Telset.id – Startup EV pickup Slate mengumumkan harga mulai dari $24.950, menjadikannya mobil listrik termurah di Amerika Serikat. Perubahan strategi baterai menjadi kunci utama penurunan harga tersebut, dengan beralih dari baterai NMC ke LFP yang lebih murah.
Keputusan ini menunjukkan pergeseran besar dalam industri baterai kendaraan listrik. Awalnya, Slate merencanakan penggunaan baterai nickel-manganese-cobalt (NMC) untuk jangkauan yang lebih panjang. Namun, biaya tinggi akibat harga nikel dan kobalt membuat opsi itu kurang ideal untuk mobil murah.
Slate kemudian memilih lithium-iron-phosphate (LFP), baterai yang lebih murah sekitar 40% berkat bahan baku seperti besi sebagai pengganti nikel dan kobalt. Meskipun kepadatan energinya lebih rendah, LFP menawarkan solusi biaya yang jauh lebih efisien.
Dampak dari perubahan ini langsung terasa pada spesifikasi jangkauan. Slate membatalkan paket baterai opsional 240 mil dan meningkatkan paket standar dari 150 mil menjadi 205 mil. Dengan kata lain, konsumen mendapatkan jangkauan lebih baik tanpa harus membayar lebih mahal.
Baca Juga:
Dominasi China dan Perubahan Regulasi
Salah satu alasan utama mengapa LFP sebelumnya dihindari adalah rantai pasok yang terkonsentrasi di China. Produsen baterai China seperti CATL dan BYD telah mendominasi produksi sel LFP global. Startup baterai AS seperti A123 Systems yang mencoba mengomersialkan LFP justru bangkrut dan diakuisisi perusahaan China pada 2013.
Namun, situasi berubah drastis setelah Undang-Undang One Big Beautiful Bill Act menghapus kredit pajak $7.500 untuk EV. Dengan hilangnya insentif tersebut, kekhawatiran tentang asal-usul bahan baku baterai pun sirna. Produsen China kembali menjadi pemasok yang layak.
Slate kini bekerja sama dengan Gotion, perusahaan baterai asal Hefei, China. Sel baterai akan diproduksi di pabrik Illinois, AS, menurut laporan InsideEVs. Langkah ini memungkinkan Slate mengakses teknologi LFP dengan biaya kompetitif.
Teknologi Cell-to-Pack dan Jangkauan yang Lebih Baik
Selain beralih ke LFP, Slate juga mengadopsi teknologi cell-to-pack. Pendekatan ini menghilangkan modul baterai dan memasukkan sel prismatik atau silinder langsung ke dalam pak baterai. Hasilnya, proses produksi lebih sederhana dan kepadatan energi volumetrik meningkat.
Cell-to-pack sangat penting untuk kendaraan kecil seperti truk Slate. Dengan ruang terbatas, efisiensi pengepakan menjadi krusial. Teknologi ini juga membantu LFP yang secara alami kurang padat energi untuk tetap memberikan jangkauan yang memadai.
Keunggulan lain LFP adalah kemampuannya diisi hingga 100% tanpa degradasi signifikan. Berbeda dengan NMC yang sebaiknya diisi maksimal 80% untuk menjaga umur baterai, pengguna LFP bisa memanfaatkan kapasitas penuh setiap hari. Ini praktis untuk truk kerja yang membutuhkan jangkauan maksimal.
Ford, General Motors, Rivian, dan Tesla kini juga menawarkan model dengan baterai LFP. Adopsi industri yang meluas ini mendorong inovasi dan penurunan biaya lebih lanjut. Meskipun LFP tidak akan menggantikan NMC sepenuhnya—GM misalnya masih mengembangkan kimia baterai lain—kombinasi biaya rendah dan jangkauan yang layak membuat LFP menjadi pilihan ideal untuk EV murah.
Dengan harga $24.950, Slate menawarkan titik masuk yang sangat terjangkau ke pasar EV. Keputusan berani beralih ke LFP dan mengadopsi cell-to-pack membuktikan bahwa inovasi baterai bisa langsung dirasakan konsumen dalam bentuk harga yang lebih ramah kantong.





Komentar
Belum ada komentar.