Telset.id – Di tengah demam kecerdasan buatan (AI) yang melanda dunia, sebuah ironi terungkap: delapan dari sepuluh perusahaan mengakui proyek AI mereka gagal mencapai tahap implementasi. Laporan McKinsey & Company menyebutkan keterbatasan data menjadi hambatan utama dalam mengembangkan AI otonom yang siap digunakan dalam operasional bisnis.
Bukan karena model AI yang tidak canggih, melainkan fondasi data yang dinilai belum aman, terfragmentasi, dan sulit dikelola secara real-time. Kondisi ini menjadi sorotan utama di tengah demam AI yang memaksa perusahaan besar sekalipun untuk berbenah.
Confluent, perusahaan data streaming yang kini menjadi bagian dari IBM, menyoroti persoalan ini. Head of AI Confluent, Sean Falconer, mengatakan sebagian besar proyek AI gagal menjangkau pengguna karena perusahaan masih menghadapi persoalan mendasar pada lapisan data.
“Perusahaan biasanya sudah memiliki model AI dan target bisnisnya, tetapi risiko keamanan serta data yang tersebar menghambat peluncuran produk,” ujarnya dikutip Rabu (27/5/2026).
Menurutnya, banyak organisasi masih kesulitan menghubungkan data historis dan data real-time secara aman ke sistem AI. Di sisi lain, tim keamanan perusahaan sering kali membatasi akses data untuk mencegah kebocoran informasi sensitif. Akibatnya, pengembang harus menggunakan banyak alat berbeda untuk memeriksa, mengelola, dan mengamankan aliran data yang dibutuhkan AI. Proses ini membuat pengembangan AI berjalan lambat dan sulit diskalakan.
Fenomena tersebut mulai menjadi tantangan besar di kawasan Asia Pasifik yang saat ini tengah agresif mengadopsi AI generatif. Vice President and General Manager APAC Confluent, Greg Taylor, mengatakan sebagian besar proyek AI di kawasan ini tidak pernah benar-benar keluar dari tahap uji coba karena sistem data perusahaan belum siap digunakan di lingkungan produksi.
“Banyak proyek AI tidak pernah melampaui tahap pilot karena lapisan datanya tidak cukup aman atau skalabel,” katanya.
Solusi Confluent untuk Keamanan Data AI
Untuk mengatasi persoalan itu, Confluent meluncurkan sejumlah fitur baru di Confluent Intelligence dan Confluent Cloud yang difokuskan untuk memperkuat keamanan dan pengelolaan data AI real-time.
Salah satu fitur yang diperkenalkan adalah penyamaran otomatis data pribadi atau Personally Identifiable Information (PII), sehingga perusahaan dapat menggunakan data untuk AI tanpa khawatir membocorkan informasi sensitif pelanggan.
Baca Juga:
Perusahaan juga menghadirkan sistem operasi berbasis bahasa alami yang memungkinkan pengembang mengelola aliran data AI menggunakan instruksi sederhana tanpa proses teknis yang rumit. Selain itu, Confluent memperkuat konektivitas privat melalui Azure Private Link agar proses AI tetap berjalan di jaringan tertutup tanpa melalui internet publik.
Tren ini menunjukkan bahwa persaingan industri AI kini tidak lagi hanya soal siapa memiliki model paling canggih, tetapi siapa yang mampu membangun infrastruktur data paling aman, cepat, dan siap digunakan dalam skala besar. Demam emas di industri chip pun turut mendorong kebutuhan akan infrastruktur data yang lebih solid.
Dengan 80% proyek AI yang gagal, jelas bahwa masa depan kecerdasan buatan tidak hanya ditentukan oleh algoritma, melainkan oleh fondasi data yang kokoh dan aman.





Komentar
Belum ada komentar.