📑 Daftar Isi

Drone kargo otonom Egret Poseidon Aerospace tanpa kokpit dengan rentang sayap 50 kaki

Poseidon Aerospace Uji Drone Kargo Egret Tanpa Kokpit di Oregon

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Poseidon Aerospace kembangkan Egret, drone kargo otonom rentang sayap 50 kaki berkapasitas 4.000 pon tanpa kokpit
  • Dikembangkan David Zagaynov (eks Amazon) dan Parker Tenney (eks Lockheed Martin) untuk tekan biaya angkutan barang
  • Dikendalikan operator jarak jauh via kamera dan kontrol throttle, flap, rudder dari stasiun darat
  • Uji terbang dijadwalkan di Oregon, diklaim jadi drone kargo terbesar yang diterbangkan di AS
  • Poseidon raih pendanaan Seri A 60 juta dolar AS dipimpin TQ Ventures
  • Jangkauan, kecepatan jelajah, konsumsi bahan bakar, dan biaya operasional belum diungkap

Telset.id – Poseidon Aerospace tengah mengembangkan Egret, drone kargo otonom dengan rentang sayap 50 kaki yang dirancang mengangkut muatan besar tanpa pilot manusia di dalamnya. Pesawat nirawak ini mampu menampung hingga 4.000 pon barang, dengan ruang internal yang sepenuhnya dialokasikan untuk kargo alih-alih kokpit dan peralatan kontrol penerbangan konvensional. Langkah ini menjadi sinyal bahwa biaya transportasi barang udara berpotensi ditekan, meski penerbangan uji Egret yang akan datang masih harus membuktikan kemampuan operasionalnya.

Egret dikembangkan oleh David Zagaynov, mantan insinyur Amazon yang berfokus pada logistik, bersama Parker Tenney, lulusan teknik mesin yang sebelumnya bekerja di Lockheed Martin. Berbeda dari pesawat kargo konvensional yang diadaptasi dari desain penumpang atau pesawat berawak, Egret dirancang sejak awal untuk mengangkut barang tanpa memerlukan operator manusia di dalam pesawat.

Konsep ini dijelaskan Zagaynov sebagai padanan udara dari angkutan truk. Menurutnya, penerbangan otonom ditujukan untuk memindahkan kiriman antar lokasi secara ekonomis.

“Ya, jadi kami membangun truk otonom di langit agar bisa memindahkan barang sehemat mungkin dari titik A ke titik B,” ujarnya seperti dikutip dalam laporan tersebut.

Penghapusan kokpit menjadi inti desain Egret. Tanpa ruang untuk pilot, volume internal pesawat bisa dimaksimalkan untuk mengangkut barang, sekaligus mengurangi bobot yang biasanya dibutuhkan untuk mengakomodasi kru. Dengan begitu, struktur pesawat dapat difokuskan primarily untuk membawa kargo.

Poseidon Aerospace cockpit-less cargo drone Egret

Pengembangan Egret bukan proyek pertama Poseidon Aerospace. Perusahaan sebelumnya membangun V0, prototipe yang sempat mengalami beberapa kali desain ulang sebelum akhirnya menyelesaikan penerbangan sukses dalam pengujian. Poseidon kemudian mengembangkan Seagull, prototipe berskala seperempat dari pesawat Heron yang dirancang beroperasi di atas air dengan struktur serat karbon ringan.

Seagull juga telah digunakan Poseidon dalam sejumlah demonstrasi bersama pelanggan dan organisasi, termasuk Department of War, Navy, dan Special Operations Command. Rekam jejak ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak memulai dari nol dalam pengembangan sistem udara otonom, meski Egret berada pada skala yang jauh lebih besar.

Kontrol Jarak Jauh Gantikan Pilot di Kokpit

Meski tidak memiliki kokpit untuk pilot manusia, Egret tidak dirancang beroperasi tanpa pengawasan manusia pada tahap pengujian dan prosedur kontrol awalnya. Stasiun kontrol darat Poseidon memungkinkan operator jarak jauh mengendalikan penerbangan melalui umpan kamera langsung serta kontrol untuk throttle, flap, rudder, dan permukaan kendali penerbangan lainnya.

Pengaturan ini memisahkan pilot dari pesawat, memungkinkan operasi jarak jauh sambil tetap mempertahankan kendali manusia atas fungsi penerbangan kritis selama pengujian. Namun, pendekatan tersebut tetap membutuhkan validasi keberhasilan atas kontrol penerbangan, komunikasi, dan keandalan pesawat sebelum perusahaan dapat menetapkan bagaimana sistem bekerja dalam kondisi operasional.

Poseidon memperkirakan Egret akan menjalani pengujian di Oregon. Zagaynov menyebut pesawat ini akan menjadi drone kargo terbesar yang pernah diterbangkan di Amerika Serikat. Klaim tersebut menjadi salah satu tolok ukur yang akan diuji langsung melalui penerbangan perdana.

Dari sisi pendanaan, Poseidon telah mengumpulkan 60 juta dolar AS dalam putaran pendanaan Seri A yang dipimpin TQ Ventures. Dana tersebut akan membiayai pengembangan penerbangan otonom perusahaan. Namun, informasi yang tersedia tidak menyebutkan jangkauan, kecepatan jelajah, konsumsi bahan bakar, maupun biaya operasional Egret, sehingga potensi efisiensi angkutan barangnya masih belum diketahui.

Ketidakpastian soal spesifikasi teknis ini menjadi catatan penting. Tanpa data jangkauan dan konsumsi bahan bakar, klaim bahwa Egret dapat menekan biaya angkutan barang belum bisa diverifikasi secara angka. Penerbangan uji di Oregon akan menjadi momen krusial untuk melihat apakah desain tanpa kokpit benar-benar menghadirkan efisiensi seperti yang dijanjikan.

Di sisi lain, tren kendaraan udara otonom untuk logistik memang terus berkembang. Berbagai pihak, termasuk kalangan militer dan industri pertahanan, tengah menguji sistem serupa untuk mengirim barang tanpa awak. Perkembangan ini sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap otomasi di sektor transportasi dan pertahanan, seperti terlihat dari berbagai inisiatif teknologi yang tengah berjalan, termasuk yang dibahas dalam Hybrid AI di ajang teknologi global.

Untuk konteks industri yang lebih luas, pengembangan drone kargo otonom juga bersinggungan dengan riset dan inovasi yang tengah berlangsung di berbagai belahan dunia. Kompetisi dan ajang keterampilan teknologi, misalnya, menjadi wadah bagi talenta muda untuk mengasah kemampuan di bidang yang relevan, seperti yang tergambar dalam WorldSkills Competition yang diikuti peserta dari berbagai negara.

Bagi Poseidon Aerospace sendiri, Egret adalah taruhan besar. Dengan pendanaan 60 juta dolar AS dan klaim sebagai drone kargo terbesar yang akan diterbangkan di Amerika Serikat, perusahaan perlu membuktikan bahwa konsep tanpa kokpit bukan sekadar efisiensi di atas kertas. Validasi kontrol penerbangan, komunikasi, dan keandalan pesawat akan menentukan apakah Egret bisa masuk ke tahap operasional.

Sampai informasi jangkauan, kecepatan, dan biaya operasional tersedia, potensi Egret sebagai solusi angkutan barang murah masih terbuka untuk diuji. Yang jelas, langkah Poseidon Aerospace menambah daftar upaya industri dalam mendorong logistik udara otonom, dan penerbangan uji di Oregon akan menjadi indikator awal apakah pendekatan ini mampu memenuhi ekspektasi biaya yang dijanjikan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.