📑 Daftar Isi

Ilustrasi penghapusan data cloud Microsoft 365 milik organisasi nirlaba yang tidak dapat dipulihkan

Microsoft Hapus Data M365 Nirlaba, Tak Bisa Dipulihkan

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Microsoft hapus data M365 organisasi nirlaba saat peralihan lisensi Business Premium Grant
  • Data hilang permanen dan tak bisa dipulihkan, tanpa log resmi dari Microsoft
  • Lisensi Business Premium Grant dihentikan, kedaluwarsa 1 April 2026
  • Organisasi terdampak kehilangan email, dokumen, dan data kritis di OneDrive
  • Microsoft tawarkan concierge service, Google Workspace dan Zoho jadi alternatif

Telset.id – Microsoft mengakui telah menghapus data berbasis cloud milik sejumlah organisasi nirlaba berlisensi Microsoft 365 Business Premium Grant secara tidak sengaja, dan data tersebut tidak dapat dipulihkan. Insiden ini terjadi di tengah proses peralihan lisensi yang seharusnya berjalan mulus, namun berujung pada hilangnya data yang tersimpan di OneDrive cloud Microsoft 365. Organisasi yang terdampak kini menghadapi risiko kehilangan email hingga dokumen penting, kecuali mereka memiliki cadangan data sendiri.

Pengakuan ini menjadi pukulan bagi organisasi nirlaba yang bergantung pada layanan cloud untuk operasional sehari-hari. Microsoft tidak hanya mengakui kehilangan data, tetapi juga tidak mampu memberikan daftar, spreadsheet, maupun log mengenai apa saja yang hilang. Artinya, organisasi yang terdampak tidak memiliki gambaran jelas soal seberapa besar kerugian yang mereka alami.

Kasus ini bermula dari keputusan Microsoft untuk menghentikan lisensi Microsoft 365 Business Premium Grant, yang memang dikhususkan bagi organisasi nirlaba. Lisensi ini sebelumnya menyediakan 10 lisensi gratis bagi organisasi yang memenuhi syarat. Pengumuman penutupan lisensi tersebut disampaikan pada awal 2025.

Kronologi Peralihan Lisensi yang Berujung Malapetaka

Dalam email yang dikirimkan kepada pemegang lisensi, Microsoft menyatakan bahwa hibah Microsoft 365 Business Premium akan dihentikan pada pembaruan berikutnya pada atau setelah 1 Juli 2025. Lisensi tersebut dijadwalkan kedaluwarsa pada 1 April 2026. Microsoft juga menyebutkan akan tetap menyediakan hingga 300 lisensi hibah Microsoft 365 Business Basic serta diskon hingga 75 persen untuk berbagai penawaran Microsoft 365 bagi organisasi nirlaba, termasuk Microsoft 365 Business Premium.

Setelah keputusan diambil, lisensi seharusnya dimigrasikan ke Microsoft 365 Business Basic atau Microsoft 365 Business Premium, sesuai kebutuhan organisasi bersangkutan. Email dan dokumen seharusnya tidak terpengaruh oleh proses peralihan ini. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: data hilang.

Seluruh organisasi dengan langganan Business Premium yang kedaluwarsa terdampak oleh insiden ini. Microsoft menawarkan layanan “concierge service” secara komplementer untuk membantu organisasi tersebut menyiapkan akun pada lisensi Microsoft 365 Business Basic yang baru. Tawaran ini berlaku dengan asumsi organisasi yang bersangkutan belum beralih ke Google Workspace.

A thumb over the OneDrive logo on a phone

Menurut laporan yang beredar, Microsoft mengakui bahwa “data tidak dapat dipulihkan” dan juga tidak dapat menyediakan daftar, spreadsheet, atau log apa pun terkait apa yang hilang. Kondisi ini meninggalkan organisasi nirlaba, terutama yang memiliki kebutuhan lisensi rendah dan beroperasi dengan dana minim, tanpa akses ke data yang mereka simpan di OneDrive cloud Microsoft 365.

