Ilustrasi evolusi ponsel lipat dari FlexPai hingga iPhone lipat

Perjalanan Ponsel Lipat dari FlexPai hingga iPhone Lipat

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Royole FlexPai adalah ponsel lipat komersial pertama, diikuti Samsung Galaxy Fold yang bermasalah
  • Ponsel lipat kini lebih tipis, tahan lama dengan rating IP68-IP69, dan baterai silicon-carbon
  • Oppo Find N6 punya lipatan hampir tak terlihat dengan teknologi polimer UV
  • Pasar ponsel lipat baru 1,6 persen dari total pasar smartphone pada 2025
  • iPhone lipat diprediksi debut bulan depan, IDC prediksi Apple kuasai 34 persen pasar
  • Tren bentuk lebar diikuti Samsung Z Fold 8 dan Pura X Max, bocoran Oppo dan Honor menyusul

Telset.id – Pasar ponsel lipat kini berada di titik balik terbesarnya. Setelah tujuh tahun evolusi yang penuh liku, teknologi layar fleksibel akhirnya dianggap cukup matang, ditandai dengan kabar kedatangan iPhone lipat pertama yang diprediksi meluncur bulan depan. Kehadiran Apple ini disebut-sebut akan menjadi momentum yang menentukan apakah ponsel lipat akan bertransisi dari produk niche menjadi perangkat mainstream.

Perjalanan panjang ini dimulai bukan dari Samsung, melainkan dari Royole, produsen layar fleksibel yang kini bangkrut. Royole adalah yang pertama merilis ponsel lipat komersial bernama FlexPai, sebuah perangkat yang digambarkan “sangat buruk” secara desain. Setahun kemudian, Samsung meluncurkan Galaxy Fold pertama yang justru dihantui berbagai masalah, dengan unit ulasan yang rusak dalam hitungan hari.

Kegagalan tersebut membuat Huawei menunda peluncuran Mate X selama lima bulan. Desainnya yang tidak biasa dengan layar lipat membungkus bagian luar ponsel ternyata tidak populer di pasaran. Motorola kemudian menyusul dengan Razr lipat pertamanya, diikuti Samsung dengan Z Flip yang serupa. Dua tahun pertama ponsel lipat jelas merupakan masa yang sulit, namun kondisi perlahan membaik.

Generasi-generasi berikutnya dari Samsung tidak lagi mudah rusak seperti gelombang pertama. Samsung juga belajar pelajaran berharga bahwa bagian integral dari tumpukan layar tidak boleh semudah melepas pelindung layar. Semakin banyak produsen yang masuk pasar, termasuk Google, OnePlus, Oppo, Vivo, Xiaomi, dan Honor. Harga pun perlahan turun. Motorola menawarkan Razr entry-level seharga USD 799, dan Samsung memperkenalkan varian FE dari Z Flip 7 seharga USD 899.

Perangkat keras terus berevolusi. Ponsel lipat menjadi lebih tipis, ringan, dan tahan lama. Lipatannya semakin rata dan tidak terlihat, beberapa layar mulai mendukung stylus, dan kamera mulai menyamai ponsel konvensional. Yang terpenting, faktor bentuk mulai bergeser dari dua kategori utama: flip phone ringkas dengan layar sampul persegi, dan book-style yang tipis saat ditutup dan hampir persegi saat dibuka.

Huawei menjadi pionir desain baru dengan Mate XT trifold, kemudian Pura X yang lebih lebar, dan tahun ini Pura X Max yang lebih lebar lagi. Samsung meluncurkan Galaxy Z TriFold akhir tahun lalu, dan bulan lalu menggeser Galaxy Z Fold 8 ke bentuk yang sama dengan Pura X Max. Dua langkah ini terjadi hanya beberapa bulan sebelum iPhone lipat hadir, yang bocorannya mengindikasikan akan memiliki bentuk serupa.

Daya tahan juga meningkat signifikan. Google Pixel 10 Pro Fold memperkenalkan rating IP68, sementara Honor Magic V6 melampauinya dengan IP69. Honor Magic V6 juga menjadi ponsel lipat tertipis dengan baterai terbesar, berkat desain baterai silicon-carbon yang lebih hemat energi. Ponsel lipat terbaru kini hanya sedikit lebih tebal dari ponsel flagship saat ditutup, dengan baterai yang bisa bertahan satu hingga dua hari.

