📑 Daftar Isi

Pilot mendekati pesawat luar angkasa sementara pesawat lain lepas landas di Star Citizen

Star Citizen Raup Rp16 Triliun, Masih Alpha Setelah 9 Tahun

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Star Citizen mengumpulkan dana lebih dari USD1 miliar (Rp16 triliun) dari 6,5 juta pendukung
  • Game masih dalam status alpha setelah hampir sembilan tahun sejak akses awal 2017
  • Awalnya hanya target USD500.000 di Kickstarter 2012, berhasil kumpulkan USD2,1 juta
  • CEO Chris Roberts sebut model crowdfunding tanpa publisher tradisional adalah kunci
  • Spin-off Squadron 42 masih dalam tahap akhir tanpa tanggal rilis pasti
  • Game ini menjadi proyek game termahal dalam sejarah berdasarkan pendanaan publik

Telset.id – Game ambisius Star Citizen resmi mencatatkan pendanaan lebih dari USD1 miliar (sekitar Rp16 triliun) dari lebih dari 6,5 juta pendukung, namun hingga tahun 2026 ini game tersebut masih bertahan dalam status alpha setelah hampir sembilan tahun dirilis dalam akses awal.

Angka fantastis tersebut menjadikan Star Citizen sebagai salah satu proyek game termahal dalam sejarah industri video game. Pendanaan sebesar USD1 miliar ini dikumpulkan Cloud Imperium Games tanpa keterlibatan penerbit besar tradisional, melainkan murni dari crowdfunding dan penjualan paket kapal luar angkasa virtual.

Proyek yang pertama kali muncul pada 2012 melalui kampanye Kickstarter ini awalnya hanya menargetkan dana sebesar USD500.000. Namun, para pendukung justru memberikan lebih dari USD2,1 juta dalam kampanye tersebut, sementara kampanye terpisah di waktu yang sama berhasil mengumpulkan USD4,1 juta. Rekor crowdfunding dunia pun berhasil dipecahkan pada 2014 setelah pendanaan menembus USD55 juta.

Pada saat Star Citizen dirilis dalam akses awal pada 2017, studio telah mengantongi lebih dari USD170 juta. Kini, angka tersebut telah membengkak hingga menembus USD1 miliar, menjadikannya game termahal sepanjang sejarah dalam hal pendanaan yang terkonfirmasi publik.

Filosofi Pengembangan Tanpa Batas Waktu

Direktur game sekaligus CEO Cloud Imperium, Chris Roberts, mengungkapkan bahwa pendekatan pengembangan yang tidak biasa ini justru menjadi kekuatan utama proyek. Dalam wawancara dengan Variety, Roberts menjelaskan bahwa model pendanaan tradisional dari penerbit besar biasanya tidak memiliki kesabaran untuk proyek sebesar ini.

“Ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan di bawah pendanaan penerbit game besar tradisional, atau private equity. Mereka biasanya tidak punya waktu dan kesabaran, tapi dengan apa yang kami lakukan, orang-orang hanya ingin melihat dunia terbesar dan terbaik yang mungkin ada, dan mereka menyukai ide dari mimpi itu,” ujar Roberts.

Ia menambahkan bahwa seiring berjalannya waktu dan para pendukung melihat lebih banyak perkembangan, keyakinan mereka justru semakin menguat. Roberts juga mengakui bahwa perjalanan pengembangan masih panjang, bahkan setelah versi 1.0 resmi dirilis nanti.

“Saya sangat percaya bahwa kami masih punya waktu yang lama, bahkan setelah kami merilis apa yang kami sebut 1.0, dan kami tidak lagi menganggapnya sebagai alpha, bahwa kami akan terus menambah dan membangun alam semesta dan dunia ini,” jelas Roberts.

Squadron 42 Masih dalam Tahap Akhir

Selain game utamanya, spin-off pemain tunggal berjudul Squadron 42 juga masih dalam pengembangan. Menurut situs resmi game tersebut, Squadron 42 masih dijadwalkan rilis tahun ini setelah mengalami beberapa kali penundaan. Namun, Cloud Imperium belum mengumumkan tanggal rilis yang pasti.

Roberts menggambarkan Squadron 42 sebagai pengalaman sinematik yang ambisius. “Pitch saya pada dasarnya adalah, Anda adalah bintang dari film blockbuster acara besar ini, dan ini berjalan mulus antara penceritaan dan momen sinematik hingga Anda yang memegang kendali,” kata Roberts.

Ia menambahkan bahwa game tersebut memiliki level detail, skala, dan cakupan yang tidak biasa ditemukan di game lain. “Ini terasa cukup epik. Saya sangat bersemangat ketika orang-orang—karena kami sekarang berada di akhir, kami berada di tahap penutupan dan semuanya berjalan sangat baik,” pungkas Roberts.

Sementara itu, dunia teknologi juga mencatat pencapaian ambisius lainnya seperti uji terbang Starship V3 yang berhasil dilakukan SpaceX di Texas. Perusahaan antariksa milik Elon Musk itu juga sukses melakukan uji terbang perdana Starship V3 yang sebagian besar berhasil.

Implikasi Model Pendanaan Crowdfunding

Keberhasilan Star Citizen mengumpulkan USD1 miliar dari lebih dari 6,5 juta orang menunjukkan bahwa model pendanaan berbasis komunitas dapat bersaing dengan pendanaan tradisional, setidaknya dalam skala tertentu. Namun, status alpha yang masih berlangsung setelah hampir sembilan tahun juga memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan model ini.

Dengan total pendanaan yang telah menembus angka Rp16 triliun, Star Citizen kini menjadi tolok ukur baru dalam industri game, baik dari segi ambisi maupun risiko. Para pendukung terus menunggu kapan game ini akhirnya mencapai status rilis penuh.

Di sisi lain, industri game juga menyaksikan fenomena menarik lainnya seperti Rune Factory 4 Special, RPG 150 jam yang mirip Stardew Valley dan telah tersedia di layanan PS Plus, menunjukkan bahwa game dengan skala lebih kecil pun tetap memiliki pangsa pasar yang kuat.

Komentar

Belum ada komentar.