Koleksi game fisik dalam rak penyimpanan arsip video game ICS Jerman

Proyek Arsip Game Terbesar Jerman Tutup Akibat Dana Habis

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Proyek arsip game ICS Jerman resmi ditutup setelah pendanaan €1,5 juta habis
  • Pemerintah federal Jerman menolak memperpanjang pendanaan karena dianggap tidak layak ekonomi
  • Lebih dari 60.000 judul game dalam berbagai format fisik terancam kehilangan akses publik
  • Database online yang diluncurkan 2019 kini nasibnya dalam tinjauan hukum dan teknis
  • Penutupan bertepatan dengan rencana Sony menghentikan produksi cakram fisik PlayStation pada 2028
  • Studi menunjukkan 87% game klasik AS sudah tidak tersedia secara komersial
  • Komunitas penggemar dan arsiparis digital terus berjuang melestarikan game secara mandiri

Telset.id – Proyek ambisius arsip video game terbesar di dunia, Internationale Computerspielesammlung (ICS) di Jerman, resmi ditutup setelah pendanaan publik sebesar €1,5 juta habis pada akhir April lalu. Pemerintah federal Jerman memutuskan untuk tidak memperpanjang pendanaan tersebut, sehingga masa depan database berisi lebih dari 60.000 judul game kini berada dalam ketidakpastian.

Keputusan ini diambil setelah para pemegang saham proyek memberikan suara bulat untuk menghentikan operasional ICS. Seperti dilaporkan oleh GamesWirtschaft pada 3 Juli, langkah ini diambil setelah Kementerian Riset, Teknologi, dan Luar Angkasa Federal Jerman (BMFTR) menyimpulkan bahwa pendanaan institusional permanen tidak layak secara ekonomi mengingat skala pekerjaan yang diperlukan. Sebelumnya, senator ekonomi Berlin, Franziska Giffey, telah memperingatkan bahwa dukungan setelah April tidak dijamin.

ICS bukanlah sekadar koleksi game biasa. Sejak 2012, proyek ini mengumpulkan lebih dari 60.000 game dalam berbagai format fisik, mulai dari cartridge, floppy disk, CD, DVD, hingga Blu-ray. Koleksinya juga mencakup buku panduan, kemasan, dan perangkat keras. Proyek ini merupakan kolaborasi antara USK (otoritas rating game Jerman), Computerspielemuseum Berlin, asosiasi industri Game, dan Universitas Potsdam. Katalog online publiknya sendiri baru diluncurkan pada April 2019 dengan puluhan ribu entri.

Dengan ditutupnya ICS, aset fisik tetap berada di tangan institusi yang memilikinya. Namun, nasib database bersama dan infrastruktur digitalnya masih dalam tinjauan hukum dan teknis. Ini menjadi pukulan telak bagi upaya pelestarian sejarah video game di Jerman dan dunia.

Penutupan ICS terjadi di saat yang krusial bagi industri pelestarian game. Keputusan ini bertepatan dengan konfirmasi Sony bahwa mereka akan menghentikan produksi cakram fisik PlayStation pada tahun 2028. Langkah ini tentu akan semakin mempersulit upaya pengarsipan di masa depan.

Situasi ini juga memperkuat temuan studi tahun 2023 oleh Video Game History Foundation dan Software Preservation Network. Studi tersebut mengungkapkan bahwa 87% game klasik yang dirilis di Amerika Serikat sudah tidak lagi dicetak dan tidak tersedia secara komersial. Tingkat kelangsungan hidup game-game ini bahkan disebut lebih rendah dibandingkan film bisu Amerika.

Di sisi lain, upaya pelestarian oleh komunitas penggemar juga menghadapi tantangan berat. Myrient, sebuah repositori yang menyimpan lebih dari 385 TB game yang diawetkan, nyaris offline pada awal 2026 karena kenaikan harga RAM, SSD, dan hard drive yang dipicu oleh permintaan AI. Beruntung, para relawan berhasil mencadangkan seluruh koleksi tersebut.

Sementara itu, di Amerika Serikat, Kantor Hak Cipta AS untuk keempat kalinya sejak 2015 menolak memberikan pengecualian DMCA yang memungkinkan perpustakaan berbagi game yang diawetkan dengan peneliti jarak jauh. Keputusan ini diambil dengan berpihak pada Entertainment Software Association, menunjukkan betapa rumitnya masalah hak cipta dalam upaya pelestarian game.

Penutupan ICS menjadi pengingat akan kerentanan upaya pelestarian sejarah digital yang bergantung pada pendanaan publik. Dengan semakin banyaknya game yang beralih ke format digital murni dan produksi fisik yang dihentikan, risiko kehilangan warisan budaya video game semakin nyata. Tanpa dukungan berkelanjutan, database berharga yang berisi puluhan ribu judul game ini bisa lenyap selamanya.

Atari Gamestation Go dapat menjalankan game dari sistem lain jika dimuat ke kartu SD

Keputusan pemerintah Jerman untuk tidak memperpanjang pendanaan ICS menunjukkan bahwa pelestarian game masih belum dianggap sebagai prioritas budaya yang membutuhkan investasi jangka panjang. Ini menjadi ironi di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan digital untuk generasi mendatang.

RPCS3

Koleksi ICS yang mencakup lebih dari 60.000 judul seharusnya menjadi sumber daya yang tak ternilai bagi peneliti, sejarawan, dan penggemar game. Namun, tanpa infrastruktur yang stabil, akses terhadap koleksi ini kini terancam. Para pemangku kepentingan masih mencari solusi untuk menyelamatkan database tersebut, meskipun prospeknya masih belum jelas.

Penutupan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan proyek serupa di negara lain. Jika Jerman yang memiliki sumber daya dan komitmen terhadap budaya saja kesulitan mempertahankan arsip game, bagaimana dengan negara-negara lain yang mungkin memiliki prioritas berbeda?

Sementara itu, komunitas pelestarian game terus berjuang dengan berbagai cara. Beberapa arsiparis digital berlomba menyelamatkan data game PS3 sebelum Sony menutup tokonya secara permanen pada tahun 2027. Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan besar, semangat untuk melestarikan sejarah game masih hidup.

GitHub CD-ROM

Kisah ICS menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya model pendanaan yang berkelanjutan untuk proyek pelestarian budaya digital. Tanpa jaminan pendanaan jangka panjang, upaya sekelas ICS pun bisa berakhir sebelum waktunya, meninggalkan warisan digital yang tidak lengkap bagi generasi mendatang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.