Telset.id – Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dan Royal Navy berhasil meluncurkan torpedo berat Mk 48 buatan Amerika dari kapal selam nirawak Inggris XV Excalibur dalam sebuah uji coba yang digelar di Skotlandia. Peluncuran yang berlangsung pada 13 September 2026 di British Underwater Test & Evaluation Centre ini menandai pertama kalinya senjata Amerika diintegrasikan ke dalam platform bawah laut otonom milik Inggris, sebuah langkah yang disebut militer sebagai tonggak sejarah baru bagi interoperabilitas aliansi.
Keberhasilan uji coba ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa senjata Amerika dapat dipadukan dengan platform nirawak Inggris, alih-alih mengharuskan kedua sistem dikembangkan secara eksklusif di sekitar perangkat masing-masing. Uji tersebut berlangsung hanya tujuh bulan setelah Project Broadsword disetujui, sebuah tempo yang menunjukkan percepatan pengembangan kemampuan bawah laut otonom di antara negara-negara sekutu.
Project Broadsword merupakan bagian dari kerja sama teknologi AUKUS, kemitraan keamanan antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat yang mencakup kerja sama pada kemampuan militer canggih. Pilar kedua AUKUS, atau AUKUS Pillar II, berfokus pada pengembangan dan berbagi kemampuan canggih termasuk kecerdasan artifisial, otonomi, teknologi kuantum, dan sistem bawah laut canggih.
Integrasi Torpedo 3.700 Pon di Bawah Lambung XV Excalibur
Project Broadsword yang disetujui pada Februari 2026 mempertemukan Department of the Navy Rapid Capabilities Office (DONRCO), OPNAV N97, Royal Navy, Defense Innovation Unit, Naval Undersea Warfare Center Keyport, dan sejumlah mitra industri. Uji coba ini secara khusus memeriksa apakah senjata Amerika dapat diintegrasikan dengan kapal selam otonom Inggris melalui sistem mekanis, elektris, dan perangkat lunak yang kompatibel.
Project Broadsword menghubungkan Mk 48 dengan XV Excalibur, sebuah kendaraan bawah laut nirawak berukuran ekstra besar yang dirancang untuk operasi otonom atau dikendalikan dari jarak jauh. Berbeda dengan kapal selam serang konvensional, Excalibur tidak memiliki tabung torpedo internal tradisional. Karena itu, para insinyur memasang senjata seberat sekitar 3.700 pon tersebut secara eksternal di bawah lambung kapal.
Konfigurasi tersebut memungkinkan tim melakukan peluncuran sekaligus menguji antarmuka yang dibutuhkan antara torpedo Amerika dan platform bawah laut Inggris. Sebelumnya, Excalibur telah digunakan Royal Navy sebagai laboratorium bawah laut bergerak untuk menguji berbagai teknologi dan muatan masa depan. Pada 2025, kapal ini dikendalikan dari jarak jauh di perairan Inggris dari sebuah pusat komando di Australia yang berjarak sekitar 10.000 mil.

Pengujian tersebut memberi Royal Navy pengalaman mengoperasikan platform bawah laut nirawak tanpa menempatkan personel di dalam kapal selama misinya berlangsung. Kemampuan ini memperluas cara angkatan laut sekutu mengerahkan kekuatan bawah laut, termasuk dalam skenario yang melibatkan sistem otonom.
Perkembangan serupa di ranah bawah laut juga tengah berlangsung di berbagai proyek lain. Sejumlah inisiatif menempatkan kendaraan nirawak sebagai inti kemampuan baru, termasuk pengembangan Torpedo Silent Anvil yang dirancang meluncur di udara. Selain itu, perhatian terhadap kerentanan sistem bawah laut meningkat setelah insiden Drone Bawah Laut US Navy yang ditangkap Iran di Selat Hormuz.
Baca Juga:
Adm. Daryl Caudle, Chief of Naval Operations, menyebut keberhasilan uji ini sebagai pencapaian bersejarah. “Uji coba yang berhasil ini menandai tonggak sejarah pertama bagi peperangan bawah laut sekutu… memvalidasi visi bersama kami untuk pertukaran kemampuan yang sesungguhnya,” ujarnya. “Dengan mengintegrasikan senjata, muatan, dan arsitektur misi lintas platform sekutu, kami meningkatkan fleksibilitas, skala, dan kekuatan tempur pasukan gabungan kami serta memastikan mereka siap menghadapi tuntutan strategis masa depan.”
Vice Adm. Robert Gaucher, Director of Submarine Programs, menggambarkan peluncuran ini sebagai langkah awal yang penting menuju interoperabilitas yang lebih besar bagi sistem bawah laut otonom. Uji tersebut menunjukkan bahwa senjata Amerika dapat diintegrasikan dengan platform nirawak Inggris, membuka jalan bagi pendekatan yang lebih fleksibel dalam pengembangan kemampuan bawah laut bersama.
Project CUTLASS Lanjutkan Integrasi ke Tahap Berikutnya
US Navy berencana melanjutkan pekerjaan ini melalui Project CUTLASS, dengan menggunakan platform Dive-XL milik Anduril untuk tahap pengembangan berikutnya. Upaya lanjutan tersebut akan mengkaji integrasi muatan, sistem komando dan kendali, serta skenario operasional yang melibatkan platform bawah laut nirawak.
Angkatan Laut menyatakan bahwa pekerjaan ini akan semakin mengembangkan penggunaan kendaraan bawah laut otonom dengan berbagai muatan dan sistem misi yang berbeda. Peluncuran pada September 2026 menuntaskan pembuktian konsep Broadsword, sementara CUTLASS kini mengarahkan upaya tersebut menuju pengujian integrasi dan operasional tambahan.
Uji coba lebih lanjut akan menentukan apakah pendekatan ini dapat mendukung senjata, platform, dan konfigurasi misi lain di luar sistem yang digunakan selama Broadsword. Dengan demikian, hasil Broadsword menjadi dasar bagi perluasan kemampuan bawah laut otonom sekutu, sejalan dengan fokus AUKUS Pillar II pada otonomi dan sistem bawah laut canggih.
Sejumlah pengembangan lain di ranah nirawak juga menunjukkan arah serupa, termasuk perhatian pada rantai pasok komponen yang digunakan pada platform militer. Isu ini pernah mencuat dalam kasus Komponen Kamera China pada drone Royal Navy yang dikabarkan mengirim sinyal ke China, menyoroti pentingnya kendali atas teknologi yang ditanamkan pada sistem pertahanan.
Keberhasilan peluncuran Mk 48 dari XV Excalibur menunjukkan bahwa interoperabilitas senjata lintas negara sekutu bukan lagi sekadar konsep. Project Broadsword telah membuktikan bahwa torpedo Amerika dapat beroperasi dari platform bawah laut nirawak Inggris, dan Project CUTLASS akan menguji sejauh mana pendekatan tersebut dapat diperluas ke muatan, platform, serta skenario misi lainnya.





Komentar
Belum ada komentar.