Steam Deck OLED Limited Edition White dengan harga baru yang naik signifikan

Harga Steam Deck OLED Naik Drastis Akibat Krisis RAM Global

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Harga Steam Deck OLED naik signifikan: varian 512GB dari USD 549 menjadi USD 789, varian 1TB dari USD 649 menjadi USD 949
  • Valve mengaku kenaikan harga karena kondisi harga komponen dan tantangan logistik global
  • Steam Deck OLED rekondisi juga naik: 512GB USD 629, 1TB USD 759
  • Steam Deck LCD rekondisi tetap stabil mulai USD 279
  • Krisis RAM global juga berdampak pada Xbox, PlayStation, dan Nintendo
  • Kenaikan harga Steam Deck OLED terbesar dibanding konsol lain
  • Gamer khawatir harga Steam Machine yang akan datang lebih mahal

Telset.id – Setelah stoknya kosong selama berbulan-bulan sejak Februari 2026, Steam Deck OLED akhirnya tersedia kembali. Namun, kabar buruknya, Valve menaikkan harga konsol genggam ini secara signifikan akibat krisis memori global yang melanda industri.

Valve mengumumkan bahwa varian Steam Deck OLED dengan storage 512GB yang sebelumnya dibanderol USD 549 (sekitar Rp 9,8 jutaan) kini melonjak menjadi USD 789 (sekitar Rp 14 jutaan). Sementara itu, varian 1TB yang semula dijual USD 649 (Rp 11,6 jutaan) kini naik menjadi USD 949 (Rp 16,9 jutaan). Kenaikan ini merupakan yang tertinggi dibandingkan konsol lain di pasaran.

“Harga baru ini mencerminkan kondisi terkini harga komponen dan tantangan logistik global lainnya di seluruh industri secara keseluruhan,” kata Valve dalam pengumuman resminya, seperti dikutip dari IGN, Jumat (29/5/2026).

Steam Deck OLED: Limited Edition White

Kenaikan harga juga terjadi pada versi rekondisi yang dijual melalui Steam. Steam Deck OLED rekondisi varian 512GB kini dibanderol USD 629, sementara varian 1TB dijual seharga USD 759. Menariknya, Steam Deck LCD versi rekondisi tidak mengalami kenaikan harga dan masih tersedia mulai dari USD 279 untuk storage 64GB.

## Dampak Krisis Memori Global

Fenomena ini tidak hanya menimpa Valve. Tiga pemain besar lainnya di industri gaming—Xbox, PlayStation, dan Nintendo—juga menaikkan harga konsolnya. Namun, kenaikan harga Steam Deck OLED saat ini paling besar dibandingkan konsol lainnya. Sebagai perbandingan, harga PlayStation 5 reguler kini USD 150-200 lebih mahal dari harga saat diluncurkan tahun 2020. Sementara Nintendo Switch 2 yang belum genap setahun dirilis sudah naik USD 50.

Krisis RAM global yang menjadi penyebab utama kenaikan ini membuat harga komponen memori melambung tinggi. Akibatnya, produsen perangkat elektronik, termasuk konsol game, terpaksa menyesuaikan harga jual produk mereka. Harga baru Steam Deck OLED ini terasa berat mengingat usia konsol yang sudah tiga tahun. Biasanya, harga perangkat elektronik cenderung turun seiring waktu, bukan sebaliknya.

Para gamer pun mulai khawatir dengan masa depan Steam Machine, perangkat yang dijadwalkan meluncur tahun ini. Valve belum mengumumkan harga resmi Steam Machine, tetapi banyak yang cemas harganya akan lebih mahal dibandingkan PC gaming.

## Implikasi bagi Industri Gaming

Krisis harga komponen ini diprediksi akan berlangsung dalam jangka pendek hingga menengah. Meskipun Valve bukan satu-satunya yang menaikkan harga, besaran kenaikan Steam Deck OLED menjadi sorotan. Bagi konsumen yang sudah menanti restock, kenaikan ini tentu mengecewakan. Namun, bagi yang belum memiliki konsol genggam ini, mungkin perlu mempertimbangkan ulang anggaran.

Valve sendiri belum memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai apakah harga akan kembali normal setelah krisis memori mereda. Yang jelas, situasi ini menjadi pengingat bahwa rantai pasok global yang rapuh bisa berdampak langsung ke kantong konsumen.

Bagi para penggemar game yang ingin tetap update dengan Fitur Terbaru di dunia teknologi, penting untuk terus memantau perkembangan ini. Sementara itu, Harga Terbaru perangkat lain juga patut diperhatikan karena tren kenaikan harga mungkin berlanjut.

Kesimpulannya, kenaikan harga Steam Deck OLED ini adalah cerminan nyata dari tekanan inflasi komponen global. Meski Valve berusaha menjelaskan dengan alasan logistik dan harga komponen, konsumen mungkin harus bersiap dengan harga yang lebih tinggi untuk produk teknologi di masa mendatang.

Komentar

Belum ada komentar.