Ilustrasi logo Nvidia dengan latar belakang teknologi

Nvidia Perketat Daftar Klien untuk Cegah Penyelundupan Chip ke China

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Nvidia membuat daftar putih baru untuk klien yang telah terverifikasi guna mencegah penyelundupan chip ke China
  • Jumlah klien resmi dipangkas lebih dari setengah setelah inspeksi kepatuhan ketat
  • Langkah ini dipicu penangkapan salah satu pendiri Supermicro atas dugaan penyelundupan $2,5 miliar
  • Penindakan juga meluas ke Singapura dan Taiwan
  • China menolak membeli chip H200 yang diizinkan ekspor, lebih memilih chip dalam negeri
  • Semua pemasok chip China sudah kehabisan stok, perusahaan bahkan mempertimbangkan chip kurang bertenaga

Telset.id – Nvidia, raksasa teknologi AI yang memproduksi chip paling diburu di dunia, dilaporkan telah membuat daftar putih baru perusahaan yang telah terverifikasi untuk mencegah produknya diselundupkan ke China. Langkah tegas ini memangkas jumlah klien resmi hingga lebih dari setengahnya.

Menurut laporan Financial Times, daftar baru ini secara drastis mengurangi jumlah klien yang berwenang. Perusahaan yang tersisa harus melewati inspeksi kepatuhan yang lebih ketat untuk memastikan bahwa mereka adalah bisnis yang sah, bukan perusahaan cangkang yang dirancang untuk meneruskan GPU dan server Nvidia ke China. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap tekanan dari Washington untuk memperketat kepatuhan hukum perusahaan.

Beberapa langkah yang diambil Nvidia untuk mengamankan chipnya termasuk mengirim staf ke pusat data pelanggan, verifikasi kontrak, dan mewawancarai pengguna akhir. Sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada publikasi tersebut bahwa langkah ini diambil setelah Washington menekan Nvidia untuk memperketat kepatuhan hukumnya.

Langkah ini terjadi beberapa bulan setelah penangkapan salah satu pendiri Supermicro, Yih-Shyan “Wally” Liaw, bersama dua tersangka lainnya, atas dugaan penyelundupan perangkat keras Nvidia senilai $2,5 miliar ke China. Penindakan ini juga meluas ke Singapura, yang menyita sebuah rumah mewah senilai $42 juta yang terkait dengan dugaan penyelundup GPU AI, dan Taiwan, di mana pihak berwenang menggerebek kantor Supermicro dan dua mitra rantai pasokan sebagai bagian dari penyelidikan penyelundupan chip.

Meskipun Amerika Serikat telah melarang ekspor GPU AI terbaru ke China sejak 2022, berbagai investigasi menunjukkan bahwa perusahaan China masih bisa dengan mudah mendapatkan chip-chip ini hingga baru-baru ini. Penindakan Washington dan sekutunya terhadap penyelundupan GPU AI telah memangkas pasokan di China, yang kini membuat perusahaan AI semakin sulit mendapatkan prosesor yang mereka butuhkan.

Presiden Donald Trump melakukan perubahan haluan pada Desember 2025 dan akhirnya mengizinkan Nvidia untuk mengekspor GPU H200 ke pelanggan tertentu di kawasan tersebut, yang seharusnya dapat meredakan situasi. Namun, Beijing menolak mengizinkan perusahaan China membeli prosesor AI ini — sebaliknya, mereka mengandalkan produsen semikonduktor dalam negeri untuk menutupi kekurangan pasokan, tetapi tampaknya itu masih belum cukup.

Seorang eksekutif teknologi bahkan mengatakan kepada Financial Times bahwa semua pemasok domestik sudah kehabisan stok dan mereka bahkan mempertimbangkan chip yang kurang bertenaga, asalkan bisa digunakan. Situasi ini menciptakan tekanan besar bagi perusahaan AI China yang bergantung pada chip Nvidia untuk mengembangkan model mereka.

Nvidia logo

Seiring Nvidia membersihkan daftar klien yang telah diverifikasi dan mempersulit perusahaan yang tidak tervalidasi untuk mendapatkan chipnya, perusahaan juga telah meminta mitranya untuk memperbaiki kepatuhan kontrol ekspor mereka. “Kami bersikeras mitra kami patuh,” kata CEO Nvidia, Jensen Huang, kepada media pada Mei lalu setelah Taiwan memulai operasi terhadap penyelundupan chip AI ke China. “Kami berharap mereka akan meningkatkan dan memperbaiki kepatuhan regulasi mereka dan mencegah hal itu terjadi di masa depan.”

