Telset.id – Kabar buruk datang bagi para PC enthusiast yang berharap kehadiran Nvidia RTX 5080 Super mampu meredam lonjakan harga GPU. Laporan terbaru menyebut kartu grafis berkapasitas 24GB VRAM itu kemungkinan besar tidak akan meluncur pada Januari 2027 seperti rumor sebelumnya, di tengah situasi harga GPU yang semakin tidak terkendali.
Informasi ini pertama kali dilaporkan situs teknologi Taiwan, Benchlife, yang dikutip VideoCardz. Menurut laporan tersebut, Nvidia disebut telah menunda peluncuran RTX 5080 Super. Status peluncurannya kini disebut “masih belum jelas”, dan yang lebih penting, mitra produsen board Nvidia dikabarkan belum menerima detail desain apa pun untuk model baru tersebut.
Padahal, para pembuat board seharusnya sudah menerima informasi desain pada Oktober lalu. Karena itu, Benchlife menilai “probabilitasnya sangat tinggi” bahwa RTX 5080 Super tidak akan debut pada Januari. Alhasil, jadwal GPU yang masih berstatus rumor ini mundur setidaknya satu bulan, dan sangat mungkin lebih lama lagi.
Penundaan ini bukan hal yang mengejutkan. Krisis RAM yang terus memburuk sepanjang 2026 menjadi penyebab utamanya. Krisis tersebut berdampak langsung pada ketersediaan VRAM, yang selama ini menjadi pemicu utama lonjakan harga kartu grafis.
Harga GPU Meroket, Bukan Cuma di Kelas Atas
Data pemantauan TechSpot untuk Oktober 2026 menunjukkan harga GPU kelas atas semakin tidak masuk akal. RTX 5080, misalnya, naik 39% di Amerika Serikat dan 40% di Jerman dibanding bulan sebelumnya. Di AS, harga kartu ini kini mencapai US$2.200 atau 120% di atas harga MSRP. Sementara di Inggris, RTX 5080 mengalami kenaikan 8% dalam sebulan terakhir dan kini berada 40% di atas MSRP. Secara global, harganya rata-rata 77% di atas harga rekomendasi Nvidia.

Situasi RTX 5090 bahkan lebih ekstrem. Kartu grafis flagship Blackwell ini dibanderol US$9.400 di AS pada Oktober, atau sekitar 370% di atas MSRP yang memang sudah sangat mahal. Itu pun jika stoknya masih bisa ditemukan.
Yang lebih mengkhawatirkan, kenaikan harga kini merambat ke GPU kelas bawah. RTX 5050 di AS naik 35% dalam sebulan terakhir atau lebih dari US$100, sehingga konsumen harus membayar 68% di atas MSRP. RTX 5060 juga merangkak naik di sejumlah negara Eropa, yakni 7% di Inggris dan 13% di Jerman.
RTX 5060 Ti 8GB mencatat kenaikan lebih tajam, yaitu 10% di Inggris menjadi £440 dari sebelumnya £350 di awal 2026. Di AS, kartu yang sama naik 6% sehingga totalnya 40% di atas MSRP.
Baca Juga:
Kenaikan harga tidak hanya menimpa produk Nvidia. GPU Radeon dari AMD justru mengalami kenaikan lebih cepat. Kartu kelas bawah seperti RX 9060 XT naik rata-rata 10% month-on-month. RX 9070 XT juga naik 10% di AS sejak bulan lalu, sementara di Kanada kenaikannya mencapai 30% hanya dalam satu bulan.

Black Friday Jadi Peluang Terakhir?
Analisis TechRadar menilai situasi ini menunjukkan bahwa lonjakan harga kartu grafis adalah kenyataan yang nyata, dan persoalannya kini bukan lagi hanya soal GPU kelas atas. Kekhawatiran sesungguhnya terletak pada inflasi harga yang juga menerpa kartu kelas bawah, segmen tempat pembeli mainstream melakukan pembelian.
Berdasarkan besarnya perbincangan soal krisis memori yang terus memburuk di kuartal terakhir 2026 dan berlanjut ke tahun berikutnya, ada alasan kuat untuk meyakini bahwa harga GPU masih bisa terus naik. Karena itu, pemilik PC yang berencana melakukan upgrade GPU disarankan memanfaatkan Black Friday sebagai kesempatan utama untuk membeli kartu grafis sebelum kenaikan harga berikutnya terjadi.
RTX 5090 sendiri dilaporkan sudah efektif dihentikan produksinya, meski Nvidia dengan tegas membantahnya. Namun, kondisi stok di negara seperti AS dinilai berbicara sendiri. Sementara itu, harga RTX 5080 sudah jauh di luar jangkauan mayoritas konsumen.

Bagi mereka yang berharap RTX 5080 Super datang sebagai penyelamat, kabar penundaan ini menjadi pukulan baru. Pasar GPU jelas sedang dalam masalah, dan Nvidia tampaknya belum memiliki jawaban jangka pendek untuk jajaran atas Blackwell. Persoalan yang lebih nyata adalah datangnya tekanan tambahan bagi segmen kartu grafis yang lebih terjangkau, tempat sebagian besar pembeli mainstream menggantungkan pilihan mereka.
Situasi ini juga menjadi pengingat bahwa keputusan pembelian perangkat keras, termasuk di segmen seluler, kini makin dipengaruhi dinamika pasokan komponen global. Pengguna yang ingin memantau pergerakan harga dan spesifikasi perangkat terbaru bisa menengok informasi seputar Fairphone 6+ sebagai pembanding harga di kelasnya.
[WARNING: The reference article does not contain information about the Honor Wide Foldable, HomePod, Apple payment restriction mode, or Xiaomi 18 beyond what is included in the “Baca Juga” section. Those internal links were inserted per the mandatory linking instruction, but no factual claims were drawn from them.]





Komentar
Belum ada komentar.