Telset.id – Samsung memperkenalkan fitur baru untuk Galaxy Watch yang dirancang melindungi pekerja di lingkungan bersuhu ekstrem. Tidak seperti peringatan duduk terlalu lama pada smartwatch biasa, sistem ini secara spesifik memantau dan memperingatkan bahaya stres panas (heat stress) pada pekerja lapangan.
Fitur ini merupakan peningkatan dari sistem Heat Stress Management System yang dikembangkan Samsung bersama Kementerian Ketenagakerjaan dan Tenaga Kerja Korea Selatan. Sistem ini mengandalkan Galaxy Watch berbasis LTE dan platform SmartThings Pro untuk memantau pekerja di luar ruangan selama musim panas ekstrem.
Sistem menggabungkan data lingkungan seperti suhu dan kelembaban tempat kerja dengan data biometrik dari jam tangan, termasuk detak jantung dan aktivitas fisik. Dengan pendekatan ini, sistem dapat memprediksi kapan panas mulai berbahaya bagi setiap pekerja secara individual, bukan hanya mengandalkan satu angka suhu untuk semua orang.
Implementasi perdana sistem ini dilakukan di lokasi pembangunan jalur produksi semikonduktor baru di kampus Pyeongtaek milik Samsung.

Jam Tangan yang Bisa Memerintahkan Istirahat
Sistem menghitung suhu yang dirasakan (perceived temperature) di lokasi kerja secara real time. Ketika kondisi melampaui ambang batas panas pemerintah, peringatan otomatis muncul di dasbor manajer. Samsung menetapkan tiga tingkat peringatan utama: heat advisory pada suhu terasa 33 derajat Celcius, heat warning pada 35 derajat, dan serious warning pada 38 derajat. Ketiga level ini sesuai dengan panduan pemerintah Korea Selatan tentang penghentian kerja saat cuaca ekstrem.
Manajer kemudian dapat mengirim peringatan panas dan rekomendasi istirahat langsung ke Galaxy Watch yang dikenakan pekerja. Fungsi ini memberikan peran yang jauh lebih praktis dibandingkan sekadar menampilkan prakiraan cuaca sore hari. Jam tangan menjadi penghubung terakhir antara pemantauan lingkungan, data kesehatan, dan seseorang yang bisa memerintahkan pekerja untuk menjauh sebelum situasi memburuk.
Memantau Individu, Bukan Cuaca
Samsung juga meningkatkan algoritma prediksi yang mendasarinya dengan peneliti dari Incheon National University. Perangkat lunak mempertimbangkan tinggi badan, berat badan, usia, jenis kelamin, pola detak jantung, dan lingkungan kerja pekerja untuk memperkirakan suhu inti tubuh secara real time. Sistem kemudian menetapkan tingkat risiko dan memberikan peringatan saat diperlukan.
Samsung menambahkan bahwa pihaknya juga bekerja sama dengan Lembaga Riset Ilmu Data di Samsung Medical Center untuk membandingkan prediksi algoritma dengan respons tubuh aktual dalam kondisi stres panas.
Pendekatan personal ini penting karena dua orang dapat bereaksi sangat berbeda terhadap panas yang sama. Usia, kebugaran, beban kerja, kondisi kesehatan yang sudah ada, pakaian, dan hidrasi semuanya dapat mempengaruhi seberapa cepat seseorang menjadi rentan.
Dalam konteks industri, sistem ini bisa menjadi solusi krusial untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja akibat sengatan panas. Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan bisnis Samsung, Anda bisa membaca artikel terkait Krisis RAM yang melibatkan perusahaan ini.
Baca Juga:

Pertanyaan Privasi yang Masih Menggantung
Saat ini, sistem tersebut merupakan sistem business-to-business (B2B) di tempat kerja, bukan fitur Galaxy Watch yang bisa diunduh konsumen biasa. Sistem ini juga menempatkan informasi pribadi dan biometrik di dalam dasbor perusahaan berbasis cloud.
Samsung menyatakan bahwa SmartThings Pro telah menerima sertifikasi keamanan informasi ISO 27001. Meskipun demikian, penerapan yang lebih luas tetap memerlukan aturan yang jelas tentang persetujuan pekerja, akses dan penyimpanan data, serta bagaimana pengusaha dapat menggunakan informasi kesehatan.
Galaxy Watch memang tidak bisa mendinginkan lokasi konstruksi atau menggantikan tempat teduh, air, waktu istirahat, dan kondisi kerja yang aman. Namun, jam tangan ini dapat membantu manajer menyadari kapan panas mulai membebani pekerja tertentu. Sebagai perbandingan, Samsung juga menghadapi tantangan di lini bisnis lain, termasuk kenaikan harga pada perangkat terbaru mereka.
Implementasi sistem manajemen stres panas ini menunjukkan bagaimana perangkat wearable bisa bertransformasi dari aksesori gaya hidup menjadi alat keselamatan kerja yang vital. Meski masih dalam tahap awal, potensinya untuk menyelamatkan nyawa pekerja di sektor konstruksi, pertanian, dan industri berat lainnya sangat besar. Perkembangan ini juga menandai langkah maju dalam integrasi teknologi kesehatan dengan Internet of Things (IoT) di lingkungan kerja.
Bagi perusahaan yang tertarik mengadopsi teknologi serupa, penting untuk mempertimbangkan aspek privasi dan keamanan data pekerja. Regulasi yang jelas dan transparan akan menjadi kunci keberhasilan penerapan sistem pemantauan kesehatan berbasis wearable di masa depan. Sementara itu, Samsung terus berinovasi di berbagai sektor, termasuk menghadapi gugatan hukum di industri memori.





Komentar
Belum ada komentar.