📑 Daftar Isi

Deretan mobil listrik China bekas di pelabuhan siap dikirim ke Eropa dan Kanada dengan harga 40% lebih murah

Tarif Tinggi Bikin Mobil Listrik China Bekas Laris di Eropa

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Penjualan EV China bekas ke pelanggan UE tumbuh 280% YoY mencapai 7.900 unit hingga September
  • Harga rata-rata 40% di bawah MSRP, dengan unit jarak tempuh sekitar 6.000 km
  • Mobil bekas bebas dari tarif BEV tambahan dan kuota hybrid PHEV baru
  • CEVM punya lebih dari 2.600 unit stok dari merek BYD, Geely, Zeekr, dan lainnya
  • Tarif BEV di Uni Eropa mencapai 45,3% untuk kendaraan listrik China baru

Telset.id – Perang tarif yang memicu lonjakan harga minyak di Iran turut mendorong kenaikan biaya hampir semua barang, termasuk mobil baru. Kondisi ini justru memberi keuntungan besar bagi mobil listrik (EV) China di pasar Eropa dan Kanada. Bukan hanya EV baru, kini mobil listrik China bekas (used Chinese EVs) menjadi ancaman baru bagi merek otomotif Barat yang selama ini mengandalkan kebijakan proteksionis.

Produsen otomotif Barat memberlakukan pembatasan ketat terhadap jumlah mobil China baru yang boleh masuk, serta tarif tinggi untuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) yang mencapai 45,3% di Uni Eropa. Pembatasan pasokan ini justru meningkatkan permintaan terhadap mesin China berteknologi tinggi dengan harga rendah. Pembeli di Eropa dan Kanada kini menemukan bahwa EV China bekas menawarkan teknologi setara dengan EV Barat terbaru, dengan harga hingga 40% lebih rendah dari MSRP yang sudah rendah, dan tidak terkena bea masuk proteksionis yang sama.

Data dari importir/eksportir China EV Marketplace (CEVM) menunjukkan penjualan kendaraan bekas ke pelanggan UE tumbuh 280% year over year, dengan penjualan mencapai 7.900 unit hingga September. “Tarif sudah melemahkan permintaan BEV China baru di antara pelanggan Eropa kami. Kami memperkirakan batas impor hybrid juga akan menekan penjualan PHEV baru,” kata COO CEVM Jakub Geršl kepada CarNewsChina. “Mobil bekas dikecualikan dari tarif BEV tambahan dan dari kuota hybrid (PHEV) baru. Itulah sebabnya kami menjadikan kendaraan bekas sebagai fokus utama bisnis Eropa kami.”

Used Chinese EVs at port, on their way to Europe and Canada at 40% off

Stok Melimpah, Harga Terus Tertekan

CEVM memiliki lebih dari 2.600 EV China bekas di situsnya saat artikel ini ditulis, dan inventarisnya diperbarui hampir setiap hari dengan unit bekas dari merek seperti BYD, Geely, Zeekr, dan lainnya. Perusahaan mengklaim harganya rata-rata sekitar 40% di bawah harga asli (MSRP). “Harga mobil baru yang lebih rendah juga menekan harga mobil bekas,” tambah Geršl. “Tim kami yang berbasis di Shanghai mencari peluang tersebut. Kami secara rutin menemukan mobil dengan jarak tempuh sekitar 6.000 km dengan harga 40% di bawah harga daftar asli China.”

Penurunan harga itu didorong sejumlah faktor, termasuk laju kemajuan teknologi yang tak henti, banjir EV baru dan pembaruan dari merek mobil China, serta budaya otomotif domestik China yang berkembang dan sangat menghargai kebaruan di atas segalanya. Implikasinya jelas: semakin banyak EV China dengan jarak tempuh rendah, harga rendah, teknologi tinggi, dan nilai tinggi yang datang ke Barat, kemungkinan jauh lebih cepat dari yang diinginkan merek seperti VW yang sudah kesulitan bersaing.

