Telset.id – Janji Microsoft untuk membangun infrastruktur AI yang mengutamakan komunitas di sekitar pusat datanya kini dipertanyakan. Sejumlah aktivis di South Bend, Indiana, menilai komitmen perusahaan tersebut tidak berjalan sesuai yang diumumkan, terutama setelah mereka kesulitan mendapatkan dukungan dana untuk layanan sosial di wilayah yang terdampak pembangunan pusat data hyperscale seluas 900 acre.
Persoalan ini bermula dari tulisan Presiden Microsoft Brad Smith pada Januari lalu. Dalam blognya, Smith memaparkan rencana lima poin untuk bermitra dengan komunitas lokal di Amerika Serikat. Rencana itu mencakup komitmen membayar kewajiban perusahaan agar pusat data tidak menaikkan harga listrik warga, menciptakan lapangan kerja bagi penduduk setempat, serta memperkuat komunitas melalui investasi pada pelatihan AI lokal dan organisasi nirlaba. Smith bahkan menegaskan rencana mengirim “liaison Microsoft” ke kota-kota tempat pusat data AI perusahaan dibangun.
Namun, kelompok komunitas We Make Indiana menemukan kenyataan yang berbeda. We Make Indiana adalah koalisi yang terdiri dari 25 organisasi lintas iman, asosiasi penegak hukum, organisasi kesehatan mental, dan berbagai nirlaba lain. Mereka berbasis di South Bend, kota dengan lebih dari 20 persen penduduk hidup di bawah garis kemiskinan federal, yakni hanya 15.960 dolar AS per tahun untuk individu dan 33.000 dolar AS untuk keluarga.
Kondisi tersebut membuat program pemerintah yang kekurangan dana, seperti layanan kesehatan komunitas, perawatan anak dan lansia publik, perumahan terjangkau, serta transportasi umum yang efisien, menjadi sangat penting bagi warga. Karena itu, We Make Indiana mengasumsikan Microsoft dapat turut membantu, mengingat perusahaan sedang membangun pusat data hyperscale seluas 900 acre di dekat wilayah mereka.
Asisten profesor di University of Notre Dame, Ryan Juskus, menggambarkan situasi ini seperti meminta Microsoft membantu menyelesaikan persoalan yang ditinggalkan negara bagian. “Ini seperti meminta Microsoft membantu kami menyelesaikan tantangan kami ketika negara bagian telah meninggalkan kami,” ujar Juskus kepada Ars Technica.

Setelah We Make Indiana mendekati perwakilan lokal Microsoft untuk meminta sebagian kecil dari pendapatan, di mana hanya satu persen saja dapat menyediakan 30 hingga 40 juta dolar AS per tahun bagi program lokal, para liaison mengabaikan proposal tersebut. Kelompok yang secara teori seharusnya mereka dukung justru tersisih. Ars Technica melaporkan bahwa liaison perusahaan hampir tidak merespons para aktivis lokal.
Persoalan sesungguhnya lebih besar dari sekadar sikap beberapa perwakilan perusahaan. We Make Indiana kemudian mengetahui bahwa liaison Microsoft hanya berwenang memberikan donasi satu kali dari total alokasi sebesar 1 juta dolar AS, dan hanya untuk organisasi nirlaba, bukan untuk program pemerintah atau lembaga publik-swasta. Keterbatasan itu dinilai mengecewakan para aktivis lokal.
Mereka berargumen bahwa pajak dari pusat data Microsoft senilai 1 miliar dolar AS seharusnya dapat melayani warga South Bend dan sekitarnya, jika saja pejabat pemerintah tidak menyetujui pengurangan pajak yang besar. Analisis Mirror Indy pada 2025 mencatat total pendapatan pajak yang hilang akibat pemberian semacam itu diproyeksikan mencapai 900 juta dolar AS di seluruh negara bagian. Angka tersebut kini kemungkinan lebih tinggi seiring berlanjutnya pengembangan pusat data di Indiana.
Juskus menilai donasi yang diizinkan Microsoft “sangat kecil, mengingat skala proyeknya.” Ia menegaskan bahwa dalam lingkungan lokal dan nasional yang cepat berubah, pihaknya akan terus mengorganisasi komunitas dan pemimpin terpilih untuk menggunakan setiap pengaruh yang dimiliki agar Microsoft mau duduk di meja perundingan untuk percakapan dan negosiasi yang nyata. “Microsoft mengklaim ingin menjadi tetangga yang baik, tetapi penilaiannya masih belum jelas,” ujarnya kepada Ars.
Baca Juga:
Kasus di South Bend ini menyoroti bagaimana langkah strategi perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat menghadapi ujian di tingkat lokal. Komitmen yang tertulis di blog resmi berbenturan dengan mekanisme donasi yang terbatas dan tidak menyentuh program publik yang paling membutuhkan.
Bagi warga South Bend, ketimpangan antara skala investasi pusat data dan manfaat langsung yang mereka terima menjadi persoalan nyata. We Make Indiana menilai janji “community-first” belum terwujud dalam bentuk dukungan yang signifikan bagi layanan sosial di wilayah mereka.
Sementara itu, perdebatan mengenai peran perusahaan teknologi dalam komunitas lokal terus berlangsung. Juskus menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti mendorong dialog yang serius dengan Microsoft. Hingga kini, belum ada kejelasan apakah perusahaan akan merevisi pendekatannya terhadap komunitas di sekitar pusat data AI-nya.
Pernyataan Microsoft dalam blog Smith menyebutkan bahwa kontribusi yang lebih luas harus dimulai dari mendengarkan, karena warga paling tahu apa yang dibutuhkan kota mereka dan organisasi mana yang paling tepat untuk berbuat lebih banyak. Namun, pengalaman We Make Indiana menunjukkan bahwa implementasi di lapangan masih jauh dari harapan yang dibangun dalam narasi perusahaan.
Kasus ini menjadi catatan penting bagi publik yang mengikuti perkembangan kebijakan Microsoft dan dampaknya terhadap masyarakat luas. Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi lebih lanjut dari Microsoft terkait keluhan We Make Indiana.





Komentar
Belum ada komentar.