Langkah Nvidia ini menunjukkan betapa seriusnya perusahaan dalam mematuhi peraturan ekspor AS. Dengan membuat daftar putih yang ketat, Nvidia berharap dapat memblokir jalur penyelundupan yang selama ini digunakan untuk mengirim chip AI tercanggih ke China. Dampaknya langsung terasa: pasokan chip Nvidia di pasar gelap China menyusut drastis, membuat perusahaan AI lokal kesulitan mendapatkan pasokan.

Kebijakan baru ini juga menimbulkan konsekuensi bagi pasar global. Dengan berkurangnya jumlah klien resmi, Nvidia mungkin harus mencari pasar alternatif untuk menjual chipnya. Di sisi lain, China yang menolak membeli chip Nvidia yang diizinkan ekspor justru mendorong pengembangan chip dalam negeri, meskipun hasilnya belum mampu menyaingi performa Nvidia.

Para analis memperkirakan bahwa ketegangan ini akan terus berlanjut dalam waktu dekat. Washington kemungkinan akan terus memperketat kontrol ekspor, sementara Beijing akan terus mencari cara untuk mendapatkan teknologi AI tercanggih, baik melalui pengembangan lokal maupun jalur alternatif. Nvidia berada di tengah pusaran geopolitik ini, harus menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan kepatuhan regulasi.

Kisruh penyelundupan chip Nvidia ke China bukan hanya masalah hukum, tetapi juga mencerminkan persaingan teknologi global yang semakin memanas. Chip AI menjadi komoditas strategis yang diperebutkan negara adidaya, dan Nvidia menjadi aktor kunci dalam pertarungan ini. Dengan kebijakan baru ini, Nvidia berusaha menunjukkan komitmennya terhadap kepatuhan, namun tantangan ke depannya masih panjang.

Langkah Nvidia untuk memperketat daftar klien juga berdampak pada rantai pasokan global. Perusahaan yang sebelumnya menjadi mitra resmi kini harus menjalani audit kepatuhan yang lebih ketat. Beberapa di antaranya mungkin kehilangan status sebagai klien resmi jika tidak memenuhi standar baru Nvidia. Hal ini berpotensi mengganggu pasokan chip AI ke berbagai negara, tidak hanya China.

Di sisi lain, penindakan terhadap penyelundupan chip juga membuka celah baru. Pihak berwenang di Taiwan, Singapura, dan Amerika Serikat kini lebih waspada terhadap modus penyelundupan yang semakin canggih. Penggerebekan di kantor Supermicro dan mitranya di Taiwan menunjukkan bahwa jaringan penyelundupan ini sangat terorganisir dan melibatkan banyak pihak.

Nvidia sendiri belum memberikan komentar resmi mengenai laporan ini. Namun, pernyataan Jensen Huang sebelumnya menunjukkan bahwa perusahaan sangat serius dalam menegakkan kepatuhan. “Kami bersikeras mitra kami patuh,” tegasnya. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Nvidia tidak akan mentolerir pelanggaran aturan ekspor.

Dengan kebijakan baru ini, Nvidia berharap dapat memulihkan kepercayaan regulator AS. Pasalnya, pelanggaran kepatuhan ekspor dapat berakibat fatal bagi perusahaan, termasuk sanksi berat dari pemerintah AS. Oleh karena itu, langkah preventif ini dianggap perlu meskipun berpotensi mengurangi jumlah pelanggan.

Bagi perusahaan AI China, situasi ini semakin sulit. Mereka harus mencari alternatif pasokan chip, baik dari produsen lokal maupun dari pasar gelap yang risikonya tinggi. Beberapa perusahaan bahkan mulai beralih ke chip yang kurang bertenaga karena tidak punya pilihan lain. Kondisi ini diperkirakan akan memperlambat perkembangan AI di China dalam jangka pendek.

Namun, dalam jangka panjang, tekanan ini justru bisa mendorong China untuk mempercepat pengembangan chip AI dalam negeri. Pemerintah China telah mengalokasikan dana besar untuk riset dan pengembangan semikonduktor. Jika berhasil, China bisa menjadi pemain mandiri di industri chip AI, mengurangi ketergantungan pada Nvidia.

Persaingan teknologi antara AS dan China di bidang AI diprediksi akan semakin sengit. Chip AI menjadi senjata utama dalam pertarungan ini, dan Nvidia berada di garis depan. Kebijakan daftar putih ini adalah salah satu langkah dalam permainan catur geopolitik yang kompleks, di mana setiap langkah memiliki konsekuensi besar bagi industri teknologi global.

Dengan situasi yang terus berkembang, para pelaku industri dan analis akan terus memantau langkah Nvidia selanjutnya. Apakah daftar putih ini akan efektif mencegah penyelundupan? Atau justru akan memicu munculnya modus baru yang lebih sulit dideteksi? Yang jelas, chip AI Nvidia akan terus menjadi komoditas paling diburu, dan perjuangan untuk mengontrol distribusinya baru saja dimulai.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.