Dylan berjalan melalui Manhattan yang terdistorsi dalam game Control Resonant.

Komposer Control Resonant Tolak Tiru Inception demi Dylan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Komposer Control Resonant, Petri Alanko, menolak meniru Inception karena dinilai "tacky" dan mereduksi konsep Remedy
  • Alanko merasa lega keluar dari setting The Oldest House dan beralih ke Manhattan yang "nightmarish"
  • Skala bangunan menjadi inspirasi untuk menggambarkan Dylan sebagai sosok yang "irreplaceable"
  • Track "Tabula Rasa" menggambarkan Dylan sebagai "blank slate" yang harus pulih menjadi manusia
  • Control Resonant sudah dapat dimainkan di PS5, Xbox Series X, Series S, dan PC

Telset.id – Komposer Control Resonant, Petri Alanko, memilih untuk tidak meniru film Inception dalam menggarap soundtrack game tersebut. Ia menilai meniru karya Christopher Nolan itu akan menjadi “tacky” dan justru “mereduksi konsep Remedy” menjadi sesuatu yang kurang berharga.

Pernyataan ini muncul di tengah perubahan besar yang dihadirkan Control Resonant, yang kini mengambil latar Manhattan yang terdistorsi, berbeda jauh dari setting interior The Oldest House di game pertama. Menurut Alanko, keputusan meninggalkan The Oldest House membawa kelegaan tersendiri bagi proses kreatifnya. Lingkungan baru yang disebutnya “nightmarish” itu menjadi pijakan utama dalam menyusun pendekatan musik untuk sekuel ini.

Alanko menjelaskan bahwa ia berusaha keras menghindari pengulangan Inception. “Itu akan terasa agak tacky dan akan mereduksi konsep Remedy menjadi sesuatu yang kurang berharga,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dirinya secara pribadi tidak percaya pada praktik mereplikasi atau mengulang, meski dalam kasus langka sebuah penghormatan bisa jadi pantas. Namun, menurutnya, kasus seperti itu memang sangat sedikit.

Perubahan setting ini juga disebut Alanko membawa kelegaan. Ia menyebut skala bangunan-bangunan dalam lingkungan baru tersebut menjadi sumber inspirasi, terutama saat harus menggambarkan Dylan di dalam dunia yang begitu besar. “Sangat melegakan bahwa kami keluar dari The Oldest House dan menggunakan lingkungan mirip Manhattan yang nightmarish sebagai setting game,” kata Alanko.

Dylan walking through a warped Manhattan in Control Resonant.

Alanko menggambarkan lingkungan baru itu sebagai sesuatu yang “indah, epik, bahkan megah.” Menurutnya, ada jauh lebih banyak hal dalam pemandangan tersebut selain sekadar bangunan. Yang menjadi inti adalah soal skala dan perasaan, yaitu perasaan menjadi kecil dan tergantikan. Dari sana muncul pertanyaan bagaimana merepresentasikan Dylan agar terasa bahwa ia tidak tergantikan. Hal itulah yang menjadi tulang punggung bagi karya-karya terkait Dylan dalam game ini.

Ia juga menyebut bahwa “mengaksentuasi titik awal Dylan” merupakan titik mula dalam mengonseptualisasi musik, dan menjadi salah satu hal pertama yang ia kerjakan. Menurut Alanko, karena Dylan adalah “blank slate,” hal itu membantu merumuskan track yang menyertai perjalanan karakter tersebut.

“Dylan adalah blank slate, sebuah tabula rasa, dan ia harus pulih serta menjadi pertama-tama seorang manusia, lalu sesuatu yang lain,” jelas Alanko. Dari konsep itu lahir sifat harmoni yang menurun dalam track berjudul “Tabula Rasa” serta perkusi yang berdentang. Menurutnya, ini adalah introduksi untuk Dylan dan Hedron, secara sederhana mirip sebuah overture konser.

Alanko menambahkan bahwa orang bisa dengan mudah menganggap suara beriak dan bising menjelang akhir track tersebut merepresentasikan pernapasan, atau bernapas kembali setelah koma, baik untuk protagonis maupun antagonis. Ia ingin mengekspresikan kerapuhan dan betapa rapuhnya Dylan sebenarnya, dari titik awal yang begitu kecil hingga tempat ia berakhir.

Jesse and Dylan in Control Resonant.

Sebelumnya, Alanko juga pernah mengungkapkan bahwa inspirasinya datang dari concept art. Menurutnya, concept art memunculkan “melodi” dan “sebuah perasaan.” Ia menyebut kemampuan “mendengar” gambar atau synesthesia sebagai alat utamanya di titik nol.

Dalam penggarapan musik atmosferik Remedy, Alanko mengatakan bahwa ia merekam suara-suara pada “basis harian” yang nantinya ia manipulasi menjadi harmoni. Prinsipnya sederhana: semakin aneh, semakin baik.

Ia juga menyatakan bahwa merupakan tugasnya untuk “merepresentasikan cerita,” namun kadang ia menawarkannya “dalam cahaya berbeda,” karena bertentangan dengan peristiwa di layar bisa menjadi hal yang sangat lezat.

Sebagai informasi, Control Resonant kini sudah dapat dimainkan di PlayStation 5, Xbox Series X, Series S, dan PC. Kehadiran game ini menambah daftar panjang rilisan yang mengandalkan controller sebagai perangkat utama, seiring dengan berbagai inovasi perangkat gaming yang terus bermunculan.

A screenshot from the game Control Resonant showing Dylan Faden, The Hiss, the warped streets of Manhattan, and active combat

Pendekatan Alanko menunjukkan bahwa perubahan setting tidak hanya berdampak pada desain level dan narasi, tetapi juga pada cara musik dibangun. Keputusan untuk tidak meniru Inception menjadi penanda bahwa Remedy ingin mempertahankan identitas konsepnya sendiri, alih-alih mengikuti referensi visual yang sudah dikenal luas.

Bagi para pemain yang mengikuti perjalanan Dylan, musik dalam Control Resonant menjadi elemen yang menyertai transformasi karakter tersebut dari titik terendahnya. Alanko secara eksplisit menyebut bahwa ia ingin mengekspresikan kerapuhan Dylan, dan hal itu terwujud melalui pilihan harmoni serta tekstur suara yang ia susun.

Dengan lingkungan Manhattan yang terdistorsi sebagai panggung utama, Control Resonant menawarkan pengalaman yang berbeda dari game pertama. Alanko memastikan bahwa pendekatan musiknya berangkat dari konsep dan perasaan yang muncul dari pemandangan tersebut, bukan dari meniru karya lain.

[ META_DESCRIPTION]
Komposer Control Resonant, Petri Alanko, menolak meniru Inception dan memilih fokus pada karakter Dylan dalam soundtrack game berlatar Manhattan terdistorsi ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.