Ilustrasi aplikasi Uber dengan fitur hotel, AV Labs, dan AI

Uber Ekspansi ke Hotel, AV Labs, dan AI untuk Pengguna

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Uber ekspansi ke pemesanan hotel melalui kemitraan dengan Expedia
  • Meluncurkan unit bisnis AV Labs untuk mengumpulkan data berkendara otonom
  • Uber Pro Card sebagai layanan keuangan untuk pengemudi dan kurir
  • Program Uber One capai 51 juta anggota, dorong penggunaan lintas layanan
  • Uber Eats kini menguntungkan secara independen
  • Jual data ke perusahaan Gen AI melalui data labeling oleh pengemudi
  • Fitur AI baru: earner assistant, grocery cart assistant, voice-to-ride
  • Hubungan kompleks dengan Waymo sebagai mitra sekaligus pesaing
  • CPO habiskan 70-80% waktu untuk sempurnakan produk eksisting

Telset.id – Uber secara diam-diam telah memperluas layanan jauh melampaui ride-hailing dan pengiriman makanan selama setahun terakhir. Kini, pengguna dapat memesan hotel melalui kemitraan dengan Expedia, menyewa perahu di Eropa, hingga menggunakan fitur “shop for me” yang memungkinkan belanja dari toko lokal mana pun. Langkah ini menandai transformasi besar perusahaan yang dipimpin Chief Product Officer Sachin Kansal, yang mengungkapkan strategi ambisiusnya dalam wawancara eksklusif dengan TechCrunch.

Perubahan paling signifikan adalah hadirnya layanan pemesanan hotel langsung di aplikasi Uber. Kansal menjelaskan bahwa 1,5 miliar perjalanan di platform Uber setiap tahun terjadi di luar kota asal pengguna. “Travel really is, in my opinion, the third leg of the stool — we had rides, then we added eats, and now we are adding travel,” ujarnya. Integrasi dengan Expedia dilakukan secara mendalam, di mana Uber membangun seluruh antarmuka pengguna sendiri. Sementara itu, untuk layanan seperti penyewaan perahu di Eropa, Uber memilih model handoff ke mitra karena integrasi dua arah membutuhkan waktu lebih lama.

Di balik layar, Uber juga mengembangkan unit bisnis baru bernama AV Labs yang sudah berusia enam bulan. Unit ini mengoperasikan armada kendaraan yang dilengkapi sensor untuk mengumpulkan data berkendara dalam jumlah besar. “We are going to be equipping hundreds of cars with sensors, deployed through our fleet partners, and through that we’ll be collecting millions of miles worth of driving data,” kata Kansal. Data ini sangat penting untuk membantu mitra otonom mengatasi masalah long-tail, yaitu skenario langka yang sulit ditangkap dalam pengujian biasa. Uber menegaskan bahwa mereka tidak berlomba menjadi penyedia otonomi level 4, melainkan fokus menyediakan “lintasan balap” bagi banyak pemain. Strategi ini relevan dengan upaya Uber Dorong Regulasi Robotaxi demi menciptakan jaringan hybrid yang menggabungkan pengemudi manusia dan kendaraan otonom.

Hubungan Uber dengan Waymo, mitra sekaligus pesaing, menjadi semakin kompleks. Uber baru saja menghentikan uji coba Waymo di Phoenix yang hanya menggunakan belasan mobil, sementara ekspansi skala besar berlanjut di Austin dan Atlanta dengan ratusan kendaraan. Kansal menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil secara mutual karena tidak lagi masuk akal untuk dilanjutkan. Meskipun demikian, Uber tetap menganggap Waymo sebagai mitra yang sangat baik, namun di banyak kota mereka juga merupakan kompetitor langsung.

Di sektor keuangan, Uber telah meluncurkan Uber Pro Card, yaitu kartu debit yang memungkinkan pengemudi dan kurir mentransfer seluruh pendapatan mereka. Perusahaan juga mulai bereksperimen dengan produk serupa untuk merchant di beberapa wilayah. Untuk konsumen, Uber menawarkan Uber Credits yang terkait dengan program keanggotaan Uber One. Program ini kini memiliki 51 juta anggota dan menyumbang sekitar setengah dari total pemesanan. Kansal mengungkapkan bahwa anggota Uber One cenderung lebih sering menggunakan layanan yang sudah mereka gunakan, dan juga mulai mencoba layanan lain seperti beralih dari mobilitas ke pengiriman atau sebaliknya.

Kansal menegaskan bahwa Uber Eats kini sudah menjadi bisnis yang menguntungkan secara independen selama beberapa kuartal terakhir. Hal ini menjawab keraguan tentang profitabilitas bisnis pengiriman makanan yang selama ini dianggap sulit. “During the early years of Uber Eats it was not profitable yet, but over the last several quarters, Uber Eats has been independently a profitable business for us,” jelasnya.

Salah satu inovasi paling menarik adalah penjualan data ke perusahaan Gen AI. Uber memanfaatkan basis pengemudi dan kurirnya yang berjumlah 10 juta orang untuk memberi label data (data labeling) dan mengumpulkan audio bagi perusahaan kecerdasan buatan generatif. Kansal menegaskan bahwa tidak ada percakapan yang direkam saat pengemudi sedang dalam perjalanan. Aktivitas ini dilakukan di luar jam kerja, di mana pengemudi hanya berbicara atau mentranskripsi audio dan dibayar untuk itu. “We have commercial relationships with them and we are selling it to them — that’s a part of the business that is new, and we are extremely bullish about it,” tambahnya.

AI juga mulai hadir dalam fitur-fitur yang langsung dirasakan pengguna. Uber meluncurkan earner assistant yang membantu pengemudi mengetahui lokasi dengan permintaan tinggi, grocery cart assistant yang memudahkan belanja bahan makanan, dan fitur voice-to-ride yang memungkinkan pengguna memesan perjalanan dengan suara. Kansal membayangkan masa depan di mana Uber menjadi agen perjalanan penuh yang bisa merencanakan dan memesan seluruh perjalanan hanya dengan satu perintah. Namun, ia menekankan bahwa perusahaan tidak ingin terburu-buru meluncurkan fitur yang belum matang.

Sebagai Chief Product Officer, Kansal mengaku menghabiskan 70-80% waktunya untuk memastikan produk yang sudah ada berjalan sempurna. Sisanya digunakan untuk mengeksplorasi ide-ide baru, termasuk turun langsung menjadi pengemudi dan kurir untuk melihat produk dari sisi pengguna. “If you have 100 ideas, maybe five of them are good, and those five then need a lot of cultivation and conviction,” pungkasnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.