Wh per mil, sekitar seperempat dari konsumsi median kendaraan listrik versi EPA.

Panel surya Aptera telah menunjukkan hasil yang terukur. Dalam pengujian Juli di Southern California, TÜV Rheinland mengukur 4,23kWh yang disalurkan ke baterai prototipe Aptera, dengan mobil diparkir, tidak disentuh, dan pintu bagasi tertutup. Pada target efisiensi Aptera, angka itu setara dengan sekitar 42 mil jarak jelajah tenaga surya. Hasil ini bisa berarti pengisian daya dari colokan menjadi lebih jarang bagi pengguna dengan perjalanan pendek dan tempat parkir yang terkena sinar matahari.

Namun, parkir di garasi, beberapa hari langit berawan, atau perjalanan jauh mengubah perhitungan tersebut. Pengujian itu juga hanya mengonfirmasi jumlah listrik yang terkumpul, bukan seberapa jauh mobil benar-benar dapat melaju dengan energi tersebut.

An overhead view of a silver Aptera electric vehicle with dark solar panels covering its roof and rear body.

Sejarah menunjukkan target Aptera tidak mudah dicapai. Lightyear menghentikan produksi kendaraan listrik surya pertamanya pada Januari 2023, hanya beberapa minggu setelah pengiriman dimulai. Perusahaan operasional Lightyear, Atlas Technologies, menyatakan pailit beberapa hari kemudian.

Aptera belum mengumumkan harga jual final, tetapi versi Launch Edition memiliki target harga US$40.000. Dalam pengajuan SEC tertanggal 1 Oktober, perusahaan menyatakan rencana mulai membangun 40 kendaraan produksi pertama pada akhir 2026, dengan pengiriman ke pelanggan diperkirakan pada awal 2027, bergantung pada pendanaan, kinerja pemasok, dan persetujuan regulasi.

Bagi pengguna yang mengikuti perkembangan teknologi kendaraan listrik, hitungan di atas memperlihatkan bahwa solar roof EV saat ini lebih tepat diposisikan sebagai pelengkap pengisian daya, bukan pengganti colokan. Sementara itu, inovasi di sektor kendaraan listrik terus bergerak, seiring dengan langkah sejumlah merek yang mulai membuka pemesanan model baru di pasar tertentu seperti Hyundai Staria Electric. Di sisi lain, isu teknologi juga merambah ke sektor lain, termasuk pembahasan seputar konten AI palsu yang menuntut kejelasan aturan.

[ META_DESCRIPTION]
Solar roof EV belum efisien untuk menggerakkan mobil listrik. Simak hitungan konsumsi daya, tantangan aerodinamika, dan pendekatan Aptera.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.