📑 Daftar Isi

Ilustrasi serangan siber pada sistem data McKesson dengan simbol peringatan keamanan digital

McKesson Kena Serangan ShinyHunters, 284 Juta Data Pasien Bocor

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • McKesson konfirmasi serangan ShinyHunters yang membobol Snowflake dan Salesforce
  • 284 juta catatan data pasien dicuri, termasuk nama, alamat, SSN, dan detail kesehatan
  • Tebusan yang diminta mencapai $55,2 juta dari korban
  • Boston Scientific berhasil mengeluarkan penyerang namun alami gangguan aktivasi perangkat CRM
  • Perangkat CRM baru tidak dapat diaktifkan dan data tidak terkirim otomatis
  • Vishing digunakan untuk menargetkan karyawan McKesson
  • Boston Scientific belum mengonfirmasi ShinyHunters sebagai pelaku

Telset.id – McKesson, salah satu perusahaan layanan kesehatan terbesar di Amerika Serikat, mengonfirmasi bahwa kelompok peretas ekstorsi ShinyHunters berhasil membobol sistem mereka dan mencuri lebih dari 284 juta catatan data pasien. Serangan siber ini menargetkan dua perusahaan layanan kesehatan besar dalam sepekan terakhir, bersama dengan Boston Scientific yang juga mengalami gangguan operasional signifikan.

Kelompok ShinyHunters mengklaim telah membobol instansi Snowflake dan Salesforce milik McKesson, mencuri data yang mencakup nama pasien, alamat pos dan email, nomor telepon, nomor Jaminan Sosial (SSN), serta detail kondisi kesehatan. Perusahaan kemudian mengonfirmasi bahwa data yang dicuri berasal dari unit bisnis Oncology & Multispecialty dan Medical-Surgical mereka.

Menurut pernyataan juru bicara McKesson kepada The Register, serangan ini melibatkan vishing yang menargetkan beberapa karyawan. Vishing adalah teknik serangan phishing yang dilakukan melalui panggilan suara, di mana pelaku menyamar sebagai pihak tepercaya untuk mendapatkan akses ke sistem internal perusahaan.

Ilustrasi keamanan siber dengan kunci digital dan jaringan

Kelompok peretas tersebut menuntut tebusan sebesar $55,2 juta dari korban atas data yang dicuri. Namun, klaim tentang jumlah data yang berhasil dicuri dan sejauh mana dampaknya masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui investigasi yang sedang berlangsung.

ShinyHunters sendiri merupakan kelompok ekstorsi yang sudah dikenal luas di dunia keamanan siber. Mereka sebelumnya juga mengklaim bertanggung jawab atas kebocoran data yang melibatkan 2,6 juta akun DentaQuest dan 234GB data yang dicuri dari serangan tersebut.

Boston Scientific Alami Gangguan Aktivasi Perangkat Medis

Sementara itu, Boston Scientific, perusahaan perangkat medis global, mengonfirmasi bahwa mereka berhasil mengeluarkan para penyerang dari infrastruktur mereka. Namun, investigasi terhadap serangan tersebut masih terus berlanjut. Perusahaan mengaku mengalami gangguan pada sistem aktivasi perangkat Cardiac Rhythm Management (CRM) yang ditanamkan setelah 25 Agustus.

Perangkat CRM yang baru ditanamkan tidak dapat diaktifkan, dan data yang dihasilkannya tidak akan otomatis dikirim ke sistem manajemen pasien jarak jauh. Boston Scientific menjelaskan bahwa implan monitor jantung baru harus diaktifkan menggunakan aplikasi Boston Scientific Clinic Assistant agar dapat merekam episode dengan benar.

Ilustrasi fasilitas layanan kesehatan modern

“ICM baru tidak dapat dipasangkan ke ponsel pemantau jarak jauh pasien, sehingga data episode yang tersedia yang direkam oleh ICM TIDAK akan dikirim ke sistem pemantauan jarak jauh sampai ICM dapat dipasangkan ke aplikasi ponsel pasien,” demikian penjelasan resmi Boston Scientific.

Episode akan terus direkam oleh ICM dan dapat ditransmisikan ke sistem pemantauan jarak jauh melalui pemeriksaan langsung dengan aplikasi Clinic Assistant dengan memilih tombol “Interrogate”.

Hingga saat ini, Boston Scientific belum menyebut ShinyHunters sebagai pelaku serangan, dan kelompok tersebut juga belum secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap perusahaan perangkat medis tersebut.

