Telset.id – China resmi meluncurkan sembilan satelit sekaligus, termasuk proyek komputasi AI terintegrasi “roket dan satelit” pertama mereka, sebagai bagian dari dorongan untuk menempatkan kemampuan komputasi AI di orbit. Langkah ini menandai babak baru dalam persaingan infrastruktur kecerdasan buatan yang tidak lagi terbatas di daratan, melainkan mulai merambah ke ruang angkasa.
Menurut laporan Digitimes, roket Kinetica 1 Y18 yang dioperasikan oleh penyedia peluncuran komersial China, CAS Space, lepas landas pada 20 September lalu dengan membawa sembilan satelit menuju orbit yang direncanakan. Muatan yang paling menarik perhatian adalah satelit “Supercomputing-1” yang dikembangkan oleh perusahaan infrastruktur komputasi AI asal China, S-AIDC. Satelit ini juga dikenal dengan nama S-AIDC-1.
Satelit tersebut dirancang untuk menangkap dan memproses data pengamatan Bumi langsung di orbit, alih-alih mengirimkan data kembali ke pusat data di darat. Dengan menjaga pemrosesan tetap lokal, waktu pemrosesan data lintas wilayah dapat dipangkas dari hitungan jam menjadi hanya beberapa menit. Satelit ini dilengkapi dengan muatan optik resolusi tinggi sekaligus komputer AI pemroses gambar.
Peluncuran ini menyoroti upaya China dalam mengembangkan komputasi orbital sebagai bagian dari “jaringan komputasi terintegrasi yang lebih luas”. Langkah ini sejalan dengan percepatan adopsi AI di berbagai sektor, termasuk di dunia pendidikan, seperti yang terlihat dari langkah Universitas China yang memangkas ribuan program studi akibat dampak AI.
Baca Juga:
Pada awal Juni, pemerintah China menyetujui pendirian Space Computing Industry Innovation Center. Pusat inovasi ini bertujuan untuk menyatukan produsen roket dan satelit, pabrik semikonduktor, serta perusahaan teknologi AI guna membangun jaringan komputasi ruang angkasa. Inisiatif ini menjadi fondasi kelembagaan bagi ambisi China menguasai komputasi di orbit.
Sejumlah faktor mendorong lonjakan pengembangan komputasi di luar Bumi ini, dengan yang paling utama adalah ledakan AI. Permintaan terhadap kecerdasan buatan telah memicu pembangunan banyak pusat data untuk menampung akselerator AI. Pusat data tersebut, yang sebagian di antaranya dapat menampung ratusan ribu akselerator, mengonsumsi listrik dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memberikan tekanan signifikan pada jaringan listrik.
Kondisi ini, ditambah dengan penggunaan lahan, konsumsi air untuk pendinginan, dan kebisingan, telah memicu sentimen anti-pusat data yang terus tumbuh. Penduduk lokal dilaporkan memblokir proyek pusat data baru senilai USD68 miliar pada kuartal kedua 2026. Tekanan inilah yang membuat ruang angkasa menjadi alternatif yang serius dipertimbangkan.

Meski menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan praktis, ruang angkasa menawarkan alternatif dengan area tak terbatas, akses ke tenaga surya, kondisi dingin yang konstan, serta ruang hampa yang sunyi. Keunggulan-keunggulan ini menjadikan komputasi orbital sebagai topik diskusi yang serius di industri teknologi global.
SpaceX memimpin langkah ini melalui satelit AI1, sebuah proposal pusat data orbital yang diklaim akan menghasilkan daya komputasi puncak sebesar 150 kW. Perusahaan tersebut menargetkan 1 GW per tahun kapasitas komputasi AI di ruang angkasa pada 2027 dan telah mulai membangun fasilitas Gigasat seluas 11 juta kaki persegi. Fasilitas ini akan memproduksi 6.000 satelit yang dibutuhkan untuk memenuhi target tersebut.

Di luar pelayanan model AI berskala besar, penempatan kapasitas komputasi tepi di ruang angkasa sudah bermanfaat untuk berbagai aplikasi. Satelit pengamatan Bumi dapat memproses gambar di atas orbit untuk mengidentifikasi kebakaran hutan, badai, banjir, kapal, atau objek lain yang menjadi perhatian. Hasil yang berguna saja yang dikirim kembali ke Bumi, alih-alih membuang data mentah dalam jumlah besar ke stasiun bumi.
Pendekatan yang sama dapat mempercepat pemantauan cuaca, respons bencana, komunikasi, hingga pengelolaan konstelasi satelit. Dalam skenario tersebut, wahana antariksa dapat membuat lebih banyak keputusan secara mandiri tanpa menunggu instruksi dari Bumi. Ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi efisiensi operasional satelit di masa depan.
Peluncuran satu satelit dengan kemampuan AI tepi di dalamnya memang masih jauh dari gambaran pusat data orbital skala penuh. Namun, pendekatan China ini berpotensi menjadi aplikasi yang lebih praktis dan langsung untuk kemampuan komputasi canggih di orbit. Langkah ini bisa menjadi batu pijakan menuju ekosistem komputasi ruang angkasa yang lebih matang.

Perkembangan komputasi orbital ini juga menjadi bagian dari dinamika teknologi yang lebih luas di China. Negara tersebut tengah gencar membangun infrastruktur AI, mulai dari pusat data raksasa hingga inovasi di sektor otomotif seperti BYD Han yang telah mengadopsi LiDAR atap. Selain itu, pasar otomotif China juga kedatangan pemain baru seperti Hyundai Ioniq V yang meluncur pada 29 September dengan harga mulai Rp286 juta.
Dengan peluncuran satelit S-AIDC-1 ini, China menunjukkan bahwa ambisi komputasi AI mereka tidak berhenti di permukaan Bumi. Komputasi orbital menjadi salah satu jawaban atas keterbatasan lahan, energi, dan pendinginan yang dihadapi pusat data konvensional. Meski masih dalam tahap awal, langkah ini menandai pergeseran arah industri menuju pemanfaatan ruang angkasa sebagai lokasi pemrosesan data.
[WIDGET_SUMMARY]
• China meluncurkan sembilan satelit pada 20 September via roket Kinetica 1 Y18 milik CAS Space
• Satelit Supercomputing-1 (S-AIDC-1) dari S-AIDC memproses data pengamatan Bumi langsung di orbit
• Pemrosesan lokal pangkas waktu data lintas wilayah dari jam ke menit
• Pemerintah China menyetujui Space Computing Industry Innovation Center pada awal Juni
• SpaceX menargetkan 1 GW per tahun komputasi AI ruang angkasa pada 2027





Komentar
Belum ada komentar.