Telset.id – Sony dan Microsoft disebut perlu menahan ambisi menghadirkan performa hardware kelas atas pada konsol generasi berikutnya agar harga tidak menembus batas USD1.000 atau sekitar Rp16 juta. Sejumlah analis industri menilai dorongan tanpa henti mengejar performa tinggi harus dimoderasi jika produsen ingin menghindari harga konsol yang memberatkan konsumen.
Penilaian itu muncul di tengah kondisi pasar konsol yang berbeda dari generasi sebelumnya. Harga konsol generasi saat ini justru cenderung naik beberapa tahun setelah peluncuran. Faktor krisis DRAM yang berlangsung dan ledakan AI membuat komponen semakin mahal, sehingga prospek hardware terjangkau dinilai suram.
Diskusi mengenai dampak kenaikan biaya komponen terhadap konsol generasi mendatang, termasuk PS6 dan Project Helix dari Xbox, sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. Salah satu pertanyaan utama adalah apakah produsen bisa sampai pada titik di mana harga hardware mereka menembus USD1.000.
Piers Harding-Rolls dari Ampere Analysis menyatakan Sony, Microsoft, dan Nintendo mungkin harus mengurangi ambisi pada grafis realistis dan performa lebih tinggi jika ingin menghindari harga sebesar itu. “Dorongan tanpa henti untuk performa kelas atas perlu dimoderasi,” kata Harding-Rolls.

Pandangan senada datang dari James McWhirter di Omdia. Ia menilai stratifikasi hardware lintas tingkatan bisa menjadi salah satu jalan, termasuk Nintendo Switch 2 yang lebih murah dengan lebih banyak bundel yang menawarkan nilai lebih. Produsen juga mungkin menunda peluncuran hardware baru untuk sementara waktu demi menunggu kenaikan biaya komponen mereda.
Namun, langkah tersebut juga berpotensi memperpanjang siklus generasi konsol. Rhys Elliott dari Alinea Analytics memperkirakan PS5 akan tetap bertahan jauh setelah PS6 diluncurkan. Game lintas generasi dinilai dapat memberi pemain kesempatan menunda upgrade hardware.
“Generasi berikutnya tidak akan menggantikan generasi ini, melainkan berada di atasnya,” ujar Elliott.
Baca Juga:
Tekanan Biaya Komponen dan Siklus Generasi Konsol
Kenaikan harga konsol generasi saat ini menjadi latar penting dari peringatan para analis. Berbeda dari generasi sebelumnya, harga konsol tidak lagi turun seiring usia produk, tetapi justru makin mahal. Krisis DRAM yang masih berlangsung dan kebutuhan komponen untuk AI disebut sebagai penyebab utama mahalnya komponen.
Dalam konteks itu, ambisi menghadirkan performa lebih tinggi harus diimbangi dengan perhitungan biaya. Harding-Rolls menegaskan bahwa dorongan mengejar performa kelas atas perlu dimoderasi. Pernyataan ini menyiratkan bahwa target grafis realistis dan peningkatan performa menjadi variabel yang bisa ditekan untuk menjaga harga tetap masuk akal.
McWhirter dari Omdia menambahkan bahwa stratifikasi hardware lintas tingkatan dapat menjadi strategi. Contoh yang disebut adalah Nintendo Switch 2 yang lebih murah dengan lebih banyak bundel bernilai lebih. Selain itu, produsen mungkin menunda peluncuran hardware baru untuk melihat perkembangan biaya komponen.

Dampak lain yang disorot adalah potensi generasi konsol yang lebih panjang. Elliott dari Alinea Analytics memperkirakan PS5 tetap eksis jauh setelah PS6 hadir. Game lintas generasi menjadi faktor yang memungkinkan pemain menunda upgrade. Dengan begitu, konsol lama tidak serta-merta ditinggalkan saat hardware baru masuk pasar.
Pernyataan Elliott bahwa generasi berikutnya tidak akan menggantikan generasi ini, melainkan berada di atasnya, menggambarkan pergeseran pola adopsi. Alih-alih migrasi penuh ke perangkat baru, pasar berpotensi menampung beberapa tingkatan hardware secara bersamaan.
Isu harga juga bersinggungan dengan pembahasan komponen yang makin mahal. Sebelumnya beredar prediksi bahwa PS6 bisa menembus USD1.000 akibat tingginya biaya komponen. Pembahasan mengenai chip untuk PS6 dan Xbox Helix yang dikabarkan telah finalisasi turut mewarnai diskusi industri, sejalan dengan dinamika yang dibahas dalam Empat CPU Baru di segmen komputasi.
Tekanan biaya tidak hanya berdampak pada konsol, tetapi juga perangkat lain. Harga GPU dan monitor gaming disebut berpotensi ikut naik. Bahkan, kenaikan harga Raspberry Pi 5 membuat model 16GB kini tiga kali lipat dibanding harga saat peluncuran, dengan kelangkaan RAM global sebagai penyebabnya.
Bagi Sony, Microsoft, dan Nintendo, pilihan yang tersedia menurut para analis berkisar pada memoderasi ambisi performa, menyusun stratifikasi hardware, dan mengatur ulang waktu peluncuran. Konsekuensinya, generasi mendatang berpotensi tidak lagi mengikuti pola lama di mana hardware baru langsung menggantikan pendahulunya.
Pernyataan para analis ini muncul dalam wawancara dengan TechRadar Gaming mengenai kenaikan biaya. Fokusnya adalah bagaimana produsen konsol menghadapi mahalnya komponen tanpa harus menembus harga USD1.000. Hingga berita ini ditulis, belum ada keputusan resmi dari Sony, Microsoft, maupun Nintendo terkait strategi harga dan spesifikasi konsol generasi berikutnya.
Bagi pengguna, situasi ini menjelaskan mengapa harga konsol saat ini sulit turun. Selama biaya komponen, terutama DRAM, masih tertekan kebutuhan AI, ruang bagi hardware terjangkau menjadi terbatas. Opsi menunda upgrade dan tetap memakai konsol generasi sekarang menjadi skenario yang diperkirakan analis, sejalan dengan tren inovasi komponen yang juga dibahas dalam Raptor Lake Next.
Yang perlu dicermati, seluruh proyeksi ini masih berupa penilaian analis, bukan keputusan resmi produsen. Namun, arahnya cukup jelas: tanpa moderasi ambisi performa dan pengelolaan biaya komponen, harga konsol generasi berikutnya berpotensi meninggalkan batas yang selama ini dianggap wajar oleh konsumen.
[ META_DESCRIPTION]
Analis sebut Sony dan Microsoft perlu menekan ambisi performa konsol agar harga tak tembus USD1.000. Simak proyeksi PS6 dan Project Helix.





Komentar
Belum ada komentar.