📑 Daftar Isi

Ilustrasi puing antariksa yang mengorbit Bumi setelah satelit China Yaogan 50-02 hancur.

Satelit China Yaogan 50-02 Hancur, Orbit Bumi Dipenuhi 43 Serpihan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Satelit China Yaogan 50-02 hancur dan meninggalkan 43 serpihan yang dilacak US Space Force
  • Serpihan berada di orbit 372 hingga 683 mil dan berpotensi bertahan berabad-abad
  • Orbit retrograde 141 derajat pada ketinggian 590 mil disebut tidak biasa
  • Penyebab pecahnya belum diumumkan, diduga ledakan baterai atau benturan puing
  • Peneliti memperingatkan risiko Kessler syndrome lewat kerangka CRASH Clock

Telset.id – Satelit pengintaian milik China, Yaogan 50-02, dilaporkan hancur dan meninggalkan 43 serpihan yang kini terdeteksi mengorbit Bumi. Peristiwa ini menambah beban puing antariksa di orbit rendah Bumi, dengan serpihan yang diprediksi bertahan sangat lama karena berada di ketinggian yang cukup tinggi.

Informasi ini disampaikan oleh astronom Harvard sekaligus pakar pelacakan antariksa, Jonathan McDowell, melalui unggahannya di X. Menurut McDowell, satelit tersebut sempat mencapai orbit retrograde pada ketinggian sekitar 590 mil, mengelilingi Bumi dengan sudut 141 derajat melawan rotasi planet. Orbit semacam ini tergolong tidak biasa.

Setelah beberapa bulan, satelit itu disintegrasi dan menghasilkan 43 potongan puing antariksa terpisah. US Space Force melacak serpihan-serpihan tersebut di rentang orbit antara 372 hingga 683 mil. Karena berada di ketinggian yang relatif tinggi, potongan-potongan itu berpotensi bertahan di orbit dalam waktu yang sangat lama.

NASA menjelaskan melalui situs resminya bahwa semakin tinggi altitude, semakin lama puing orbital biasanya bertahan di orbit Bumi. Pada ketinggian 500 mil, waktu peluruhan orbital sering diukur dalam satuan abad. Sementara di atas 621 mil, puing orbital umumnya akan terus mengelilingi Bumi selama seribu tahun atau lebih.

A photo illustration of space junk orbiting the Earth.

Hingga kini, otoritas terkait belum mengumumkan penyebab pasti pecahnya satelit China tersebut. McDowell menduga peristiwa itu bisa disebabkan oleh ledakan baterai atau benturan dengan puing antariksa. Dugaan ini disampaikan tanpa menyebutkan hasil investigasi resmi apa pun.

Insiden ini terjadi pada momen yang dinilai rawan. Orbit Bumi terus dipenuhi tahap roket sisa dan sisa-sisa satelit. Menurut European Space Agency, lebih dari 60 tahun aktivitas antariksa telah menghasilkan lebih dari 56.000 objek terdeteksi di orbit. Sekitar setengahnya, sebagaimana dikatalogkan secara teliti oleh US Space Surveillance Network, dipastikan akan terus mengelilingi planet ini tanpa henti.

Peringatan Kessler Syndrome dan CRASH Clock

Para peneliti telah bertahun-tahun memperingatkan bahwa satu tabrakan parah antar puing orbital dapat berkembang menjadi rangkaian kecelakaan lanjutan, fenomena yang dikenal sebagai Kessler syndrome. Proyeksi ini tergambar dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada 2025.

Sebuah tim peneliti internasional menyusun kerangka baru bernama Collision Realization and Significant Harm (CRASH) Clock. Kerangka tersebut menyimpulkan bahwa dalam kasus peristiwa gangguan yang meluas, hanya dalam hitungan hari sebuah peristiwa Kessler yang katastrofik dapat mengancam korban di daratan.

Jumlah peluncuran antariksa yang melonjak dalam beberapa tahun terakhir turut mempercepat perubahan atmosfer Bumi menjadi semacam krematorium bagi satelit dan puing antariksa lainnya. Kondisi ini menjadi bahaya nyata bagi wahana apa pun yang berani mengorbit Bumi di lingkungan yang semakin padat.

Kasus Yaogan 50-02 memperlihatkan bagaimana satu satelit yang pecah dapat menambah daftar objek yang harus dipantau secara terus-menerus. Serpihan di ketinggian ratusan mil itu tidak hanya menjadi catatan pelacakan, tetapi juga menambah kerumitan navigasi di orbit rendah Bumi.

Sejumlah pengembangan teknologi di China juga menjadi sorotan dalam berbagai pemberitaan, mulai dari kebijakan hingga produk konsumen. Misalnya, dinamika kemitraan industri yang dibahas dalam Ford Ditekan Putus Kemitraan, serta langkah sejumlah pihak yang disebut dalam Ford Fathom. Namun, untuk isu antariksa, perhatian tetap tertuju pada penanganan puing orbital yang kian menumpuk.

Dengan serpihan yang diperkirakan bertahan hingga berabad-abad, pengelolaan lalu lintas orbit menjadi persoalan jangka panjang. Penjelasan NASA menegaskan bahwa semakin tinggi lokasi puing, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk peluruhan orbital. Pada ketinggian di atas 621 mil, puing dapat bertahan lebih dari seribu tahun.

Karena itu, setiap insiden pecahnya satelit di orbit tinggi berpotensi meninggalkan jejak yang sangat panjang. Dalam kasus Yaogan 50-02, 43 serpihan yang terdeteksi berada di rentang 372 hingga 683 mil menempatkan sebagian besar puing pada zona yang sulit mengalami peluruhan cepat.

Penyebab resmi insiden ini masih menunggu pengumuman. Sementara itu, komunitas pelacak antariksa terus memperbarui data posisi serpihan agar tidak menimbulkan risiko tambahan bagi wahana lain yang beroperasi di sekitar orbit tersebut.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.