📑 Daftar Isi

Ilustrasi paket baterai mobil listrik yang diuji menggunakan perangkat diagnostik AVILOO FLASH Test

Studi 500 Ribu Baterai EV: Mercedes EQA Paling Awet, Tesla Tertinggal

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Studi AVILOO menganalisis 500.000+ tes baterai dari 20 model EV populer
  • Mercedes EQA paling awet dengan SoH 94,0% di jarak 150.000 km
  • Hyundai IONIQ 5 unggul di jarak pendek dengan SoH 97,1% di 50.000 km
  • BMW i4, Kona EV, dan Volvo XC40 Recharge lengkapi lima besar
  • Tesla Model 3 hanya 88,9%, Tesla Model Y 90,3% di jarak 150.000 km
  • Nissan Leaf, MINI Cooper SE, dan Renault Zoe jadi yang terburuk
  • Baterai kecil butuh lebih banyak siklus pengisian, percepat degradasi
  • Selisih antar unit individu bisa capai 13,5%, median bukan patokan mutlak
  • AVILOO gunakan FLASH Test 3 menit via port OBD, tersertifikasi TUV dan CARA

Telset.id – Studi independen terbesar yang pernah dilakukan terhadap baterai mobil listrik bekas mengungkap temuan mengejutkan: Mercedes EQA, Hyundai IONIQ 5, dan BMW i4 adalah mobil listrik dengan kesehatan baterai terbaik, sementara Tesla justru berada di posisi bawah. Riset dari perusahaan diagnostik asal Austria, AVILOO, ini menganalisis lebih dari 500.000 tes baterai dari 20 model EV populer dengan jarak tempuh hingga 150.000 km.

AVILOO merilis temuan ini melalui laporan terbaru bertajuk AVILOO Certified EV Battery Report. Laporan tersebut dibangun dari pengukuran fisik terhadap paket baterai, bukan sekadar estimasi. Untuk setiap model, AVILOO menghitung median state of health (SoH) pada jarak 50.000 km, 100.000 km, dan 150.000 km. SoH sendiri merupakan indikator persentase kapasitas usable asli baterai yang masih tersisa. Artinya, baterai dengan SoH 94% masih mampu memberikan sekitar 94% dari jangkauan aslinya.

Mercedes EQA Puncaki Klasemen Ketahanan Baterai

Pada jarak 150.000 km—angka yang menjadi pembeda antara baterai yang awet dan yang mulai lelah—Mercedes EQA memimpin dengan median SoH 94,0%. Posisinya hanya unggul tipis atas Hyundai IONIQ 5 yang mencatatkan 93,8%, disusul BMW i4 di angka 93,6%. Hyundai Kona EV dan Volvo XC40 Recharge melengkapi posisi lima besar dengan torehan di atas 92,7%.

Menariknya, Hyundai IONIQ 5 justru menjadi yang terbaik pada jarak tempuh lebih rendah. Di 50.000 km, IONIQ 5 memegang SoH 97,1%, sebelum akhirnya duo pabrikan Jerman menyusul di jarak yang lebih jauh. Data lengkap seluruh model pada jarak 150.000 km menunjukkan persaingan ketat di papan atas, dengan Mercedes-Benz EQA di 94,0%, Hyundai IONIQ 5 di 93,8%, BMW i4 di 93,6%, Hyundai Kona EV di 93,0%, dan Volvo XC40 Recharge di 92,8%.

Bagi konsumen yang tengah mencari mobil listrik bekas, kabar ini sangat menggembirakan. Paket baterai terbaik dalam studi ini masih berada di atas 93% kesehatan setelah menempuh jarak setara 93.000 mil atau sekitar 150.000 km. Artinya, baterai-baterai ini tidak menunjukkan tanda-tanda aus yang signifikan.

Baca Juga:

Baterai Kecil dan Dua Model Tesla Justru Terpuruk

Papan bawah klasemen menyimpan cerita tersendiri. Nissan Leaf ZE1 (86,7%), MINI Cooper SE (87,1%), dan Renault Zoe (87,3%) menjadi tiga model dengan degradasi terparah. Ketiganya berbagi karakteristik yang sama: paket baterai berkapasitas kecil. Baterai 40 kWh harus melalui jauh lebih banyak siklus pengisian daya untuk menempuh jarak yang sama dengan baterai 78 kWh, dan siklus tersebut terbukti mempercepat degradasi.

