📑 Daftar Isi

LG webOS 25 tampil di smart TV besar yang dipasang di dinding apartemen dengan seorang pria melihat layar

LG Digugat di Portugal soal Tudingan Spionase Smart TV

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Citizens Voice meminta pengadilan Portugal menyelidiki dugaan pelanggaran privasi smart TV LG
  • Bantahan LG soal "216.000 spy TV" dinilai belum menjawab temuan uji audio offline dan kerentanan webOS
  • Organisasi konsumen mendorong penarikan sejumlah smart TV dan pembaruan model lain
  • Studi Northeastern University menguji 12 smart TV dari berbagai merek soal perilaku ACR
  • Opt-out ACR hanya berfungsi penuh di webOS, Google TV Sony, VIDAA OS, dan Fire TV OS
  • Uji coba Samsung dan Vizio tetap mengirim lalu lintas ACR meski opt-out diaktifkan

Telset.id – LG menghadapi gugatan hukum di Portugal atas tuduhan pelanggaran privasi melalui fitur pengumpulan data pada smart TV. Organisasi konsumen Citizens Voice meminta pengadilan Portugal meninjau pernyataan resmi LG yang membantah laporan tentang “216.000 spy TV”, dan menilai apakah praktik pengumpulan data tersebut melanggar hak konsumen.

Permintaan itu muncul setelah laporan pada September menuduh LG menciptakan “216.000 spy TV”, tuduhan yang dibantah perusahaan. Citizens Voice menilai bantahan LG belum menjawab secara langsung temuan uji yang melibatkan penyimpanan audio saat TV dalam kondisi offline, maupun daftar kerentanan keamanan bernama pada sistem operasi webOS.

Langkah Citizens Voice ini menjadikan smart TV sebagai medan baru sengketa privasi antara konsumen dan produsen perangkat. LG bukan satu-satunya merek yang akan menyimak jalannya proses hukum di Portugal, karena advokat konsumen lain disebut turut memperhatikan perkembangan kasus ini.

Rendered image of LG webOS 25 on a big wall mounted TV in an expensive, neutrally decorated apartment with a young man looking at the tv

Tuntutan Citizens Voice ke Pengadilan Portugal

Citizens Voice meminta pengadilan Portugal menyelidiki dan menentukan apakah pengumpulan data yang dilakukan smart TV LG melanggar hak konsumen. Jika terbukti melanggar, organisasi itu mendorong tindakan tidak hanya terhadap LG, tetapi juga terhadap peritel yang menjual perangkat tersebut.

Selain itu, Citizens Voice menyerukan agar sejumlah smart TV ditarik dari penjualan dan model lainnya diperbarui demi melindungi privasi pemirsa. Permintaan ini merujuk pada temuan teknologi TEK Notícias, yang menilai pernyataan LG tidak menjelaskan secara langsung uji penyimpanan audio saat TV offline maupun kerentanan keamanan bernama di webOS.

Kasus di Portugal ini menambah daftar panjang persoalan privasi perangkat pintar. Sebelumnya, isu serupa juga mencuat di segmen lain, seperti yang dibahas dalam laporan Keamanan Pengguna yang menyoroti komitmen pelindungan data di tengah adopsi teknologi baru.

Studi ACR: Opt-Out Tidak Selalu Berfungsi

Persoalan privasi smart TV tidak berdiri sendiri. Sebuah studi terpisah terhadap smart TV di Amerika Serikat menemukan bahwa beberapa produsen mengabaikan pilihan opt-out privasi, baik karena desain maupun kelalaian. Penelitian bertajuk Watching the Watchers itu menganalisis aktivitas automatic content recognition (ACR) pada smart TV di AS, yang dilakukan peneliti Northeastern University.

Dalam studi tersebut, peneliti menyatakan 2% rumah tangga di AS memiliki smart TV yang dapat mengambil tangkapan layar apa pun yang tampil di layar dan melaporkannya kembali. Peneliti mengukur ke mana data itu pergi, dan apakah mematikan fitur tersebut benar-benar menghentikannya.

Peneliti menguji 12 smart TV komersial dari sejumlah merek, termasuk Tizen OS milik Samsung, webOS milik LG, Roku OS, Google TV, Fire TV, VIDAA, dan Smartcast OS. Sebagian besar perangkat berperilaku baik, hanya memakai ACR pada layanan streaming miliknya sendiri, menghormati sikap no-ACR Netflix dan pihak ketiga lain, serta menyediakan opsi opt-out bagi pengguna.

Namun, opsi opt-out itu hanya “sepenuhnya berfungsi” pada empat platform: webOS, Google TV di perangkat Sony, VIDAA OS, dan Fire TV OS. Temuan ini menarik karena webOS yang disebut berfungsi penuh justru menjadi salah satu sorotan dalam laporan yang mendasari langkah Citizens Voice di Portugal.

A laptop screen showing the Watching the Watchers website

Yang lebih mengkhawatirkan, 30 dari 30 uji coba menggunakan layanan streaming milik Samsung tetap menunjukkan lalu lintas data yang konsisten dengan ACR meski pengguna sudah memilih opt-out, jika mereka menonton kanal streaming Samsung. Pada Vizio, 100% uji coba dengan opt-out tidak membuat perbedaan apa pun terhadap ACR: setiap uji coba tetap mengirim lalu lintas ke endpoint ACR Amazon Kinesis tanpa penurunan.

Peneliti menegaskan kesimpulan singkatnya: opt-out mungkin tidak sepenuhnya mengeluarkan pengguna, atau sama sekali tidak berpengaruh, tergantung smart TV yang dipakai. Studi ini melengkapi gambaran bahwa kontrol privasi pada perangkat pintar belum seragam antarplatform.

Isu perangkat pintar yang mengumpulkan data juga mencuat di kategori lain. Sebuah laporan menyoroti bagaimana perangkat rumah tangga seperti mesin kopi pintar meminta akses ke daftar kontak dan riwayat panggilan, seperti tergambar dalam dokumentasi Perangkat Pintar yang menunjukkan tren serupa di segmen wearable.

A coffee maker asking to access your call history and contacts list

Perlu dicatat, data ACR umumnya terenkripsi, kecuali pada VIDAA OS. Karena itu, peneliti tidak dapat menyatakan dengan keyakinan 100% bahwa data yang dikirim pada setiap platform benar-benar informasi ACR. Mereka hanya bisa menyimpulkan bahwa data tersebut sangat mirip dengan pola ACR.

Di sisi lain, regulator di berbagai negara semakin ketat mengawasi perangkat yang mengumpulkan data. Kebijakan terhadap komponen dan perangkat pintar juga menjadi perhatian, seperti terlihat dalam pembahasan Regulasi Gadget yang menyoroti pembatasan perangkat tertentu di pasar global.

Bagi LG, langkah Citizens Voice menjadi ujian atas transparansi kebijakan data smart TV-nya. Gugatan di Portugal akan menentukan apakah pengumpulan data yang dipermasalahkan melanggar hak konsumen, dan jika ya, apakah peritel turut dimintai tanggung jawab. Sementara itu, studi Northeastern University menunjukkan bahwa produsen smart TV di berbagai merek masih memiliki pekerjaan rumah yang sama: memastikan opt-out benar-benar berarti opt-out.

[IMAGE_METADATA_PLACEHOLDER]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.