Telset.id – US Army resmi memilih laser anti-drone LOCUST X3 buatan AeroVironment sebagai senjata modular yang bisa dipindahkan antar kendaraan militer biasa. Kontrak produksi awal senilai US$464,8 juta diberikan pada September 2026, dengan pengiriman unit pertama ke medan operasi ditargetkan pada awal 2028.
Pendekatan modular ini menjadi inti dari keputusan tersebut. Berbeda dari sistem laser sebelumnya yang menempel permanen pada satu platform, LOCUST X3 diletakkan pada rangka yang bisa dilepas dan dipasang ke kendaraan lain. Artinya, truk yang perlu masuk bengkel tidak lagi membuat senjata ikut berhenti beroperasi.
Laser berdaya 30 kilowatt ini dirancang untuk menghancurkan drone Grup 1 hingga Grup 3, yang mencakup pesawat berbobot sekitar 9 kg (20 pon) sampai 600 kg (1.320 pon). AeroVironment menyebut biaya setiap keterlibatan di bawah US$10, sementara laporan perdagangan Maret 2026 mengutip angka US$5 per tembakan, yang belum dirinci secara terpisah oleh perusahaan.
Kenapa Laser Harus Bisa Dipindah Antar Kendaraan
Keputusan mengadopsi desain rangka lepas bukan tanpa alasan. Pada 2022, US Army mengaktifkan kembali batalion pertahanan udara di Fort Sill, Oklahoma, untuk kendaraan Stryker bersenjata laser. Namun masalah keandalan mengubah fokus program tersebut.
“Kami sampai pada titik di mana sistemnya cukup andal, tetapi kami masih harus membuatnya mudah dirawat dan diperbaiki karena ini sistem Angkatan Darat,” kata Kirk Williams, Chief Engineer di Directed Energy Project Office milik US Army.
“Ini akan berada di medan pertempuran. Banyak hal akan rusak. Kami bisa merusak banyak hal dengan cara yang sangat kreatif, kan? Jadi kalau tidak andal, tidak mudah dirawat, atau tidak bisa diperbaiki, itu masalah,” tambahnya.
Dengan skema baru, laser duduk pada rangka yang bisa dilepas dan dipindahkan antar platform. Truk yang menjalani perawatan tidak lagi menyisihkan senjata dari daftar operasi.
“Kami fokus pada kendaraan apa pun di motorpool. Saya ingin mencoba mengintegrasikan kemampuan masa depan laser berenergi tinggi ke dalamnya,” ujar Brig. Gen. Guy Yelverton, Capability Program Executive for Defensive Fires US Army.
AeroVironment mencantumkan daya keluaran antara 20 hingga 35 kilowatt tergantung misi, dengan sistem AI internal bernama Halo Pinpoint yang menangani deteksi, pelacakan, dan keterlibatan target.

Baca Juga:
Batasan Jangkauan, Daya, dan Waktu Pengiriman
Meski menawarkan biaya per tembakan yang jauh lebih murah dibanding rudal, LOCUST X3 memiliki keterbatasan yang diakui terbuka oleh pihak militer. Satu laser hanya bisa menghadapi satu drone pada satu waktu, dan kekuatan berkasnya melemah seiring jarak. Asap, debu, dan cuaca turut menurunkan efektivitasnya.
Daya baterai memberi sekitar 80 hingga 120 detik waktu tembak tergantung sistem, menurut Yelverton, dan magasin diisi ulang setelah berkas berhenti. Pada 30 kilowatt, X3 tergolong salah satu senjata laser paling lemah, dan setiap versi LOCUST sejauh ini hanya menangani drone kecil.
Angkatan Darat memperkirakan unit X3 pertama beroperasi pada awal 2028. Sementara itu, laser terpisah dalam wadah (containerized) menargetkan daya 150 kilowatt. Scott Keeney, chief executive nLIGHT, pengembang laser yang bekerja sama dengan AeroVironment, memperkirakan skala bisa naik hingga satu megawatt, level yang juga pernah dibahas Angkatan Laut.
Dari sisi nilai kontrak, kesepakatan dengan US Army mencapai US$464,8 juta. AeroVironment juga melaporkan pesanan internasional pertamanya senilai di atas US$50 juta pada 8 September. Perusahaan menggelontorkan lebih dari US$30 juta untuk memperluas kampus Albuquerque, yang diperkirakan menambah 450 lapangan kerja dan dampak ekonomi sekitar US$670 juta.
US Army mengaitkan sejumlah keterlibatan sukses dengan LOCUST, termasuk intersepsi drone bertanggal 25 Agustus 2026 di dekat perbatasan selatan. Namun tanpa data keterlibatan yang dirilis, verifikasi independen atas klaim militer tersebut masih terbatas.
Bagi publik yang mengikuti perkembangan pertahanan, langkah ini menandai pergeseran dari prototipe mahal ke sistem yang dirancang untuk bisa dirawat di lapangan. Sebelumnya, US Army juga menguji helikopter kargo otonom, menunjukkan perluasan program teknologi militer yang terus berjalan.
Di sisi lain, pendekatan biaya murah per tembakan menjadi pembeda utama. Dengan harga US$5 hingga US$10 per keterlibatan, laser ini menawarkan alternatif ekonomis dibanding rudal permukaan-ke-udara konvensional. Namun, karena hanya mampu menangani satu target sekaligus, efektivitasnya dalam serangan drone berkelompok masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab oleh data resmi.
Program ini juga bersinggungan dengan inisiatif lain US Army, seperti pelatihan AI agents untuk tugas siber dan penggelontoran dana besar untuk balon mata-mata raksasa. Semuanya mengarah pada modernisasi pertahanan udara berlapis yang mengandalkan kombinasi sensor, AI, dan senjata berbiaya rendah.
Yang jelas, keputusan US Army memilih LOCUST X3 menegaskan prioritas pada maintainability dan modularitas. Jika target awal 2028 tercapai, truk-truk biasa di motorpool bisa berubah menjadi platform pertahanan udara tanpa perlu kendaraan khusus yang mahal.





Komentar
Belum ada komentar.