MINI Cooper SE menjadi model dengan penurunan paling tajam sepanjang studi, kehilangan tujuh poin SoH antara jarak 50.000 km dan 150.000 km. Sementara itu, kedua model Tesla justru berada di sepertiga terbawah. Tesla Model Y mencatatkan SoH 90,3% di 150.000 km, sedangkan Tesla Model 3 hanya 88,9%—hasil terburuk kedua untuk model dengan ukuran baterai sebanding.

Bagi mobil listrik terlaris di dunia, torehan ini terbilang pas-pasan dan sedikit banyak menggerus reputasi ketahanan yang selama ini melekat pada merek Tesla. Kendati demikian, perlu dicatat bahwa data terbaru AVILOO menunjukkan hasil yang lebih baik untuk paket baterai LFP milik Tesla. Paket LFP tersebut dinilai mampu menahan kapasitas lebih baik dibandingkan Model 3 berbasis nikel dalam studi terpisah. Kabar baiknya, meski performa kedua model Tesla di bawah rata-rata, margin degradasinya masih dalam batas yang dapat diterima.

Hasil studi AVILOO ini sejalan dengan temuan sebelumnya dari riset yang melibatkan 1.300 EV, di mana Kia dan Tesla sempat menempati posisi teratas, serta data dunia nyata yang menunjukkan sebagian besar baterai EV justru lebih awet daripada mobil yang menaunginya. Baterai memang menua dengan baik, tetapi rata-rata menyembunyikan banyak variasi.

Median Bukan Segalanya, AVILOO Ingatkan Soal Variasi Individu

Ada satu catatan penting dari setiap pemeringkatan seperti ini, dan AVILOO cukup terbuka tentang hal tersebut. Median hanyalah titik tengah, bukan gambaran kondisi mobil yang sedang Anda incar. Faktanya, selisih antara contoh baterai terbaik dan terburuk dari satu model yang sama bisa mencapai 13,5%—angka yang setara dengan puluhan kilometer jangkauan nyata per pengisian daya.

Artinya, IONIQ 5 yang “bagus” dan IONIQ 5 yang “buruk” di lokasi penjualan yang sama benar-benar merupakan produk yang berbeda, dan tidak ada stiker di kaca yang bisa memberi tahu Anda mana yang mana. Indikator SoH di dasbor pun tidak akan membantu, karena setiap pabrikan menghitungnya dengan cara berbeda.

Metodologi AVILOO: Tes Tiga Menit Berbasis Data Ratusan Ribu Kendaraan

Pemeringkatan ini berasal dari FLASH Test AVILOO, sebuah diagnostik berdurasi tiga menit yang dicolokkan ke port OBD. Metode ini menghitung SoH menggunakan model statistik yang dilatih pada ratusan ribu kendaraan bekas sungguhan, bukan dengan membaca langsung sistem manajemen baterai milik mobil. Dari total 500.000 tes yang dianalisis dalam laporan ini, data tersebut merupakan bagian dari database AVILOO yang diklaim telah menembus 1 juta tes di Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Australia, serta Asia.

Kredibilitas AVILOO sendiri tidak perlu diragukan. Mercedes-Benz, Volvo, dan Porsche Holding telah menunjuk perusahaan ini sebagai penyedia pengujian baterai independen pilihan untuk dealer-dealer Eropa. Metode pengujiannya pun telah tersertifikasi TUV dan CARA. Pada musim panas tahun ini, AVILOO juga meluncurkan Battery Warranty di 12 negara Eropa, yang membayar 2.700 poundsterling di Inggris (sekitar USD 3.600) atau 3.000 euro di negara lain jika paket baterai mobil turun di bawah ambang batas SoH individu dalam kurun waktu satu tahun.

Kesimpulan utama dari studi ini sangat jelas: degradasi baterai EV bukanlah masalah besar. Bahkan model dengan performa terburuk sekalipun masih menunjukkan tingkat degradasi yang bisa diterima. Perlu diingat pula bahwa degradasi baterai cenderung melambat seiring waktu dan jarak tempuh—artinya, 100.000 mil pertama adalah fase di mana penurunan terbesar terjadi. Bagi Anda yang sedang mempertimbangkan membeli EV bekas, temuan ini memberikan ketenangan pikiran bahwa investasi pada Tesla Cybercab atau model EV lain tetap masuk akal dari sisi daya tahan baterai.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.