Tekanan proteksionis yang mendorong lonjakan EV China bekas ini sejalan dengan pola yang juga terjadi di sektor teknologi lain, di mana pembatasan regulasi memaksa produsen mencari celah. Fenomena serupa terlihat pada langkah TP-Link Bangun Router di Amerika Serikat demi memenuhi aturan regulator setempat.

Gelombang Elektrifikasi di Pasar Berkembang

Seorang komentator teratas dalam diskusi tersebut menyoroti bahwa fenomena ini pada dasarnya membalikkan semua proyeksi transportasi dunia. Banjir EV China bekas yang menghantam pasar berkembang disebut akan mempercepat elektrifikasi transportasi jauh lebih cepat dari perkiraan siapa pun. Industri selama ini terlalu terobsesi pada pasar mobil baru (hanya 30% dari pasar mobil) sehingga melewatkan dampak ekspor kendaraan bekas model terbaru dari China ke seluruh dunia berkembang dengan harga yang sangat menarik.

Menurut komentar tersebut, hal ini memungkinkan pembaruan lebih cepat di dalam China tanpa ledakan jumlah kendaraan yang tak terkendali. Dunia disebut akan terbangun pada 2035 dan menyadari bahwa pasar berkembang di Afrika dan Asia Tengah telah berelektrifikasi secara signifikan tanpa penjualan EV besar yang disadari banyak pihak. Perspektif ini menegaskan bahwa pergerakan kendaraan bekas bukan sekadar urusan diskon, melainkan bagian dari pergeseran besar dalam rantai pasok otomotif global.

Gelombang pengiriman lintas negara seperti ini juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama soal pengawasan dan keamanan. Kasus Kamera Mobil Sewaan yang merekam tentara Norwegia dan membocorkan kode gerbang menunjukkan bahwa teknologi kendaraan yang terhubung ke jaringan membawa risiko yang perlu diantisipasi.

China's Geely to ship first Lotus EVs to Canada in July under Carney-Xi deal, ambassador says

Di Kanada, pengiriman mobil Lotus dari Geely turut menjadi penanda masuknya kendaraan China ke pasar Amerika Utara. Sementara itu, percepatan logistik dan distribusi kendaraan lintas benua tak lepas dari dukungan infrastruktur transportasi yang efisien. Di China sendiri, efisiensi jaringan kereta cepat menjadi contoh bagaimana skala dan kecepatan distribusi bisa dicapai, seperti terlihat dari Rekor Baru Stasiun Kereta Cepat Guangzhou yang melayani satu juta penumpang sehari.

Perkembangan teknologi yang menjadi salah satu pendorong penurunan harga EV China bekas juga tercermin pada inovasi komponen yang terus bergerak cepat. Di sektor layar, misalnya, OnePlus 16 Pakai Layar BOE X4 185Hz menunjukkan bagaimana siklus pembaruan teknologi berjalan singkat dan menekan harga produk generasi sebelumnya.

Inti dari situasi ini adalah bahwa teknologi dan pasar bergerak lebih cepat daripada legislasi. Begitu konsumen beralih ke kendaraan listrik, sangat sedikit yang kembali ke bensin atau diesel. Dengan harga hingga 40% di bawah MSRP, jarak tempuh rendah sekitar 6.000 km, serta bebas dari tarif BEV tambahan dan kuota PHEV, EV China bekas menjadi alternatif yang makin sulit diabaikan di pasar Eropa dan Kanada.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah gelombang kendaraan listrik China bekas akan tiba, melainkan seberapa cepat merek-merek Barat mampu merespons. Selama kebijakan proteksionis tetap menjadi strategi utama, celah berupa pasar kendaraan bekas akan terus mengalirkan EV China berteknologi tinggi dengan harga rendah ke tangan konsumen yang selama ini kesulitan menjangkau mobil listrik baru.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.