Telset.id – Dua pabrikan asal India, Tata Motors dan Mahindra, berhasil memuncaki peringkat efisiensi energi kendaraan listrik global versi International Council on Clean Transportation (ICCT) pada 2025. Pencapaian ini menempatkan mereka di atas raksasa EV dunia seperti Tesla dan BYD.
Temuan ini dirilis dalam laporan ICCT 2025 yang mengevaluasi 22 produsen mobil terbesar di dunia. Dalam laporan tersebut, Tata Motors yang merupakan pemilik Jaguar Land Rover menempati posisi pertama dengan konsumsi energi rata-rata hanya 106 watt-jam per kilometer (Wh/km). Posisi kedua diduduki oleh Mahindra dengan efisiensi 113 Wh/km.
Sementara itu, Tesla dan BYD, yang dikenal sebagai pemimpin pasar kendaraan listrik global, justru harus puas berada di peringkat ketiga dan keempat. Temuan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat dominasi kedua merek tersebut dalam penjualan dan teknologi EV.
Pencapaian Tata Motors ini menjadi sorotan karena pabrikan asal India tersebut memiliki lini EV terluas di negaranya dengan total tujuh model. Salah satu model andalannya adalah Tata Nexon EV, yang menjadi bukti bahwa efisiensi energi bisa dicapai tanpa harus mengorbankan variasi produk.

Meskipun demikian, secara industri, kemajuan efisiensi energi EV secara global hampir stagnan. Rata-rata konsumsi energi hanya bergerak tipis dari tahun sebelumnya, yakni berada di angka 131 Wh/km pada 2025. Dari 22 produsen yang dievaluasi, hanya delapan yang berhasil meningkatkan efisiensi, sementara 12 lainnya justru mengalami penurunan, meskipun mayoritas bersifat minor.
Laporan ICCT ini memberikan gambaran menarik tentang dinamika industri EV. Meski efisiensi energi menjadi kunci, nyatanya adopsi EV di India masih sangat rendah. Kendaraan listrik baru menyumbang kurang dari 5% dari total penjualan mobil baru di negara tersebut, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 25%.
Pemerintah India sendiri memiliki target ambisius untuk mencapai 30% adopsi EV pada 2030. Target ini didorong oleh kebutuhan untuk memangkas emisi, mengurangi impor minyak, dan meningkatkan manufaktur dalam negeri. India saat ini merupakan konsumen minyak bumi terbesar keempat di dunia.
Managing Director ICCT untuk India, Amit Bhatt, menyebut batas emisi yang diterapkan pemerintah India sebagai “progresif dan ambisius.” Ia juga mengungkapkan bahwa aturan fase ketiga yang lebih ketat sedang dirancang untuk periode 2027 hingga 2032.
Baca Juga:
Namun, efisiensi energi yang unggul bukanlah satu-satunya faktor penentu kualitas sebuah EV. Dalam laporan ICCT yang sama, Tata Motors justru menempati peringkat terakhir untuk kecepatan pengisian daya dan peringkat keenam dari bawah untuk jarak tempuh. Ini menunjukkan bahwa membangun baterai yang efisien dan membangun EV yang kompetitif secara keseluruhan adalah dua tantangan rekayasa yang sangat berbeda.
Meskipun demikian, keberhasilan Tata Motors dan Mahindra dalam efisiensi energi patut diapresiasi. Ini membuktikan bahwa inovasi tidak selalu datang dari pabrikan yang sudah mapan. Pencapaian ini juga bisa menjadi momentum bagi industri EV India untuk terus berkembang.
Persaingan di industri EV global semakin ketat, tidak hanya dari segi penjualan tetapi juga dari segi teknologi dan efisiensi. Pencapaian pabrikan India ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi pemain global lainnya. Sementara itu, Tesla dan BYD tetap menjadi pemimpin pasar, tetapi perlu terus berinovasi untuk mempertahankan posisi mereka.

Ke depannya, konsumen akan semakin cerdas dalam memilih kendaraan listrik. Faktor seperti efisiensi, jarak tempuh, kecepatan pengisian daya, dan harga akan menjadi pertimbangan utama. Produsen yang mampu menyeimbangkan semua aspek ini akan menjadi pemenang di pasar.
Laporan ICCT ini menjadi referensi penting bagi industri otomotif global. Data yang disajikan memberikan gambaran objektif tentang kinerja masing-masing pabrikan. Ini juga menjadi alat ukur bagi konsumen untuk membuat keputusan yang lebih tepat.
Dengan target adopsi EV yang ambisius di berbagai negara, efisiensi energi akan menjadi faktor kunci. Produsen yang mampu memproduksi EV dengan konsumsi energi rendah akan memiliki daya saing tinggi. Pencapaian Tata Motors dan Mahindra membuktikan bahwa mereka siap bersaing di level tertinggi.





Komentar
Belum ada komentar.