📑 Daftar Isi

Ilustrasi kabel bawah laut yang menjadi target pemetaan kapal trawler Rusia

Rusia Pakai Kapal Trawler Komersial untuk Petakan Kabel Bawah Laut

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Lebih dari 500 insiden kapal trawler Rusia berputar di atas kabel bawah laut selama 4,5 tahun
  • Data berasal dari Global Fishing Watch yang melacak kapal via satelit
  • Tiga contoh kapal mengikuti jalur kabel Atlantic Crossing 1, TAT-14, Hibernia Express, Shefa-2, Amitie, dan Grace Hopper
  • Kapal melambat hingga 2-3 knot dan diduga bisa mengerahkan USV atau ROV
  • Kabel bawah laut membawa sekitar $87 miliar aktivitas ekonomi dan jadi target utama jika konflik meletus

Telset.id – Moskow dilaporkan menggunakan kapal trawler penangkap ikan komersial untuk memetakan kabel bawah laut yang menghubungkan Amerika Serikat dan Eropa. Temuan ini menjadi sorotan karena menyangkut infrastruktur kritis yang menopang aktivitas ekonomi digital lintas benua.

Menurut laporan The Telegraph, terungkap lebih dari 500 insiden di mana kapal penangkap ikan Rusia berputar-putar di atas kabel komunikasi penting selama kurun empat setengah tahun. Seluruh data tersebut berasal dari Global Fishing Watch, yang memanfaatkan data satelit untuk melacak kapal di laut lepas.

Jejak satelit kapal-kapal Rusia yang mencurigakan itu kemudian disilangkan dengan peta bahari yang menandai lokasi kabel bawah laut. Meski lokasi umum sebagian besar kabel bawah laut sudah ditandai jelas di peta bahari agar kapal menghindarinya, setiap operasi yang melibatkan kabel bawah laut membutuhkan data posisi yang lebih akurat.

Ilustrasi kabel bawah laut di dasar perairan

Pola Pergerakan Kapal yang Mencurigakan

The Telegraph memberikan tiga contoh kapal trawler Rusia yang tampak melakukan survei terhadap infrastruktur kritis. Satu kapal mengikuti jalur sembilan kabel terpisah di bawah Samudra Atlantik, termasuk kabel telekomunikasi Atlantic Crossing 1 dan kabel bawah laut TAT-14 yang sudah tidak beroperasi milik Sprint Corporation.

Kapal lain berputar-putar di dekat kabel trans-Atlantik Hibernia Express lalu mengikuti rute kabel Shefa-2 yang menghubungkan Shetland ke Kepulauan Faroe. Sementara kapal ketiga sebagian mengikuti jalur kabel bawah laut Amitie dan Grace Hopper, yang menghubungkan Inggris, Prancis, dan Spanyol ke Amerika Serikat.

Kapal-kapal ini tercatat beberapa kali memperlambat laju, kadang melaju pada kecepatan antara dua dan tiga knot. Seorang perwira angkatan laut senior menyebut kapal yang dicurigai melakukan aktivitas intelijen ini cukup besar untuk menampung kendaraan permukaan tak berawak (USV) atau kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh (ROV), dan mereka dapat mengerahkan unit terikat pada kecepatan sangat rendah.

“Jika Anda menempatkan ROV berperalatan sonar 100 meter di atas objek yang diminati, Anda bisa memetakannya dengan presisi milimeter,” kata seorang perwira angkatan laut.

Seorang perwakilan NATO juga menyatakan kepada publikasi tersebut, “Kami benar-benar menyadari apa yang dilakukan kapal penangkap ikan sipil Rusia dan di mana … Sebagian kapal ini belum pernah melihat satu ikan pun di geladaknya.”

Infrastruktur Kritis dan Perang Zona Kelabu

Kabel bawah laut adalah tulang punggung dunia modern yang saling terhubung, dan mereka membawa aktivitas ekonomi bernilai miliaran, bahkan triliunan dolar. Diperkirakan sekitar $87 miliar aktivitas ekonomi melintasi infrastruktur bawah laut ini, dan kabel-kabel tersebut akan menjadi salah satu target pertama jika konflik antara NATO dan Rusia meletus.

Trawler ini merupakan bagian dari perang “zona kelabu” Rusia, di mana tindakan kapal komersial tersebut tidak mudah dilacak kembali ke Kremlin. Sebelumnya sudah ada sejumlah insiden kabel bawah laut yang terganggu di berbagai belahan dunia.

Dua kabel bawah laut, satu menghubungkan Finlandia ke Jerman dan lainnya ke Estonia, terganggu secara berurutan dalam rentang beberapa bulan pada 2024. Taiwan juga menahan sebuah kapal barang China setelah diduga memutus kabel bawah laut yang menghubungkan Kepulauan Penghu ke pulau-pulau utama negara itu, sementara kapal China lainnya diduga memotong kabel bawah laut yang menghubungkannya ke Amerika Serikat.

Tampilan dekat model kabel serat optik bawah laut untuk komunikasi data

Belakangan, NATO mengungkap rencana Rusia untuk menyabotase dua kabel bawah laut terbesar di Bumi, sementara kabel yang menghubungkan Australia dan Selandia Baru ke Indonesia dan Singapura juga mengalami kerusakan. Iran bahkan mengancam akan memutus kabel bawah laut yang melintasi Selat Hormuz.

Meski kabel bawah laut dianggap sebagai infrastruktur kritis, jarak yang mereka tempuh membuatnya cukup sulit, bahkan mustahil, bagi negara-negara untuk melakukan patroli konstan untuk melindunginya. Sebagian besar panjangnya juga sering berada di perairan internasional, yang berarti kapal seharusnya dapat melintas dan memetakan kabel bawah laut dengan bebas.

Meski angkatan laut membayangi kapal-kapal yang dipertanyakan ini, operasi mencurigakan mereka umumnya bukan alasan untuk menaiki, menahan, atau menyita kapal. Situasi ini memperlihatkan bahwa ancaman terhadap kabel bawah laut bergerak di ruang abu-abu hukum internasional, sementara nilai ekonomi yang dipertaruhkan sangat besar.

Di sisi lain, dinamika geopolitik teknologi antara Rusia dan negara-negara Barat terus menghangat. Sejumlah artikel Telset.id sebelumnya juga menyoroti langkah Rusia yang memakai modem mesh China pada drone militernya, serta pembahasan data center nuklir antara AS dan Rusia.

[INFO]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.