Oppo Find N6 hampir setipis dan sebanding dalam daya tahan dengan Honor, namun punya keunggulan lain: lipatan yang hampir tak terlihat. Masih mungkin untuk melihat dan merasakan titik lipatan layar bagian dalam, tetapi hanya jika benar-benar mencarinya, dan bahkan sering sulit ditemukan tergantung pencahayaan. Teknologi ini mengandalkan pencetakan 3D polimer cair peka cahaya yang mengisi setiap celah di engsel, kemudian dikeraskan dengan sinar UV.

Kamera masih menjadi area yang perlu peningkatan. Ponsel lipat dari Oppo dan Vivo memiliki tiga kamera belakang dengan kualitas mengesankan, sebanding dengan beberapa flagship. Namun, mereka masih tertinggal dari ponsel Ultra kelas atas, sementara harganya jauh lebih mahal. Keterbatasan biaya dan desain kemungkinan membuat kamera terbaik akan tetap eksklusif di ponsel biasa.

Meskipun semua peningkatan ini, ponsel lipat tetap menjadi produk niche. Menurut Counterpoint, ponsel lipat hanya menguasai 1,6 persen pasar smartphone pada 2025. Namun, teknologi yang kini matang membuat Apple percaya diri untuk terjun. iPhone lipat pertama diprediksi debut bulan depan bersama iPhone 18 Pro.

Analis IDC Francisco Jeronimo menyebut peluncuran ini akan menjadi “titik balik untuk segmen lipat” dalam laporan yang memprediksi Apple akan menguasai 34 persen pasar lipat berdasarkan nilai di tahun pertamanya. Pertanyaannya, apakah Apple mampu memperluas pasar lipat, menarik konsumen yang skeptis, atau mereka hanya menunggu ponsel lipat yang menjalankan iOS. Ini bisa menjadi pemicu yang menarik ponsel lipat dari niche ke mainstream, meski dengan harga premium, jangkauannya akan tetap terbatas.

Bocoran dari Bloomberg melalui Mark Gurman menyebutkan iPhone lipat akan menjalankan versi iOS yang diadaptasi untuk memberikan antarmuka ala iPad, tanpa fitur multitasking penuh iPadOS. Di sisi Android, ColorOS dari Oppo tetap menjadi standar emas untuk software ponsel lipat, menggabungkan opsi split-screen fleksibel dengan jendela aplikasi mengambang.

Tren bentuk lebar kemungkinan akan diikuti lebih banyak perusahaan, dengan bocoran menunjukkan Oppo dan Honor sedang menyiapkan ponsel lipat lebih lebar. Dua belas bulan ke depan akan menjadi ujian apakah faktor bentuk ini benar-benar lebih populer, atau produsen Android akan menyesal mengikuti jejak Apple. Belum jelas apakah lebih banyak produsen akan membuat trifold, atau apakah Huawei dan Samsung akan bertahan dengan bentuk tersebut.

Huawei mengklaim penjualan dua Mate XT-nya sukses, sementara Samsung menarik TriFold dari pasar setelah kurang dari tiga bulan, meski tidak jelas apakah karena penjualan rendah atau sekadar produksi terbatas. Perangkat rollable dan bentuk eksperimental lain kemungkinan harus menunggu beberapa tahun lagi sebelum dikomersialkan.

Ini adalah momen perubahan besar untuk ponsel lipat. Model standar telah menjadi sangat baik sehingga sedikit membosankan. Di luar faktor bentuk baru, rilis tahunan hanya berputar pada iterasi kecil, dan harga kini menjadi satu-satunya alasan konsumen menolaknya. Ponsel lipat sudah cukup baik, dan kedatangan Apple akan membuka pasar lebih luas, atau membuktikan bahwa kebanyakan pembeli ponsel tidak peduli dengan ponsel lipat, setidaknya pada harga yang ditawarkan.

Menariknya, data Counterpoint menunjukkan popularitas flip phone yang semula lebih tinggi kini berbalik, dan tren ini diprediksi berlanjut. Sementara itu, Lenovo sudah setahun menjual laptop dengan layar rollable, menjadi tanda bahwa teknologi layar fleksibel terus berkembang. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan terkini, kamu bisa membaca artikel tentang Harga Foldable, Ponsel Lipat Lebar, atau Chip For Galaxy di Telset.id.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.