Serangan terhadap McKesson dan Boston Scientific menunjukkan bahwa sektor layanan kesehatan menjadi target utama kelompok peretas ekstorsi. Data pasien yang sangat sensitif, termasuk informasi kesehatan dan nomor jaminan sosial, memiliki nilai tinggi di pasar gelap digital.

Untuk McKesson, kebocoran 284 juta catatan pasien merupakan salah satu insiden kebocoran data terbesar yang pernah terjadi di sektor layanan kesehatan. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan insiden lain seperti kebocoran data yang dialami platform AI kesehatan Xsolis yang memengaruhi 1,4 juta individu, atau Unlimited Technology Systems yang kehilangan data 3,8 juta orang.

Vishing yang digunakan dalam serangan terhadap McKesson menunjukkan bahwa kelompok peretas semakin canggih dalam menargetkan karyawan perusahaan. Teknik ini memanfaatkan rekayasa sosial melalui panggilan telepon untuk mengelabui karyawan agar memberikan akses ke sistem internal.

Para ahli keamanan siber menyarankan perusahaan layanan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran karyawan terhadap teknik serangan vishing dan phishing. Pelatihan keamanan siber secara berkala menjadi langkah penting untuk mencegah serangan serupa di masa mendatang.

Dampak dari serangan ini tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh pasien yang datanya berhasil dicuri. Data kesehatan yang bocor dapat disalahgunakan untuk penipuan asuransi, pemerasan, atau pencurian identitas.

McKesson dan Boston Scientific kini tengah bekerja sama dengan otoritas penegak hukum dan ahli keamanan siber untuk menyelidiki serangan tersebut. Kedua perusahaan juga berupaya memulihkan sistem mereka dan memastikan layanan kepada pasien tetap berjalan.

Bagi Boston Scientific, gangguan pada aktivasi perangkat CRM menjadi perhatian utama. Pasien yang baru menjalani implantasi monitor jantung harus segera mengaktifkan perangkat mereka melalui aplikasi Clinic Assistant agar data kesehatan dapat dipantau secara optimal.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa keamanan siber di sektor layanan kesehatan membutuhkan perhatian serius. Data pasien adalah aset yang sangat berharga dan harus dilindungi dengan lapisan keamanan yang memadai, termasuk enkripsi data, autentikasi multi-faktor, dan pemantauan aktivitas jaringan secara real-time.

Kelompok ShinyHunters yang telah lama beroperasi di dunia kejahatan siber menunjukkan bahwa tidak ada organisasi yang kebal terhadap serangan. Bahkan perusahaan besar dengan sistem keamanan yang baik sekalipun dapat menjadi korban jika karyawannya berhasil ditipu melalui teknik rekayasa sosial.

Investigasi terhadap kedua serangan ini masih berlangsung, dan kemungkinan akan terungkap lebih banyak detail dalam beberapa minggu mendatang. Sementara itu, perusahaan layanan kesehatan di seluruh dunia diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan serupa.

Kasus ini juga menunjukkan pentingnya transparansi dalam menangani insiden kebocoran data. McKesson dan Boston Scientific telah mengambil langkah yang tepat dengan mengumumkan serangan secara terbuka dan memberikan informasi yang jelas kepada publik tentang dampak yang ditimbulkan.

Bagi pasien yang datanya mungkin terdampak, disarankan untuk memantau laporan kredit mereka dan waspada terhadap aktivitas mencurigakan yang memanfaatkan informasi pribadi. Perusahaan biasanya akan menghubungi pasien yang terdampak dan menawarkan layanan pemantauan kredit gratis sebagai bentuk kompensasi.

Serangan siber terhadap sektor layanan kesehatan diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya digitalisasi layanan kesehatan. Rumah sakit dan perusahaan farmasi perlu berinvestasi lebih besar dalam keamanan siber untuk melindungi data pasien yang mereka kelola.

Dengan semakin canggihnya teknik serangan seperti vishing, pelatihan karyawan menjadi komponen penting dalam strategi pertahanan. Setiap karyawan harus memahami risiko keamanan siber dan mengetahui cara mengenali serta melaporkan upaya serangan yang mencurigakan.

Kedua insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi industri layanan kesehatan global tentang pentingnya kesiapan menghadapi serangan siber. Investasi dalam keamanan siber bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi setiap organisasi yang menangani data sensitif.

Perusahaan juga perlu memiliki rencana tanggap insiden yang jelas dan teruji untuk memastikan operasional bisnis dapat berjalan meskipun menghadapi serangan siber. Langkah pemulihan yang cepat dan efektif dapat meminimalkan dampak serangan terhadap pasien dan reputasi perusahaan.

[CONTENT_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.