📑 Daftar Isi

Logo dan suasana kantor Proton yang menegaskan komitmen keamanan dan privasi dalam penggunaan AI

Proton Janji Penggunaan AI Tak Korbankan Keamanan Pengguna

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Proton berjanji penggunaan AI tidak akan mengorbankan keamanan dan privasi pengguna.
  • Perusahaan membatalkan rencana wawancara ulang karyawan soal penggunaan AI dan menegaskan tidak ada PHK terkait AI.
  • Proton tidak memasang pelacak di laptop karyawan untuk mengukur kode hasil AI.
  • CTO Bart Butler merilis manifesto "AI @ Proton" yang menyebut "Programming sudah mati".
  • Proton akan membuka sejumlah alat internal dan menghadirkan versi Lumo yang lebih canggih.

Telset.id – Proton memastikan penggunaan kecerdasan buatan atau AI di lingkungan internal perusahaan tidak akan mengorbankan keamanan produk dan privasi pengguna. Janji itu disampaikan setelah perusahaan asal Swiss tersebut diterpa laporan bocor soal rencana mewawancarai ulang karyawan terkait penggunaan AI, yang sempat memicu kekhawatiran soal nasib pekerja.

Melalui pernyataan di media sosial X, Proton menyampaikan tiga komitmen kepada komunitasnya, termasuk pengguna Proton Mail dan Proton VPN. Perusahaan menegaskan tidak akan mewawancarai ulang sebagian karyawan soal cara mereka memakai AI, tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja yang berkaitan dengan penggunaan AI, dan menegaskan bahwa penggunaan AI tidak akan pernah mengorbankan keamanan.

Proton juga berjanji tidak memasang perangkat lunak pelacak di laptop karyawan untuk mengukur seberapa banyak kode hasil AI yang mereka produksi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan memulihkan kepercayaan komunitas setelah kebijakan internalnya bocor ke publik.

Proton VPN on iPhone
Proton menegaskan penggunaan AI tidak akan mengorbankan keamanan produk dan privasi pengguna. (Image credit: Proton)

Proton Akui Tak Penuhi Standar Tinggi

Dalam pernyataannya, Proton mengakui pihaknya belum “memenuhi standar tinggi yang seharusnya komunitas pegang” terhadap perusahaan. Pengakuan itu muncul sebagai reaksi atas kisah bocor yang menyebut AI akan dipaksakan ke seluruh perusahaan dengan ancaman kehilangan pekerjaan bagi staf yang tidak patuh.

Sebagai bagian dari komitmen transparansi, Proton berjanji merilis secara publik dan membuka sumber sejumlah alat internalnya. Perusahaan juga akan mempublikasikan bagaimana proses tinjauan kode dan tinjauan keamanan dilakukan, sebagai bukti bahwa pihaknya menepati janji.

Pengumuman tersebut datang bersamaan dengan gelombang dukungan dari sejumlah karyawan aktif Proton di Reddit dan X. Mereka menyebutkan nama masing-masing secara terbuka dan membantah banyak hal yang dinyatakan dalam surel bocor awal. Meski begitu, sebagian komentator di platform tersebut menduga hal ini bisa jadi bagian dari respons humas yang terkoordinasi.

Manifesto AI Proton: “Programming” Mati?

Terlepas dari polemik wawancara ulang, komitmen Proton untuk memakai AI guna mendorong perusahaan ke depan tetap jelas. Pada Minggu, 1 November, dua hari setelah kisah bocor dipublikasikan, CTO Proton Bart Butler mempublikasikan detail memo perusahaan soal penggunaan AI berjudul “AI @ Proton, Engineering Manifesto”. Memo itu disebut telah dikirim ke staf sebulan sebelum insiden terjadi.

Dalam manifesto tersebut, Butler menegaskan posisi Proton soal bagaimana engineer perangkat lunak seharusnya memakai AI. “Pekerjaan Anda telah berubah secara fundamental. Tugasnya bukan lagi menulis kode, dan LLM tidak hadir untuk membantu Anda menulis kode lebih baik dengan lebih cepat,” tulis Butler dalam teks tebal seperti dikutip dari manifesto.

“Tugas Anda adalah membantu LLM menulis kode lebih baik dengan lebih cepat. Setiap engineer kini adalah pemimpin tim, seorang manajer, dan bawahan langsung Anda adalah model serta agen yang Anda gunakan,” lanjutnya.

Butler juga menekankan pentingnya peran staf dan di mana nilai mereka berada. “Ini bukan kematian keahlian. LLM itu cepat. Anda lambat, tetapi Anda membawa pengalaman seumur hidup, pengambilan keputusan, dan pemahaman,” tulisnya.

Meski menenangkan bagi engineer berpengalaman, pernyataan itu bisa jadi bacaan yang lebih berat bagi lulusan baru yang mencari pekerjaan pertama di industri ini. Butler menambahkan bahwa manifesto tersebut juga bukan berarti kematian praktik engineering yang baik. “Maintainability dan velocity lebih baik pada codebase yang terarsitektur dengan baik. Dokumentasi dan pengujian tetap krusial,” ujarnya.

Manifesto ditutup dengan seruan yang menyoroti dunia yang berubah dan upaya Proton bersama karyawannya untuk mengikutinya. “Intinya adalah kita berada di dunia baru. ‘Programming’ sudah mati. Engineering tidak, begitu pula keahlian. Pekerjaan lama Anda telah hilang. Pekerjaan baru Anda sebagai builder akan memungkinkan Anda berbuat lebih banyak dan berdampak lebih besar dari sebelumnya, jika Anda menangkap peluangnya,” tutup Butler.

Two robotic faces in green and red indicating a good bot and a bad bot representing the positive and negative impacts of AI and chatbots.

Dengan penting dan spesifiknya permintaan penggunaan AI dalam manifesto tersebut, bukan hal yang mengada-ada bila laporan bocor soal wawancara ulang staf memiliki dasar. Namun belum pasti seberapa keras Proton awalnya berniat melakukan audit praktik AI tersebut. Pernyataan reaksioner di media sosial jelas menunjukkan penyesalan atas sebagian dari persoalan, entah itu perlakuan terhadap karyawan, anggapan bahwa kode produk bisa kurang aman karena penggunaan AI, atau keduanya.

Dari sisi pelanggan, ada satu hasil lain yang lebih solid dan menarik: peningkatan pada Lumo, AI berbasis privasi milik Proton, diperkirakan hadir lebih cepat. Sebagai bagian dari transparansi alat internal yang dijanjikan, perusahaan akan membuka “versi Lumo yang lebih canggih dengan kemampuan lebih besar, yang belum pernah tersedia di luar perusahaan”.

Langkah tersebut sekaligus menjadi pengalih perhatian yang berguna bagi publik, sementara Proton membenahi persoalan internalnya. Sebelumnya, Proton juga sempat menyoroti risiko privasi lain, seperti yang terangkum dalam laporan game gratis Android yang mengirim data ke China dan Rusia.

Di sisi lain, Proton terus memperluas perannya sebagai perusahaan yang vokal soal privasi. Perusahaan ini bahkan menantang Google untuk membangun ekosistem privasi, sebagaimana terlihat dalam strategi Andy Yen. Langkah tersebut menunjukkan bahwa isu privasi dan keamanan tetap menjadi fondasi utama Proton, termasuk dalam penerapan AI di internal perusahaan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.