Telset.id – Komandan Unmanned Systems Forces (USF) Ukraina, Robert “Madyar” Brovdi, memperingatkan bahwa umat manusia sedang kehilangan kendali atas senjata berbasis kecerdasan buatan (AI). Peringatan ini muncul di tengah laporan bahwa Rusia telah membunuh warga sipil menggunakan drone yang sepenuhnya otonom, dan hanya beberapa minggu sebelum keputusan PBB mengenai apakah akan menegosiasikan pembatasan senjata semacam itu. Peringatan Brovdi menjadi sorotan karena ia memimpin langsung pasukan drone Ukraina sejak Juni 2025, sehingga penilaiannya soal risiko AI dalam perang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Pernyataan tersebut disampaikan Brovdi dalam wawancara dengan The Daily Telegraph, tiga hari setelah The Wall Street Journal melaporkan klaim komando Ukraina bahwa Rusia menawarkan US$20 juta untuk informasi mengenai keberadaan Brovdi. Mantan pedagang gandum yang kini memimpin USF itu menegaskan bahwa kombinasi AI dengan sistem tak berawak dan robotik meninggalkan manusia dengan senjata yang akan sulit dikendalikan. Ia menyebut konsekuensinya tidak hanya berdampak pada medan perang, tetapi juga masa depan peradaban seperti yang kita kenal saat ini.
Menurut Brovdi, pernyataannya berlaku untuk fase pengembangan senjata AI saat ini, bukan AI secara keseluruhan. Ia juga menegaskan tidak berniat menakut-nakuti audiensnya. “Umat manusia kehilangan kendali, menurut pendapat saya, betapapun subjektifnya,” ujarnya. Sikap hati-hati ini mencerminkan posisi para perencana militer yang masih menggabungkan pendekatan konvensional dan AI, sambil mengambil sikap tunggu dan lihat seberapa dalam mereka ingin mengintegrasikan AI ke dalam sistem komando dan kendali mereka.
Ambang Batas yang Mungkin Sudah Terlewati
Brovdi menyebut drone sebagai “wabah milenium ketiga”, istilah yang juga ia gunakan kepada SVT Swedia pada Agustus 2026. Meski demikian, ia mengakui efektivitas drone dalam “memblokir Krimea dari jarak jauh” tanpa kehadiran pasukan di lapangan. Ukraina, yang tidak memiliki sumber daya angkatan laut signifikan, disebut berhasil menghentikan operasi shadow fleet Rusia. Shadow fleet menjadi contoh penting karena menjadi kunci pendanaan upaya perang Rusia dan telah menjadi topik perselisihan yang meningkat antara Ukraina, Amerika Serikat, dan Rusia.
Namun, ambang batas yang ditetapkan Brovdi mungkin sudah terlewati, dan bisa jadi justru oleh pihak lawan yang lebih dulu melancarkan serangan. The New York Times melaporkan pada Agustus 2026 bahwa sebuah drone Molniya Rusia yang membawa modul Nvidia Jetson Orin dan tanpa antena radio memilih target akhirnya sendiri. Menurut penyelidik Ukraina, insiden itu menewaskan tiga warga sipil di sebuah SPBU Zaporizhzhia pada 6 Juli.

