Telset.id – Sebanyak 53% pengusaha Amerika Serikat yang disurvei memilih membangun website sendiri menggunakan AI ketimbang menyewa developer profesional. Perubahan ini berjalan seiring anjloknya lowongan desain website di platform freelance hingga 59% antara kuartal kedua 2024 dan kuartal ketiga 2026.
Riset yang dipesan Bluehost tersebut mewawancarai 201 pengusaha Amerika yang terlibat dalam keputusan operasional online perusahaan mereka. Temuan ini sekaligus menandai pergeseran cara pelaku usaha kecil menangani kebutuhan teknis yang sebelumnya identik dengan jasa programmer lepas.
Penurunan bukan hanya terjadi pada lowongan desain website. Data historis rekrutmen di Freelancer.com menunjukkan iklan PHP turun dengan persentase sama, 59%, sementara tugas WordPress menyusut 58% dan lowongan pemrograman HTML turun 55%. Angka-angka ini melampaui penurunan di sejumlah kategori freelance lain, yang mengindikasikan tekanan khusus pada pekerjaan pengembangan website.

Hemat 850 Dolar dan 32 Jam Kerja
Di antara responden yang mengadopsi generator website AI, 85% menyatakan website mereka akan dibangun dengan cara berbeda tanpa akses ke teknologi tersebut. Para peserta melaporkan penghematan rata-rata 850 dolar AS dan sekitar 32 jam kerja dibandingkan menyewa developer atau agensi untuk proyek setara.
Meski begitu, tidak semua pekerjaan diserahkan ke AI. Setup hosting dan domain tetap menjadi tugas yang enggan didelegasikan, dengan 21% responden menyebutnya sebagai salah satu hal yang paling kecil kemungkinannya untuk dialihkan ke AI.
Sebelumnya, 34% responden mengidentifikasi waktu yang tidak cukup sebagai hambatan meluncurkan website, sedangkan 28% menyebut keterbatasan pengetahuan teknis. Bahkan di kalangan responden yang sempat menghindari generator website AI, 71% menyatakan terbuka mempertimbangkan teknologi ini untuk proyek pengembangan website berikutnya.
Baca Juga:
Penurunan tajam juga tercatat di kategori lain sebagai pembanding. Iklan desain grafis berkurang 43% pada periode yang sama, sedangkan peluang data entry justru naik 16% meski kategori tersebut tergolong rentan terhadap otomatisasi. Namun, data ini hanya mencakup satu marketplace freelance dan tidak dapat memastikan bahwa adopsi alat AI secara langsung menyebabkan berkurangnya lowongan pemrograman yang diiklankan.
Kepuasan Tinggi, tetapi Revisi Tetap Dilakukan
Para pemilik bisnis melaporkan tingkat kepuasan yang cukup besar terhadap website buatan AI. Sebanyak 72% menyatakan persetujuan kuat dan 97% melaporkan setidaknya kepuasan moderat. Kendati demikian, hanya 9% yang menerbitkan website tanpa mengubah hasil awal AI, yang menunjukkan keterlibatan tetap dalam meninjau dan menyesuaikan materi yang dihasilkan.
Revisi konten dilakukan oleh 61% responden, sementara 60% memodifikasi elemen visual sebelum website dapat diakses pelanggan secara online. Setelah publikasi, 94% tetap menggunakan teknologi AI untuk aktivitas bisnis, memperluas pemanfaatannya di luar proses pengembangan website itu sendiri.

Dari kelompok tersebut, 34% melaporkan kenaikan jumlah pengunjung, sedangkan 31% mengalami perbaikan penjualan atau pendapatan setelah memakai bantuan AI. Akan tetapi, 54% lebih memilih meninjau setiap usulan perubahan website, dibandingkan 30% yang nyaman membiarkan AI beroperasi mandiri tanpa persetujuan. Hanya 50% yang bersedia mengungkapkan asal-usul AI website mereka kepada pelanggan, menandakan keraguan meski penilaian terhadap teknologi ini umumnya positif.
Di sisi lain, riset ini juga menyoroti keterbatasan adopsi AI dalam pekerjaan kreatif dan pengembangan. Sejumlah pengamat industri menyoroti fenomena serupa dalam konteks lain, seperti yang dibahas dalam ulasan soal menu AI yang memicu kegelisahan pengguna.
Perlu dicatat, sampel survei yang relatif kecil membatasi generalisasi temuan. Estimasi adopsi membawa ketidakpastian sekitar 6,9 poin persentase pada tingkat kepercayaan 95%. Meski iklan freelance menurun cukup besar, bukti yang ada tidak menetapkan adanya penurunan setara pada lapangan kerja di seluruh industri pengembangan website.

Bagi pelaku usaha di Indonesia, temuan ini memperlihatkan bahwa pembangunan website kini makin banyak ditangani sendiri dengan bantuan AI, sementara tugas seperti hosting dan domain masih dianggap perlu keahlian khusus. Perdebatan soal peran AI dalam pekerjaan teknis juga terus bergulir, sejalan dengan pembahasan mengenai model collapse AI dan dampaknya terhadap kualitas konten digital.





Komentar
Belum ada komentar.