Mereka juga kehilangan akses ke email, yang berpotensi memuat detail kontrak, penggalangan dana, dan informasi kritis lainnya. Microsoft menyatakan penyesalan dan berupaya menangani situasi dengan menawarkan spesialis untuk membantu organisasi terdampak menyiapkan akun Microsoft 365 baru. Namun, karena data sudah hilang dan tidak ada lagi proses migrasi yang harus dijalani, sejumlah pihak menilai Google Workspace atau bahkan Zoho Workplace menjadi opsi yang lebih kuat.

Insiden ini menambah daftar panjang masalah yang melibatkan layanan cloud Microsoft. Sebelumnya, beredar pula laporan mengenai kontraktor Microsoft Copilot yang membeberkan prompt gambar vulgar dari pengguna, menunjukkan bahwa pengelolaan data dan moderasi layanan Microsoft tengah menjadi sorotan.

Dampak bagi Organisasi Nirlaba dan Pilihan Alternatif

Organisasi nirlaba yang terdampak berada dalam posisi sulit. Mereka tidak hanya kehilangan data, tetapi juga tidak memiliki catatan resmi mengenai apa yang hilang. Tanpa cadangan mandiri, situasi ini tidak dapat dipulihkan. Bagi organisasi dengan sumber daya terbatas, kehilangan email yang memuat detail kontrak dan penggalangan dana bisa berdampak signifikan pada kelangsungan operasional mereka.

Microsoft sendiri telah menyatakan permintaan maaf dan menawarkan bantuan berupa spesialis untuk menyiapkan akun Microsoft 365 baru. Namun, tawaran ini tidak mengembalikan data yang telah hilang. Karena tidak ada lagi beban migrasi yang harus dihadapi, sejumlah pengamat menilai momen ini justru menjadi peluang bagi organisasi untuk mempertimbangkan platform lain seperti Google Workspace atau Zoho Workplace.

Young woman using laptop, looking annoyed

Dalam konteks yang lebih luas, insiden ini memperlihatkan bagaimana keputusan bisnis di tingkat korporasi dapat berdampak langsung pada organisasi kecil yang bergantung pada layanan tersebut. Microsoft 365 Business Premium Grant memang dirancang untuk organisasi nirlaba dengan kebutuhan lisensi rendah, yang umumnya beroperasi dengan dana minim. Ketika data mereka hilang tanpa bisa dipulihkan, dampaknya tidak sekadar teknis, tetapi juga menyangkut keberlanjutan misi sosial organisasi tersebut.

Hingga kini, Microsoft belum merinci berapa banyak organisasi yang terdampak maupun nilai kerugian yang timbul. Yang jelas, pengakuan bahwa data tidak dapat dipulihkan dan ketiadaan log resmi membuat posisi organisasi nirlaba semakin lemah. Mereka yang tidak memiliki cadangan sendiri harus menerima kenyataan bahwa data di OneDrive cloud Microsoft 365 mereka hilang permanen.

Bagi organisasi yang belum beralih, keputusan untuk bermigrasi ke Microsoft 365 Business Basic tetap tersedia melalui layanan concierge dari Microsoft. Namun, bagi yang sudah mempertimbangkan alternatif, Google Workspace dan Zoho Workplace disebut sebagai pilihan yang lebih kuat mengingat tidak ada lagi proses migrasi yang harus dijalani. Situasi ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada satu penyedia cloud menyimpan risiko yang nyata, terutama ketika terjadi kesalahan prosedural di sisi penyedia layanan.

Insiden penghapusan data ini menegaskan pentingnya cadangan mandiri bagi organisasi yang menyimpan data kritis di cloud. Tanpa cadangan, kesalahan sekecil apa pun dalam proses peralihan lisensi bisa berujung pada kehilangan data permanen, seperti yang dialami organisasi nirlaba pengguna Microsoft 365 Business Premium Grant saat ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.