Telset.id – OpenAI kembali kehilangan eksekutif senior. Chris Malone, kepala data center yang bertanggung jawab atas pembangunan infrastruktur AI perusahaan, resmi meninggalkan perusahaan setelah menjabat selama 17 bulan. Kepergian ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah rencana besar OpenAI menggelontorkan dana hingga Rp 9.000 triliun untuk infrastruktur komputasi.
The Wall Street Journal pertama kali memberitakan kabar ini pekan lalu, dan juru bicara OpenAI mengonfirmasi kepergian Malone kepada Bloomberg pada hari yang sama. Baik OpenAI maupun Malone tidak memberikan alasan resmi atas pengunduran diri tersebut, maupun tujuan karir selanjutnya. Pesan dari Bloomberg ke akun LinkedIn-nya pun tidak mendapat tanggapan.
Malone bergabung dengan OpenAI pada Maret 2025, bertepatan dengan pengumuman proyek Stargate pada Januari tahun yang sama. Proyek ini merupakan komitmen investasi senilai USD 500 miliar untuk membangun 10 gigawatt infrastruktur AI di Amerika Serikat selama empat tahun, bekerja sama dengan SoftBank, Oracle, dan MGX.
Kepergian Malone sebenarnya sudah terprediksi beberapa minggu sebelumnya. The Wall Street Journal mencatat bahwa Malone sudah tidak lagi melapor langsung ke presiden OpenAI Greg Brockman, melainkan ke wakil presiden Sachin Katti yang mengambil alih kepemimpinan grup infrastruktur. OpenAI juga telah menunjuk seorang chief technology officer untuk memimpin kapasitas komputasi, meskipun nama orang tersebut belum diumumkan secara publik.
Tanggung jawab yang sebelumnya dipegang Malone kini tersebar ke setidaknya tiga orang: Uday Ruddarraju memimpin tim data center, Brent Mayo menjalankan program build-and-delivery, dan Spas Lazarov yang berasal dari industri data center dan energi memimpin rekayasa data center. Pembagian tugas ini menunjukkan bahwa posisi tersebut bukan lowongan mendadak, melainkan sudah direncanakan sejak lama.
Kepergian Malone terjadi di tengah laporan bahwa OpenAI sedang menghidupkan kembali inisiatif data center dengan menyewa seluruh fasilitas, bukan membangunnya. Ini menandai pergeseran strategis signifikan dari rencana awal perusahaan yang fokus pada pembangunan infrastruktur. OpenAI sendiri menyatakan kepada TechCrunch bahwa mereka “baru saja mereorganisasi” organisasi infrastruktur untuk mendukung skala dan kecepatan kerja, namun tidak menanggapi langsung soal kepergian Malone.
Kabar ini tentu menjadi perhatian bagi pengamat industri AI. Sebelumnya, Telset.id juga pernah membahas Kontroversi Bahasa AI yang melibatkan OpenAI dan Hugging Face, menunjukkan betapa dinamisnya perusahaan ini dalam berbagai aspek.
Baca Juga:
Deretan Kepergian Eksekutif di OpenAI
Kepergian Malone bukan kasus terisolasi. Business Insider mencatat tiga belas kepergian eksekutif senior di OpenAI pada 2026 hingga 21 Agustus, dan Malone menjadi orang keempat belas yang meninggalkan perusahaan. The Next Web bahkan menghitung tujuh kepergian atau penggantian senior sejak April saja.
Menariknya, Malone termasuk salah satu nama dengan jabatan paling rendah di daftar tersebut. Kepala data center bukanlah posisi C-suite, dan setelah reorganisasi, ia melapor ke wakil presiden, bukan duduk setara dengan chief operating officer atau chief revenue officer.
Axios melaporkan awal bulan ini bahwa perubahan di OpenAI “didorong oleh strategi, bukan pintu putar” yang menjadi ciri pasar talenta AI yang lebih luas. Presiden OpenAI Greg Brockman memang sengaja membangun tim kepemimpinan untuk bersaing di pasar enterprise. Namun Brockman membantah anggapan tersebut, mengatakan kepada The Journal bahwa sorotan media terhadap perusahaannya membuat “setiap kepergian diperiksa dengan cara yang tidak terjadi di tempat lain.”
Skala Ambisi Infrastruktur OpenAI
Sorotan ini muncul seiring ambisi besar OpenAI yang berdampak langsung pada mitra-mitranya, termasuk Nvidia, AMD, dan Microsoft. CNBC melaporkan OpenAI menargetkan belanja komputasi sekitar USD 600 miliar pada 2030. Perusahaan juga merencanakan data center senilai USD 30 miliar di Georgia.
Nvidia bahkan setuju pada 17 Agustus untuk menyediakan pembiayaan hingga USD 105 miliar untuk kampus sewaan OpenAI di Ohio, setelah laporan sebelumnya menyebut Nvidia mempertimbangkan jaminan yang jauh lebih besar. Langkah ini menunjukkan besarnya skala investasi yang sedang disiapkan OpenAI.
Di tengah semua ini, OpenAI sedang bersiap untuk IPO yang akan menyuntikkan dana segar sekaligus memungkinkan karyawan mencairkan ekuitas mereka. OpenAI telah mengajukan dokumen secara rahasia ke SEC pada Juni, dan chief financial officer Sarah Friar memberi tahu staf pekan lalu bahwa perusahaan akan go public pada 2027 atau lebih cepat, setelah awalnya menargetkan tahun ini.
Kepergian Malone dan eksekutif lainnya bisa jadi merupakan perubahan strategis dalam cara perusahaan beroperasi. Namun mengingat skala perusahaan dan potensi konsekuensi dari langkah-langkah tersebut, pengawasan publik terhadap OpenAI memang layak dilakukan.

Perlu dicatat bahwa OpenAI juga tengah mengembangkan berbagai inovasi lain. Telset.id sebelumnya melaporkan tentang Model AI Astra yang memiliki kemampuan hacking canggih, serta Benchmark Jalapeño yang unggul dalam efisiensi daya. Ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi pergantian kepemimpinan, OpenAI terus bergerak maju dalam pengembangan teknologi.
Bagi industri teknologi, kepergian eksekutif di level ini menjadi sinyal penting tentang arah strategis perusahaan. Pergeseran dari membangun ke menyewa fasilitas data center menunjukkan OpenAI sedang mencari cara yang lebih efisien untuk mengelola infrastruktur raksasanya, sambil tetap mempertahankan ambisi besar di bidang komputasi AI.
Dengan target belanja komputasi yang sangat besar dan rencana IPO yang semakin dekat, keputusan strategis OpenAI dalam beberapa bulan ke depan akan sangat menentukan posisi perusahaan di industri AI global. Pengawasan terhadap setiap langkah perusahaan tampaknya memang tidak bisa dihindari.





Komentar
Belum ada komentar.