Serangan tersebut tetap menggunakan machine vision untuk mengunci target setelah operator manusia memilih sasarannya. Artinya, unsur otonomi penuh belum sepenuhnya terjadi, meski arah pengembangannya sudah terlihat jelas. Perdebatan soal senjata otonom juga bergulir di jalur diplomasi, namun dengan tempo yang jauh lebih lambat. Pembicaraan PBB mengenai lethal autonomous weapons di bawah Convention on Certain Conventional Weapons berakhir pada 5 September dengan laporan akhir yang oleh Human Rights Watch disebut “significantly watered down”. HRW menyebut Rusia dan Amerika Serikat sebagai negara yang melemahkan laporan tersebut.
HRW mencatat 76 negara kini mendukung negosiasi aturan yang mengikat. Review conference konvensi tersebut dijadwalkan pada 16 hingga 20 November dan akan memutuskan apakah negosiasi itu benar-benar terwujud. Perkembangan ini menjadi penentu arah regulasi senjata AI di tingkat global, terutama ketika adopsi teknologi di medan perang berjalan lebih cepat daripada kesepakatan diplomatik.
Baca Juga:
Rekam Jejak Prediksi dan Dorongan Membangun Kekuatan Drone
Brovdi bukan pengamat netral dalam pergeseran ini. Pada September 2024, ia mengatakan kepada The Economist bahwa dalam enam hingga delapan bulan, drone Ukraina tidak lagi membutuhkan pilot manusia, sebagaimana dilaporkan Business Insider saat itu. Prediksi tersebut belum terwujud hingga kini. Bahkan serangan Rusia yang disebut terbaru hanya menggunakan machine vision untuk mengunci target setelah operator manusia memilih sasaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa timeline yang ia sampaikan bisa saja terlalu jauh melampaui kenyataan.
Meski prediksinya belum terbukti, Brovdi tetap mendorong sekutu untuk membangun kekuatan drone lebih cepat. Ia menekan Inggris agar membentuk cabang khusus tak berawak dan mengklaim, menurut UNITED24 Media, bahwa empat anggota NATO diam-diam merancang cabang serupa. Ia tidak menyebutkan nama keempat negara tersebut secara terbuka. Dorongan ini mencerminkan posisinya yang berada di pusat konflik yang kini telah memasuki tahun kelima dan memanfaatkan AI di kedua sisi untuk berbagai kebutuhan, seperti penargetan, loiter munitions, dan pemantauan jalur pasokan.

Brovdi juga telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup secara in absentia oleh pengadilan Rusia, sementara militer Ukraina menyatakan ada bounty US$20 juta untuk kepalanya. Statusnya sebagai buronan sekaligus komandan operasional menempatkannya pada posisi yang tidak biasa dalam lanskap perang modern. Tekanan terhadap dirinya berbanding lurus dengan pengaruhnya dalam pengembangan pasukan drone Ukraina.
Kombinasi antara peringatan soal hilangnya kendali atas senjata AI, laporan korban sipil akibat drone otonom, dan negosiasi PBB yang berjalan lambat menempatkan isu ini sebagai salah satu persoalan paling mendesak dalam perang modern. Bagi Indonesia dan negara lain yang mengikuti perkembangan teknologi pertahanan, dinamika ini menjadi rujukan penting soal bagaimana AI mulai mengubah cara konflik bersenjata dijalankan. Diskusi mengenai AI juga bergulir di ranah politik global, seperti terlihat dari langkah sejumlah pihak yang mulai membentuk struktur khusus untuk menangani teknologi ini.
Perdebatan soal regulasi juga bersinggungan dengan kebijakan teknologi di negara-negara besar, termasuk bagaimana pemerintah mengatur penggunaan AI secara umum. Sementara itu, Ukraina terus mendorong inovasi di sektor drone, termasuk pengembangan sistem pendukung yang memanfaatkan konektivitas dan perangkat keras modern. Beberapa inisiatif teknologi lain, seperti langkah perusahaan besar dalam membundel layanan digital, turut menunjukkan bagaimana ekosistem teknologi global bergerak cepat di tengah ketidakpastian geopolitik.
Hingga kini, belum ada kepastian apakah negosiasi mengikat soal lethal autonomous weapons akan benar-benar dimulai pada review conference November mendatang. Yang jelas, peringatan Brovdi datang dari seseorang yang berada langsung di pusat konflik yang telah berjalan lima tahun dan menggunakan AI di kedua sisi. Namun, karena rekam jejak prediksinya pernah melampaui kenyataan, penilaiannya perlu dibaca dengan mempertimbangkan konteks perang asimetris yang sedang ia jalani.





Komentar
Belum ada komentar.