Telset.id – Volvo memperluas kemitraan dengan Nvidia untuk menghadirkan sistem mengemudi otonom yang bisa menangani jalanan kota dan jalan tol. Perusahaan asal Swedia itu menargetkan fitur point-to-point hands-free alias lepas tangan dari titik ke titik ini meluncur sebelum akhir dekade atau sekitar 2030.
Langkah ini menandai babak baru bagi Volvo yang sebelumnya harus menyingkirkan proyek Ride Pilot Level 3 di Amerika Serikat karena tak mendapat persetujuan regulasi. Alih-alih mengejar otonomi penuh, Volvo kini memilih jalur Level 2++ yang disebut mampu menangani lampu lalu lintas, rambu berhenti, hingga belokan kiri tanpa pengawasan eksplisit dari pengemudi.
Sistem ini akan memakai tiga komponen utama dari Nvidia. Pertama, platform Hyperion yang mencakup silikon bertenaga tinggi sekaligus seperangkat sensor tambahan di sekeliling kendaraan. Kedua, perangkat lunak Alpamayo yang memakai model penalaran untuk memahami kondisi jalan kompleks dan menentukan kapan harus mengarahkan setir, mengerem, atau menambah kecepatan. Ketiga, lapisan evaluasi keselamatan Halos.
Ali Kani, VP dan general manager tim otomotif Nvidia, menjelaskan bahwa pendekatan Alpamayo bersifat redundan dan beragam. Stack ini menggabungkan keluarga model AI, dataset, serta perangkat simulasi dan pengembangan untuk membangun perangkat lunak otonom, dengan perangkat lunak klasik yang memakai machine learning serta persepsi kamera dan radar.
“Intinya kami menjalankan dua stack ini pada saat yang sama, dan kami punya sensor multimodal dalam filosofi kami karena produknya jadi lebih aman dengan cara itu,” kata Kani. Ia menambahkan, perangkat lunak Alpamayo yang bersifat open source kini telah diunduh lebih dari 650.000 pengembang.
Yang menarik, konfigurasi ini tidak menyertakan lidar. Volvo membuka kemungkinan menambahkan sensor laser tersebut di masa depan, tetapi rencana itu sempat gagal setelah pemasoknya, Luminar, bangkrut.
Volvo Bawa Reputasi Keselamatan ke Meja Kerja Sama
Volvo tidak hanya menyumbang nama besar. Alwin Bakkenes, head of global software engineering Volvo Cars, menyatakan perusahaan ingin menggabungkan keahlian keselamatan dengan teknologi Nvidia. Salah satu kontribusinya adalah sistem pemahaman pengemudi atau driver-understanding yang menganalisis perilaku pengemudi jauh lebih detail ketimbang sistem pemantauan dasar.
“Brand kami Volvo identik dengan keselamatan, dan keselamatan identik dengan kepercayaan,” ujar Bakkenes. “Orang masuk ke mobil kami tanpa mengharap hal buruk terjadi, tapi mereka merasa secara intrinsik bahwa jika mereka berada dalam situasi sulit, kami akan melakukan yang terbaik untuk menjaga mereka aman.”
Komponen penting lain adalah teknologi connected safety yang memungkinkan kendaraan Volvo bertukar informasi soal bahaya dan kondisi di depan, termasuk pekerjaan jalan. Berbagi informasi ini memperluas kesadaran sistem melampaui jangkauan sensor satu kendaraan, yang berpotensi meningkatkan kemampuan operasional fitur self-driving.
Volvo berencana menyediakan sistem point-to-point ini di seluruh lini kendaraannya, dari versi entry-level hingga model kelas atas. Namun perusahaan belum mengungkap model mana yang akan lebih dulu mendapatkannya. Bakkenes hanya memastikan peluncurannya “sebelum akhir dekade ini”.
Sistem ini akan hadir lewat kendaraan yang benar-benar baru. Bakkenes menyebut mobil pertama dengan stack teknologi Nvidia tersebut akan debut dalam dekade ini dan “kemudian tentu teknologinya bisa melampaui itu”.
Baca Juga:
Standarisasi Hyperion dan Ambisi Tech Stack Penuh
Kemitraan ini bukan hal baru. Volvo dan Nvidia sudah bekerja sama hampir satu dekade, dan seluruh kendaraan listrik baterai Volvo kini memakai chip komputer Orin dari Nvidia untuk memproses informasi dari kamera, radar, dan sensor lain agar kendaraan memahami sekitarnya dan mengambil keputusan berkendara.
Yang berubah adalah cakupannya. Volvo ingin membawa perangkat lunak mengemudi otonom terbaru ke semua kendaraannya, bukan hanya EV. “Yang akan kami lakukan di masa depan adalah menstandardisasi lebih banyak pada Hyperion, juga dari perspektif set sensor, untuk benar-benar membuka stack bagi kemitraan yang lebih luas dengan Nvidia,” ujar Bakkenes.
Ia juga menyoroti pergeseran cara kerja Volvo. “Produsen mobil dulu sangat berbasis pengembangan per lini mobil dan bekerja dengan berbagai pemasok, dan kami telah sepenuhnya berubah dan bermigrasi menjadi perusahaan tech stack penuh,” katanya.
Volvo sendiri tidak mengungkap nilai kemitraan ini maupun model kendaraan mana yang pertama memakai stack teknologi Nvidia tersebut. Bakkenes hanya memberi petunjuk bahwa mobil pertama akan datang “dalam waktu yang tidak terlalu dekat”.
Dari sisi Nvidia, Kani menyoroti implikasi komersialnya. Menurutnya, point-to-point driving bisa jadi lebih bernilai ketimbang sistem yang terbatas pada bantuan di jalan tol. Nvidia melihat kemitraan ini sebagai peluang tidak hanya memajukan teknologi, tetapi juga membantu Volvo mengembangkan model bisnis seputar penawaran berbasis perangkat lunak berkelanjutan.
Kani juga menyebut sistem ini akan menyerupai perangkat Nvidia yang baru-baru ini diluncurkan Mercedes-Benz untuk sedan CLA terbaru, selain mirip dengan Full Self-Driving (Supervised) milik Tesla. Dengan kata lain, Volvo masuk ke wilayah yang sudah lebih dulu dijamah pemain lain.
Namun ada catatan sejarah yang membayangi. Volvo pernah berambisi menambahkan sensor lidar ke sebagian modelnya, tetapi rencana itu hilang setelah Luminar bangkrut. Perusahaan juga harus menyingkirkan sistem Ride Pilot Level 3 unsupervised di AS karena gagal mendapat persetujuan regulator. Ekspansi kemitraan dengan Nvidia ini pun tampak sebagai upaya mengoreksi proyek otonom yang gagal di masa lalu.
Di sisi lain, lini produk Volvo tengah menghadapi dinamika pasar tersendiri. Volvo sempat memangkas proyeksi 2026 setelah penjualan kuartal ketiga anjlok 10,7 persen, sementara model PHEV seperti XC60 dan XC90 mencatat jarak tempuh 78 mil. Ada pula catatan operasional seperti truk listrik Volvo VNR Electric yang dioperasikan City Harvest di Bronx.
Untuk saat ini, yang jelas dari pengumuman ini adalah tiga pilar teknologi Nvidia yang akan dipakai Volvo, target waktu sebelum akhir dekade, serta cakupan yang menyasar seluruh lini kendaraan. Volvo belum menyebut harga, model pertama, maupun nilai kesepakatan. Yang pasti, perusahaan ingin reputasi keselamatannya menjadi pembeda di tengah persaingan sistem mengemudi otonom yang makin ramai.





Komentar
Belum ada komentar.