📑 Daftar Isi

Ilustrasi perangkat keras komputer yang digunakan untuk cheat DMA di Valorant

Riot Bantah Vanguard Rusak PC, Beri Klarifikasi Anti-Cheat

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Riot Games membantah klaim Vanguard dapat membrick PC hacker
  • Kontroversi bermula dari unggahan foto perangkat keras cheat dengan caption provokatif
  • Vanguard adalah kernel-level anti-cheat yang memerlukan akses sistem tingkat tinggi
  • Pembaruan terbaru menargetkan serangan DMA yang sulit dideteksi
  • Riot berkomitmen terus berinvestasi dalam anti-cheat untuk integritas kompetitif

Telset.id – Riot Games secara resmi membantah klaim bahwa alat anti-cheat Vanguard terbaru mereka dapat merusak atau “membrick” komputer milik hacker. Klarifikasi ini dikeluarkan setelah unggahan media sosial perusahaan memicu kontroversi besar di kalangan gamer dan pegiat keamanan siber.

Kontroversi bermula dari pembaruan Vanguard yang dirilis pekan lalu oleh pengembang “Valorant” dan “League of Legends”. Pembaruan ini menargetkan serangan direct memory access (DMA), sebuah metode cheat yang sangat sulit dideteksi karena menggunakan perangkat eksternal untuk menulis langsung ke RAM komputer. Menanggapi postingan tentang langkah anti-cheat barunya, akun media sosial Riot mengunggah gambar sekumpulan perangkat keras komputer yang menyerupai barang bukti penggerebekan narkoba. Gambar tersebut disertai dengan keterangan provokatif: “congrats to the owners of a brand new $6k paperweight.”

Unggahan tersebut ternyata menjadi bumerang bagi Riot. Postingan yang dimaksudkan sebagai lelucon itu ditafsirkan sebagai pengakuan bahwa Riot kini memiliki kemampuan untuk merusak komputer pemain dari jarak jauh. Hal ini memicu gelombang kemarahan yang begitu besar sehingga perusahaan terpaksa bergerak cepat untuk meredam amarah publik.

“Ada gelombang klaim oleh cheater tentang Vanguard yang ‘membrick’ PC mereka, jadi mari kita luruskan: Vanguard tidak merusak perangkat keras atau menonaktifkan perangkat Anda,” tulis Riot dalam pernyataan panjang di X kurang dari sehari kemudian. “Foto yang kami unggah adalah gambar perangkat keras cheat yang dijual secara eksplisit untuk kecurangan di VALORANT (bukan PC normal atau komponen PC). Melalui pembaruan terbaru kami, Vanguard kini membuat perangkat tersebut tidak berguna untuk VAL, tetapi sama sekali tidak membrick PC, komponen PC, atau perangkat lunak PC.”

A tweet by Riot that reads congrats to the owners of a brand new $6k paperweight. With it is a photo of multiple disassembled computer graphics cards and hardware components spread across a table and the floor, alongside a monitor and some office furniture.

Kontroversi Vanguard yang Tak Kunjung Reda

Reaksi keras ini mencerminkan betapa kontroversialnya perangkat lunak Vanguard milik Riot, bahkan bertahun-tahun setelah pertama kali dirilis pada tahun 2020. Vanguard adalah apa yang disebut sebagai kernel-level anti-cheat, yang memerlukan akses tingkat tertinggi ke bagian sistem operasi tempat proses paling krusial berjalan—sebuah hak istimewa yang tidak diminta oleh sebagian besar perangkat lunak.

Meskipun hal ini membuat Vanguard sangat mahir dalam memberantas cheat yang berjalan di sistem seseorang, di mata para kritikus, hal ini juga membuatnya sangat invasif. Selain potensi masalah privasi, banyak pengguna yang mengeluh bahwa Vanguard menyebabkan berbagai gangguan teknis pada mesin mereka, meskipun tidak mungkin untuk memverifikasi semua klaim tersebut.

Sayangnya bagi Riot, kritik tersebut tidak akan mereda setelah pembaruan DMA terbaru dan postingan bencana yang menyertainya. Dan sayangnya bagi mereka yang skeptis terhadap Vanguard, Riot tetap pada pendiriannya untuk menggunakan pendekatan kernel-level.

“Kami akan terus berinvestasi dalam anti-cheat untuk melindungi integritas kompetitif, dan kami akan terus setransparan mungkin tentang bagaimana sistem tersebut bekerja,” kata perusahaan dalam pernyataannya.

Dalam konteks yang lebih luas, Riot Games sebelumnya juga menghadapi berbagai tantangan, termasuk PHK massal yang mempengaruhi 11% karyawan dan imbasnya pada Riot Forge. Perusahaan juga pernah menjadi target serangan siber yang menyebabkan penundaan pembaruan Valorant.

Implikasi bagi Komunitas Gaming

Insiden ini menunjukkan betapa sensitifnya isu keamanan siber di kalangan gamer. Kekhawatiran tentang privasi dan potensi kerusakan sistem menjadi isu utama yang harus dihadapi Riot. Meskipun perusahaan telah memberikan klarifikasi, kepercayaan sebagian komunitas mungkin telah tergerus.

Riot juga tengah mengembangkan berbagai inisiatif untuk meningkatkan pengalaman bermain, termasuk pemantauan voice chat untuk memerangi pemain toxic dan mode kompetitif baru bernama Valorant Premier. Selain itu, perusahaan juga mengklaim telah menuntaskan class action terkait tuduhan seksisme.

Ke depannya, Riot harus lebih berhati-hati dalam mengkomunikasikan kebijakan anti-cheat mereka. Keseimbangan antara keamanan yang ketat dan kepercayaan pengguna akan menjadi kunci keberhasilan Vanguard dalam jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar.