Telset.id – Kekhawatiran privasi terhadap smart glasses semakin nyata. Sejumlah negara mulai menerapkan larangan dan pembatasan penggunaan kacamata pintar di berbagai tempat umum, menyusul kekhawatiran akan kemampuan perangkat ini merekam orang tanpa sepengetahuan mereka.
Larangan smart glasses ini menjadi pertimbangan penting bagi pemilik perangkat maupun mereka yang berencana membeli. Pasalnya, aturan yang mulai diberlakukan di berbagai wilayah ini berpotensi membatasi ruang gerak penggunaan kacamata pintar dalam berbagai situasi.
Meskipun belum ada negara yang sepenuhnya melarang smart glasses, beberapa negara telah melarang penggunaannya di skenario tertentu. Bahkan, sejumlah negara lain tengah menyelidiki langkah-langkah yang lebih keras terhadap perangkat yang semakin populer ini.
Larangan Smart Glasses di Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, smart glasses umumnya dapat digunakan secara bebas. Namun, New York State telah melarang penggunaannya di semua pengadilan. Kacamata pintar dengan kemampuan merekam dianggap berpotensi mengintimidasi pihak yang terlibat dalam kasus, terlebih beberapa kasus mengandung informasi pribadi sensitif yang berisiko jika direkam tanpa izin.

Beberapa negara bagian lain juga telah memberlakukan larangan yang tidak terlalu luas di pengadilan, termasuk Philadelphia, Hawaii, dan North Carolina. Sementara itu, Angkatan Udara AS memasukkan aturan bahwa personelnya “tidak diizinkan memakai lensa cermin atau smart glasses dengan kemampuan foto, video, atau kecerdasan buatan saat berseragam.”
Aturan ini tampaknya lebih berkaitan dengan penampilan daripada larangan khusus smart glasses, mengingat lensa cermin juga termasuk dalam larangan. Namun, ini tetap berarti Anda tidak bisa memakai kacamata pintar saat berseragam.
Selain itu, peserta konvensi seperti DEF CON 34 dilarang memakai Meta glasses atau perangkat serupa. Larangan ini berfokus pada kemungkinan kacamata merekam orang tanpa sepengetahuan mereka, dengan alasan bahwa lampu indikator perekaman pada beberapa kacamata tidak cukup jelas.
Situasi di Inggris dan Uni Eropa
Di Inggris, pengadilan tidak melarang penggunaan smart glasses, meskipun setelah ada kejadian seseorang yang dibimbing oleh AI pada kacamatanya saat persidangan, penggunaannya umumnya disarankan untuk dihindari. Ada juga pembatasan perekaman di pengadilan Inggris, sehingga meskipun kacamata tidak secara eksplisit dilarang, menggunakannya untuk mengambil foto atau video akan melanggar aturan.
Perusahaan seperti Monopoly Events telah melarang kacamata kamera dari acara Comic-Con mereka setelah keluhan tentang perekaman diam-diam. Selain itu, ada petisi kepada Pemerintah untuk melarang penjualan dan promosi smart glasses di negara tersebut. Meskipun petisi semacam ini tidak selalu membuahkan hasil, hal ini menunjukkan adanya keresahan publik terhadap smart glasses yang bisa mengarah pada perubahan aturan.

Di Uni Eropa, European Data Protection Board sedang menyusun laporan tentang smart glasses yang diperkirakan akan dirilis dalam beberapa bulan ke depan. Sementara aturan umum UE sedang dibahas, beberapa anggota membuat keputusan sendiri mengenai teknologi ini.
Komisioner otoritas perlindungan data Jerman telah memperingatkan bahwa kacamata kamera bisa dilarang berdasarkan undang-undang yang melarang perangkat perekam yang tersembunyi di benda sehari-hari. Aktivis hak digital Belanda mengungkapkan frustrasi atas kemampuan smart glasses merekam orang tanpa sepengetahuan mereka, sementara regulator privasi Prancis menyoroti risiko privasi yang ditimbulkan kacamata kamera.
Aturan Khusus di Korea Selatan
Korea Selatan memiliki jenis larangan yang berbeda, dengan secara khusus membatasi akses smart glasses di ruang ujian. Hal ini menyusul kasus siswa yang tertangkap mencoba menyontek menggunakan kacamata pintar.
Perangkat pintar umumnya dilarang di ruang ujian di sebagian besar sekolah di seluruh dunia untuk mencegah kecurangan. Namun, mengingat pentingnya College Scholastic Ability Test di Korea Selatan, larangan yang sangat eksplisit ini masuk akal untuk menghilangkan kebingungan tentang apakah siswa boleh membawa smart glasses ke ruang ujian.
Solusi Hardware yang Mungkin Mengubah Segalanya

Meskipun belum banyak larangan yang diberlakukan, situasi ini bisa berubah kecuali ada perubahan dari sisi hardware. Kekhawatiran besar adalah soal privasi bagi orang yang bukan pemakai kacamata yang terekam dalam bidikan kamera seseorang, terutama jika mereka tidak tahu sedang direkam.
Solusi yang jelas adalah membuat smart glasses jauh lebih terlihat saat merekam, misalnya dengan lampu kamera yang lebih terang, suara kamera yang keras saat mengambil foto, atau indikator audio saat video sedang direkam. Bagi pengguna, mereka menginginkan kontrol yang lebih baik atas apa yang diakses oleh pembuat smart glasses saat menggunakan teknologi mereka, serta kepastian tentang gambar dan video mana yang dibagikan atau dilihat oleh kontraktor.
Baca Juga:
Perkembangan regulasi ini menjadi sinyal penting bagi industri teknologi. Pixel Bekas memang bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, namun untuk smart glasses, masa depannya kini bergantung pada bagaimana industri merespons kekhawatiran privasi yang semakin meluas.
Bagi konsumen yang sedang mempertimbangkan membeli smart glasses, pembatasan ini layak menjadi bahan pertimbangan sebelum memutuskan pembelian. Dengan semakin banyaknya wilayah yang memberlakukan larangan, fleksibilitas penggunaan perangkat ini menjadi semakin terbatas.
Perlu dicatat bahwa regulasi terhadap Teknologi Terbaru memang seringkali tertinggal dari perkembangannya. Namun untuk smart glasses, tampaknya regulasi justru bergerak cepat seiring meningkatnya tekanan publik.
Kita masih harus menunggu bagaimana situasi ini berkembang. Namun, dengan semakin banyaknya negara yang mulai memberlakukan pembatasan, tampaknya hanya masalah waktu sebelum regulasi yang lebih serius diberlakukan terhadap smart glasses.





Komentar
Belum ada komentar.