Telset.id – Laporan terbaru dari think tank Ceres mengungkapkan bahwa pembangkit listrik untuk data center di tujuh negara bagian Amerika Serikat menarik 3,4 triliun galon air tawar setiap tahunnya. Angka yang setara dengan 10,4 juta acre-feet ini memicu kekhawatiran baru tentang dampak industri AI terhadap sumber daya air di tengah krisis kekeringan yang melanda sejumlah wilayah AS.
Studi yang dirilis Ceres ini menganalisis konsumsi air untuk pembangkit listrik yang memasok data center di Virginia, Texas, California, Illinois, Georgia, Ohio, dan Arizona. Temuan tersebut menunjukkan bahwa 78 persen listrik di negara-negara bagian tersebut berasal dari pembangkit yang menggunakan air, dan 66 persen di antaranya berlokasi di area yang mengalami stres air atau water-stressed areas.
Angka 3,4 triliun galon tersebut menjadi sorotan ketika dibandingkan dengan konsumsi air California untuk keperluan urban. Bloomberg Law mencatat bahwa California hanya menggunakan sekitar 8 juta acre-feet air per tahun untuk kebutuhan perkotaan, berdasarkan laporan Legislative Analyst’s Office tahun 2021. Dengan kata lain, konsumsi air untuk pembangkit listrik data center di tujuh negara bagian itu lebih besar dari kebutuhan air seluruh kota di California.
Perbedaan Mendasar: Withdrawal vs Consumption
Meski angkanya mencengangkan, Ceres sendiri mengakui bahwa pendekatan yang digunakan mengukur water withdrawals, atau total volume air yang ditarik perusahaan listrik dari sumber seperti sungai, danau, atau akuifer. Ini termasuk air yang sebagian besar dikembalikan ke sumbernya dalam waktu singkat setelah digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air.

Berbeda dengan angka California yang dirujuk dalam perbandingan tersebut. Angka 8 juta acre-feet dari LAO mengukur air yang benar-benar dikirim dan digunakan untuk kebutuhan residensial, komersial, industri, dan lansekap di seluruh California, yang kemungkinan besar tidak akan kembali ke sumber aslinya. Ini adalah dua kuantitas yang berbeda dan tidak bisa langsung dibandingkan.
Sebagian besar listrik yang diukur dalam laporan Ceres berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Menariknya, air yang digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air sering kali tidak dianggap “dikonsumsi” secara efektif karena air tersebut mengalir kembali ke sungai setelah melewati turbin. Namun, Ceres menegaskan bahwa “withdrawal mencerminkan volume penuh yang diandalkan sebuah aset untuk beroperasi,” yang dipresentasikan sebagai indikator kuat risiko keterpaparan terhadap banyak komunitas yang sudah hidup di daerah terdampak kekeringan.
Data ini memunculkan pertanyaan besar tentang kebutuhan air untuk infrastruktur AI. Sebagai konteks, para peneliti dari Arizona State University menggunakan data Lawrence Berkeley National Laboratory 2024 memperkirakan konsumsi tidak langsung data center AS secara nasional, termasuk pembangkit listrik, hanya sekitar 650.000 acre-feet per tahun. Jika angka ini akurat, konsumsi air untuk pembangkit listrik data center di tujuh negara bagian tersebut bisa jadi jauh lebih kecil dari yang diimplikasikan Ceres, kecuali konsumsi naik drastis hingga 16 kali lipat dari angka yang dilaporkan sebelumnya.

Proyeksi 2030 dan Dampak pada Investasi Data Center
Ceres memproyeksikan bahwa air untuk pembangkit listrik bisa mencapai 72 persen dari total konsumsi air data center AS pada 2030, dihitung berdasarkan basis konsumsi. Proyeksi ini tetap berlaku meskipun sistem pendingin di dalam gedung data center semakin efisien.
Isu air ini bukan sekadar masalah lingkungan. Di saat dua reservoir terbesar Sungai Colorado mencapai rekor terendah, Ceres mencatat bahwa penolakan masyarakat berbasis kekhawatiran air dan listrik telah mengganggu proyek data center senilai USD 130 miliar pada kuartal pertama 2026 saja. Ini menunjukkan bahwa masalah ini telah menjadi hambatan nyata bagi ekspansi industri AI.
Shama Perveen, penulis laporan sekaligus direktur riset air Ceres, menyebut situasi ini kompleks dan membutuhkan pendekatan yang lebih inklusif. Ia menegaskan bahwa “tidak ada satu pemangku kepentingan pun yang dapat mengatasi tantangan ini sendirian”. Pernyataan ini menggarisbawahi perlunya kolaborasi antara industri teknologi, pemerintah, dan komunitas lokal untuk menemukan solusi berkelanjutan.
Baca Juga:
Krisis air ini terjadi di tengah perlombaan perusahaan AI membangun operasi hyperscale dengan kebutuhan pendinginan dan listrik yang sangat besar. Industri ini terus mengejar kecerdasan buatan umum (AGI) dengan investasi masif, namun harus menghadapi kenyataan bahwa sumber daya air tidaklah tak terbatas.
Laporan Ceres ini menjadi pengingat penting bahwa pertumbuhan industri AI tidak bisa dilepaskan dari dampak lingkungannya. Dengan proyeksi konsumsi air yang terus meningkat hingga 2030 dan penolakan masyarakat yang semakin vokal, perusahaan teknologi perlu memikirkan ulang strategi pembangunan data center mereka ke depan. Efisiensi pendinginan internal saja tidak cukup jika masalah utamanya ada pada pembangkit listrik yang memasok energi ke fasilitas tersebut.
Bagi Indonesia yang juga tengah mengembangkan ekosistem data center, laporan ini menawarkan pelajaran berharga tentang pentingnya mempertimbangkan ketersediaan air dan dampak lingkungan sejak awal perencanaan pembangunan infrastruktur digital. Kisah lain menunjukkan bagaimana isu lingkungan dan teknologi semakin saling terkait dalam pemberitaan global.





Komentar
Belum ada komentar.