Telset.id – Ledakan jumlah game mobile yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) ternyata tidak serta merta menguntungkan para pengembang indie. Data terbaru menunjukkan bahwa kesenjangan pendapatan antara pengembang kecil dan raksasa industri semakin melebar, bukan menyempit.
Riset dari perusahaan ATTN Economy mengungkapkan bahwa sebanyak 181.000 game mobile diluncurkan dalam enam bulan hingga Mei 2026. Angka ini melonjak 118% di iOS dan 73% di Android dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan besar ini sebagian besar dipicu oleh tren vibe-coding, di mana orang tanpa latar belakang programming bisa menggunakan alat AI untuk membuat dan merilis game tanpa menulis kode secara manual.
Meskipun hambatan untuk masuk ke industri game semakin rendah, keuntungan finansial masih dinikmati oleh pihak yang sama. Mantan eksekutif studio game mobile asal Prancis, Voodoo, mengungkapkan kepada Financial Times bahwa AI hanya memangkas waktu pengembangan game dari sekitar 14 hari menjadi 10 hari. Penghematan ini memang berguna, tetapi jauh dari prediksi transformasi industri yang sempat digembar-gemborkan.
Data lebih lanjut menunjukkan bahwa 1% penerbit game teratas menguasai pendapatan sebesar USD 75,6 miliar pada tahun 2025. Sementara itu, 99% penerbit lainnya hanya berbagi sisa pendapatan sebesar USD 6,1 miliar. Kelompok elit tersebut juga menguasai hampir 80% dari seluruh unduhan game di seluruh dunia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun vibe-coding memudahkan pendatang baru untuk membuat game, perusahaan game besar masih memiliki terlalu banyak modal, bakat, dan data pemain selama puluhan tahun. Kombinasi ini membuat mereka hampir mustahil untuk digeser.
Baca Juga:
Kehadiran AI yang memicu produksi game lebih cepat dan lebih banyak ternyata datang dengan biaya tersembunyi. Laporan dari GDC Festival of Gaming mengungkapkan bahwa satu dari empat karyawan game telah di-PHK dalam dua tahun terakhir. Sentimen di dalam industri juga berubah drastis, dengan 52% profesional game kini menganggap AI generatif sebagai sesuatu yang berbahaya, naik tajam dari hanya 18% pada tahun 2024.
Booming game yang dipicu AI memang nyata, tetapi ketegangan di bawah permukaannya juga tidak bisa diabaikan. AI mungkin mampu memproduksi lebih banyak game, tetapi teknologi ini belum bisa meniru insting manusia yang membuat sebuah game terasa istimewa. Bagi pengguna, ini berarti lebih banyak pilihan, tetapi belum tentu kualitas yang lebih baik.





Komentar
Belum ada komentar.