Telset.id – Intel berencana mengumpulkan dana segar sebesar USD 19,7 miliar atau sekitar Rp319 triliun melalui penjualan saham baru. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai pembangunan kapasitas produksi baru, pengembangan teknologi proses generasi terbaru seperti Intel 14A, serta kebutuhan operasional harian perusahaan.
Langkah ini menjadi krusial bagi Intel yang saat ini harus bersaing ketat dengan raksasa semikonduktor seperti TSMC dan Samsung. Kedua kompetitor tersebut diketahui mengeluarkan puluhan miliar dolar setiap tahunnya untuk membangun fab baru dan mengembangkan teknologi proses canggih.
Menariknya, penjualan saham ini mendapat sambutan luar biasa dari pasar. Berdasarkan laporan Bloomberg, permintaan terhadap saham Intel mencapai USD 100 miliar, jauh melampaui target awal perusahaan.
Intel akan menjual 210.526.315 lembar saham dengan harga USD 95 per lembar melalui penawaran umum yang dijamin (underwritten public offering). Selain itu, bank-bank yang berpartisipasi memiliki waktu 30 hari untuk mengakuisisi tambahan hingga 31.578.947 lembar saham dengan harga yang sama, dikurangi diskon penjaminan yang berlaku.
Apabila seluruh opsi tambahan tersebut dieksekusi, Intel berpotensi menjual sekitar 242,1 juta lembar saham secara keseluruhan dan meningkatkan perolehan dana menjadi sekitar USD 23 miliar. Tanpa penjualan saham tambahan, Intel memperkirakan perolehan bersih sekitar USD 19,7 miliar setelah memperhitungkan diskon penjaminan, komisi, dan estimasi biaya. Transaksi ini dijadwalkan selesai pada 12 Agustus 2026.

Keputusan Intel untuk menjual saham di saat yang tepat ini tidak terlepas dari kinerja pasar yang impresif. Kapitalisasi pasar Intel meningkat dari sekitar USD 90 miliar pada Agustus tahun lalu menjadi USD 491 miliar saat berita ini ditulis. Bahkan, kapitalisasi Intel sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di angka USD 673 miliar pada 20 Juni 2026.
Baca Juga:
Kebutuhan Pendanaan untuk Ekspansi Manufaktur
Intel sendiri belum menetapkan alokasi dana dari penjualan saham ini ke proyek-proyek tertentu. Perusahaan menyatakan bahwa dana tersebut dapat digunakan di seluruh lini bisnis, termasuk untuk belanja modal dan modal kerja.
Saat ini, Intel sedang dalam proses meningkatkan produksi di Fab 52 yang berlokasi di Arizona dan berencana menggunakan Fab 62 yang berdekatan ketika dibutuhkan. Selain itu, perusahaan masih harus membangun kompleks fab di Ohio yang diperkirakan membutuhkan biaya lebih dari USD 100 miliar ketika selesai dibangun sepenuhnya.
Dalam pengungkapan risiko, Intel secara spesifik menyebutkan Intel 14A yang dijadwalkan memasuki produksi massal pada 2028, serta teknologi proses canggih lainnya. Perusahaan juga menyoroti kebutuhan ekspansi manufaktur untuk mendukung teknologi tersebut dan pentingnya mengamankan desain menang (design wins) serta komitmen volume dari pelanggan foundry eksternal besar.
Meskipun Intel mengingatkan bahwa investasi jangka panjang senilai puluhan miliar dolar ini mungkin tidak menghasilkan imbal hasil yang memadai, perusahaan tidak punya pilihan lain. Tanpa kapasitas produksi yang siap, mustahil bagi Intel untuk mendapatkan kontrak besar dari pelanggan eksternal.
Menariknya, Intel juga menyebutkan pengaturan pembiayaan alternatif, hibah pemerintah, dan posisi ekuitas signifikan pemerintah AS di perusahaan sebagai faktor-faktor yang relevan dalam strategi pendanaannya.
Langkah penggalangan dana ini menunjukkan keseriusan Intel dalam membangun kembali posisinya di industri semikonduktor global. Dengan dana segar yang masuk, Intel diharapkan dapat mempercepat pembangunan fasilitas produksi dan pengembangan teknologi proses generasi berikutnya. Keberhasilan penjualan saham ini juga menjadi sinyal positif kepercayaan investor terhadap rencana jangka panjang perusahaan.
Bagi industri teknologi Indonesia, perkembangan ini patut diperhatikan karena akan memengaruhi pasokan chip global dalam beberapa tahun ke depan. Kapasitas produksi Intel yang meningkat berpotensi membuka peluang baru dalam rantai pasok semikonduktor, termasuk untuk pasar Asia Tenggara. Perjalanan panjang Intel dalam industri prosesor juga bisa disimak dalam Sejarah 30 Tahun CPU yang mengulas persaingan ketat dengan AMD.





Komentar
Belum ada komentar.