📑 Daftar Isi

VW Pangkas Setengah Lineup dan Tutup Pabrik Demi Bertahan

VW Pangkas Setengah Lineup dan Tutup Pabrik Demi Bertahan

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Volkswagen Group mengambil langkah restrukturisasi besar-besaran dengan memangkas setengah dari seluruh model globalnya dan menutup sejumlah pabrik domestik di Jerman. Di bawah kepemimpinan CEO Oliver Blume, konglomerat otomotif ini menargetkan pengurangan lineup dari 150 model menjadi hanya 75 model pada tahun 2030.

Keputusan ini menjadi respons atas memburuknya kinerja keuangan perusahaan yang marginnya telah menyusut hingga 3,8 persen. Selain memangkas model, Volkswagen juga menurunkan kapasitas produksi dari 11 juta unit pada 2019 menjadi sekitar 9 juta unit, sebuah angka yang setara dengan menghapus seluruh produksi tahunan BMW Group dalam semalam.

Pabrik yang Terancam dan Nasib SEAT

Dampak paling menyakitkan bagi industri otomotif Jerman adalah rencana penutupan hingga empat pabrik dalam negeri. Fasilitas yang masuk daftar terancam meliputi pabrik di Emden, Hanover, Zwickau yang menjadi andalan kendaraan listrik, serta markas bersejarah Audi di Ingolstadt.

Zwickau menjadi sorotan karena fasilitas tersebut sebelumnya dirombak dengan investasi miliaran untuk memimpin revolusi baterai-listrik Volkswagen. Sementara itu, kabar dari Ingolstadt menyebutkan pabrik tersebut berpotensi dipecah atau bahkan dijual kepada XPeng, mitra asal China yang sahamnya baru saja dibeli Volkswagen untuk memperbaiki posisi perangkat lunaknya.

Selain penutupan pabrik, Volkswagen juga secara resmi akan menghentikan merek SEAT. Anak perusahaan asal Spanyol yang telah beroperasi selama tiga dekade ini akan dipensiunkan untuk memberi ruang bagi Cupra, merek turunannya yang dinilai berhasil meningkatkan harga transaksi dan menghasilkan margin yang sehat.

Baca Juga:

Langkah efisiensi juga menyentuh konfigurator produk yang selama ini menjadi mimpi buruk. Di seluruh lini Audi, Bentley, dan Lamborghini, Volkswagen tercatat membangun 2.600 konfigurasi kursi berbeda. Jumlah ini akan dipangkas drastis menjadi sekitar 100 konfigurasi saja.

Bahkan Audi, yang dijuluki Four Rings, mengakui memiliki 100 desain roda kemudi berbeda yang akan dipangkas menjadi hanya lima desain. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh bos Audi, Gernot Döllner, yang menyebut kompleksitas tersebut sebagai labirin desain yang tidak efisien.

Penyebab Utama dan Konsensus Politik

Akar masalah restrukturisasi ini adalah merosotnya pendapatan Volkswagen dari China, yang selama ini menjadi sumber keuangan utama Wolfsburg. Produsen mobil domestik China telah melesat dengan cockpit yang terhubung, perangkat lunak otonom native, dan harga agresif yang dengan cepat menggerus pangsa pasar produsen Barat.

Kondisi ini memaksa Volkswagen mengirim kendaraan buatan China kembali ke Eropa, seperti Cupra Tavascan yang dirakit di Anhui. Di sisi lain, kegagalan perangkat lunak Cariad yang menunda peluncuran Porsche Macan listrik dan Audi Q6 e-tron masih menjadi luka yang belum sembuh.

Yang membuat langkah ini semakin signifikan adalah adanya konsensus politik di balik keputusan tersebut. Dalam model korporasi Jerman yang menganut co-determination, setengah kursi Dewan Pengawas diisi oleh bos serikat pekerja dan pejabat negara dari Lower Saxony. Normalnya, rencana penutupan pabrik akan memicu pemogokan nasional, tetapi kenyataannya rencana ini disetujui tanpa perlawanan berarti.

Serikat pekerja tampaknya memahami bahwa mempertahankan kapasitas produksi berlebih hanya akan membawa kedua belah pihak menuju kebangkrutan bersama. Fakta bahwa rencana ini disahkan tanpa kerusuhan menunjukkan semua pihak di ruang rapat melihat jurang yang menganga di depan mereka.

Namun, ada ironi yang tidak bisa dihindari dalam situasi ini. Para pembuat kebijakan Eropa selama berbulan-bulan menyerang Beijing dengan memberlakukan tarif tinggi pada kendaraan listrik impor China dengan dalih subsidi negara. Padahal, dalam 25 tahun terakhir, Volkswagen Group telah menerima lebih dari €45 miliar bantuan pemerintah, keringanan pajak, dan subsidi negara di berbagai negara tempat mereka beroperasi.

Dana publik tersebut mencapai sekitar 25 persen dari total laba kumulatif grup selama periode itu. Bantuan ini diberikan dengan janji eksplisit untuk menciptakan dan melindungi lapangan kerja domestik, namun kini kita menyaksikan siklus yang sama berulang: menikmati subsidi untuk ekspansi berlebihan, panik saat koreksi pasar, menutup pabrik, dan kemudian kembali mengantre untuk subsidi baru.

Keputusan Volkswagen untuk menghilangkan 75 model yang tidak produktif dan membuang desain roda kemudi yang redundan adalah langkah efisiensi yang seharusnya dilakukan lima tahun lalu. Namun, memangkas cabang yang mati tidak akan menyelamatkan pohon jika tanahnya sudah lelah.

Neraca keuangan yang lebih ramping saja tidak cukup. Volkswagen membutuhkan kembali jati dirinya untuk membangun mobil yang dibeli orang karena benar-benar menginginkannya, bukan karena manajer armada perusahaan mendapatkan diskon grosir. Jika Oliver Blume berhasil membangun mobil listrik dengan semangat dan presisi yang sama seperti Golf GTI, Volkswagen akan selamat dari badai ini.

Namun jika gagal, kerajaan otomotif paling tangguh di dunia ini akan belajar bahwa menyusut setengah hanyalah bab pertama dari kemundurannya. Perjalanan restrukturisasi ini tentu menarik untuk diikuti, termasuk perkembangan model terbaru seperti SUV listrik baru Volkswagen dan EV pertama di platform CMP-Xpeng yang menunjukkan arah baru perusahaan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.