📑 Daftar Isi

Drone bawah laut otonom Dive-LD milik US Navy yang ditangkap pasukan Iran di dekat Selat Hormuz

Drone Bawah Laut US Navy Ditangkap Iran di Selat Hormuz

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Drone bawah laut Dive-LD milik US Navy ditangkap Iran di dekat Selat Hormuz setelah malfungsi
  • Iran berpotensi melakukan reverse engineering terhadap sistem mekanis drone buatan Anduril tersebut
  • AS dan Anduril menyebut drone itu model lama cacat tanpa data sensitif
  • Iran mengejek AS lewat unggahan kedutaannya di media sosial
  • Konflik AS-Iran berdampak pada industri teknologi dan rantai pasokan global

Telset.id – Iran kemungkinan akan mempelajari dan mencoba melakukan reverse engineering terhadap drone bawah laut milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang ditangkap pasukan Iran di dekat Selat Hormuz. Insiden ini berpotensi memberikan teknologi yang berguna bagi Teheran sekaligus menjadi pukulan bagi Pentagon.

Menurut laporan Reuters yang diterbitkan 9 September, Dive-LD autonomous underwater vehicle sepanjang 19 kaki itu mengalami malfungsi saat melakukan survei di perairan regional sebelum akhirnya diambil oleh Islamic Revolutionary Guard Corps Iran. Dive-LD adalah kendaraan bawah laut otonom buatan Anduril yang dipromosikan sebagai platform andal dan fleksibel.

Baik militer AS maupun produsen drone, Anduril, dengan cepat berupaya mengecilkan signifikansi kehilangan tersebut. Analis yang dikutip Reuters juga menilai drone yang ditangkap itu kecil kemungkinannya memberikan keunggulan militer yang menentukan bagi Iran. Namun setidaknya, kendaraan tersebut memberi Teheran kemenangan propaganda dan kesempatan untuk memeriksa teknologi bawah laut Amerika saat perang AS-Iran memasuki bulan ketujuh.

Teheran tampaknya memanfaatkan situasi ini dengan gencar. Kedutaan Iran di berbagai dunia mengejek AS karena kehilangan drone tersebut. Dalam unggahan di X, kedutaan Iran di Ghana membandingkan pemulihan drone itu dengan menarik botol plastik dari jaring ikan, dan menambahkan bahwa drone itu “masih berkedip seperti orang bodoh.” Kedutaan Iran di Hyderabad bahkan lebih langsung soal apa yang mungkin terjadi selanjutnya, dengan menulis: “Upacara unboxing oleh reverse engineer kami, besok pagi!”

Map of the Middle East highlighting the Strait of Hormuz as a high-risk maritime zone

Perbedaan Klaim Anduril dan Deskripsi US Navy

Sebuah kesenjangan yang mencolok muncul antara bagaimana Anduril memasarkan Dive-LD dan bagaimana militer AS kini mendeskripsikan kendaraan yang ditangkap tersebut. Anduril mempromosikan Dive-LD sebagai large autonomous underwater vehicle yang sangat andal dan adaptif, mampu beroperasi hingga 10 hari di lingkungan yang menantang. Perusahaan itu sebelumnya menyebut platform tersebut sebagai autonomous underwater vehicle paling andal dan fleksibel di pasar.

Angkatan Laut AS, sementara itu, mendeskripsikan kendaraan yang hilang itu sebagai model lama yang cacat yang “tidak mengumpulkan data sensitif maupun membawa peralatan sonar atau radar rahasia.” Meski ada upaya untuk mengecilkan insiden ini, Washington secara historis menanggapi insiden serupa dengan serius.

Setelah Iran memulihkan drone pengintai siluman RQ-170 Sentinel pada 2011, Presiden AS saat itu Barack Obama secara publik meminta pengembaliannya. Teheran kemudian mengklaim telah melakukan reverse engineering terhadap pesawat tersebut dan memperkenalkan drone domestik yang tampaknya dipengaruhi oleh desainnya. Pada 2022, Angkatan Laut AS mengerahkan kapal patroli dan helikopter MH-60S Seahawk setelah kapal angkatan laut Iran berupaya menarik kendaraan permukaan Saildrone Amerika di Teluk.

Komentar jenaka Iran didukung oleh kemampuan nyata untuk mengekstraksi informasi berguna dari perangkat keras yang ditangkap. Bryan Clark, direktur Center for Defense Concepts and Technology di Hudson Institute, mengatakan kepada Reuters bahwa insinyur Iran “pasti bisa melakukan reverse engineering terhadap sistem mekanis.” Namun, ia lebih skeptis tentang kemampuan Teheran menembus perangkat lunak, yang dilaporkan mencakup pertahanan yang dimaksudkan untuk menggagalkan upaya eksploitasi.

Saildrone Surveyor SD-3001

Terlepas dari keterbatasan reverse engineering apa pun, analis menilai Iran akan terus menyajikan insiden ini sebagai bukti kendali Iran di sekitar Selat Hormuz dan kerentanan AS di sana. “Ini adalah sesuatu yang telah terbukti sangat mahir dimanfaatkan Iran untuk kepentingannya sendiri dalam hal berupaya membingkai narasi sebagai salah satu ketidakmampuan AS, dalam kasus ini, dan kemampuan mereka untuk semacam mempertahankan kendali atas Selat Hormuz,” kata Mona Yacoubian, direktur program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies.

Amerika Serikat dan Iran telah berperang sejak Washington meluncurkan Operation Epic Fury pada akhir Februari, dengan konflik yang berulang kali meluas ke industri teknologi dan rantai pasokannya. Pada April 2026, serangan Iran menghentikan produksi di kompleks petrokimia Jubail Arab Saudi, mengganggu pasokan resin kritis yang digunakan dalam laminasi PCB. Rudal jelajah Iran juga dilaporkan menghantam pusat data Amazon di Bahrain pada Juli.

Amazon - AWS logo

Insiden penangkapan drone bawah laut ini menambah daftar panjang ketegangan teknologi antara kedua negara. Dari drone hingga infrastruktur data, konflik AS-Iran terus menunjukkan bagaimana teknologi menjadi medan pertempuran modern. Bagi Iran, setiap perangkat keras Amerika yang berhasil diambil menjadi bahan kajian sekaligus alat diplomasi publik. Bagi AS, insiden semacam ini memunculkan pertanyaan tentang kerentanan sistem otonom yang dioperasikan di wilayah berisiko tinggi.

Perkembangan terkait perang teknologi ini juga sejalan dengan meningkatnya perhatian global terhadap keamanan sistem otonom dan AI. Sejumlah pihak menyoroti bagaimana teknologi mutakhir dapat disalahgunakan atau menjadi sasaran eksploitasi ketika jatuh ke tangan pihak yang tidak seharusnya. Hal serupa juga menjadi perhatian dalam diskusi soal keamanan AI yang tengah berkembang.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari Pentagon maupun Anduril mengenai langkah yang akan diambil menyusul penangkapan Dive-LD tersebut. Yang jelas, insiden di Selat Hormuz ini menjadi pengingat bahwa persaingan teknologi bawah laut dan otonom semakin menjadi bagian penting dari dinamika geopolitik global.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.