Telset.id – Mantan Chief Scientist OpenAI, Ilya Sutskever, menyatakan bahwa AI akan terus berkembang hingga mampu melakukan semua hal yang bisa dilakukan manusia. Pernyataan ini disampaikan saat ia menerima gelar kehormatan di University of Toronto pada Juni 2025. Sutskever kini menjabat sebagai co-founder dan CEO di Safe Superintelligence Inc.
Pernyataan Sutskever menjadi sorotan karena posisinya sebagai salah satu tokoh kunci di balik riset model reasoning yang mendasari gelombang AI saat ini. Ia menegaskan bahwa AI tidak hanya akan mengerjakan sebagian tugas manusia, tetapi seluruhnya. “Slowly but surely – or maybe not so slowly – AI will keep getting better, and the day will come when AI will do all the things that we can do. Not just some of them, but all of them. Anything which I can learn, anything which any one of you can learn, the AI can do as well,” ujarnya.
Pernyataan ini menandai perubahan besar dalam cara industri memandang masa depan AI, terutama karena datang dari salah satu pendiri OpenAI yang kini memimpin perusahaan yang fokus pada pengembangan superintelligence yang aman. Sutskever menegaskan bahwa manusia harus bersiap menghadapi masa depan di mana AI menangani seluruh pekerjaan manusia, terlepas dari apakah masyarakat saat ini tertarik pada AI atau tidak.

Risiko Superintelligence dan Ketidakjujuran AI
Dalam pidatonya, Sutskever tidak hanya membahas potensi AI. Ia juga menyoroti tantangan besar dalam membayangkan masa depan ketika AI menangani semua pekerjaan manusia. Salah satu kekhawatiran utama yang ia sampaikan adalah kemungkinan bahwa superintelligent AI yang bersifat hipotetis mungkin tidak jujur tentang niatnya. Hal ini menimbulkan isu eksistensial tambahan yang harus dihadapi manusia.
Peringatan ini sejalan dengan diskusi yang berkembang di industri mengenai risiko AI. Sebelumnya, tokoh AI Geoffrey Hinton pernah menyatakan bahwa sulit mencegah pihak-pihak jahat menggunakan AI untuk hal buruk. Sutskever kini menambahkan dimensi baru: bahkan jika AI tidak digunakan untuk kejahatan, AI itu sendiri mungkin tidak transparan soal tujuannya.
Baca Juga:
Pernyataan Sutskever memperkuat kekhawatiran yang sudah lama ada di kalangan peneliti. Meta AI Glasses yang disebut “Pervert Glasses” dan konten joybait menjadi ancaman privasi nyata, menunjukkan bahwa risiko AI bukan hanya soal superintelligence di masa depan, tetapi juga soal penyalahgunaan teknologi saat ini.
Sejarah Konsep Superintelligence
Konsep superintelligent AI bukan hal baru. Menurut catatan sejarah, penyebutan pertama mesin superintelligent yang diakui secara historis muncul dalam makalah penting berjudul ‘Speculations Concerning the First Ultraintelligent Machine’ oleh matematikawan Inggris IJ Good. Sejak saat itu, banyak ilmuwan menganut teori bahwa kemajuan di bidang AI akan mengarah pada munculnya artificial general intelligence (AGI), yaitu sistem yang sangat cakap yang dapat mengungguli manusia di berbagai domain dan mampu memperbaiki kodenya sendiri. Hal ini pada akhirnya akan melahirkan artificial superintelligence (ASI).

Pandangan Sutskever tidak berdiri sendiri. Tokoh teknologi Claude Shannon pernah menggambarkan visinya tentang masa depan robot, sementara Sam Altman dari OpenAI menegaskan bahwa diperlukan terobosan untuk mencapai tujuan tersebut. Sutskever sendiri melalui Safe Superintelligence Inc. berupaya mewujudkan visi AI yang aman dan terkendali.
Namun, para ilmuwan masih terbelah soal apakah sistem AI berbasis neural network yang dominan saat ini dapat benar-benar melahirkan AGI. Banyak yang menyarankan bahwa industri perlu berevolusi melampaui arsitektur transformer yang dirintis ilmuwan Google pada 2017. Ini menjadi tantangan teknis besar sebelum visi Sutskever bisa tercapai.

Geoffrey Hinton, yang dikenal sebagai pioneer AI, pernah mengingatkan bahwa mencegah aktor jahat menggunakan AI untuk hal buruk sangatlah sulit. Peringatan-peringatan ini menunjukkan bahwa diskusi tentang AI tidak bisa lepas dari pertimbangan etika dan keamanan. Perkembangan fitur di platform seperti kontrol kutipan di Threads dan pengujian fitur quote tweet video di Twitter juga menunjukkan bagaimana teknologi terus beradaptasi dengan kebutuhan pengguna.

Pendanaan besar untuk teknologi AI juga terus mengalir. CloudNC, misalnya, mengantongi pendanaan $20 juta untuk CAM Assist, menunjukkan bahwa investor masih percaya pada potensi AI untuk mengubah berbagai industri. Sementara itu, UBTech membuka pabrik robot pertama yang memproduksi 10.000 Android per tahun, menandakan bahwa otomatisasi dan robotika semakin nyata.
Bagi masyarakat umum, pernyataan Sutskever menjadi pengingat bahwa AI bukan sekadar tren teknologi. Dampaknya akan terasa pada pekerjaan, cara belajar, dan cara hidup. Sutskever menegaskan bahwa bahkan orang yang tidak tertarik pada AI saat ini tetap akan terpengaruh di masa depan. Ini menuntut kesiapan kolektif, bukan hanya dari ilmuwan dan perusahaan teknologi, tetapi juga dari pemerintah dan masyarakat luas.
Dengan posisinya sebagai CEO Safe Superintelligence Inc., Sutskever berada di garis depan upaya memastikan AI dikembangkan secara aman. Namun, ia sendiri mengakui bahwa tantangan besar menanti. Ketidakjujuran AI yang mungkin terjadi menjadi salah satu isu eksistensial yang harus dijawab sebelum visi AI yang menguasai semua pekerjaan manusia menjadi kenyataan.
[ META_DESCRIPTION ]
Ilya Sutskever, mantan Chief Scientist OpenAI, menyatakan AI akan melakukan semua hal yang bisa dilakukan manusia. Simak pernyataan lengkap dan risikonya.





Komentar
Belum ada komentar.