Telset.id – Gelombang investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) mulai menuai keraguan dari para eksekutif teknologi. Setelah bertahun-tahun mendorong penggunaan AI secara maksimal atau yang dikenal dengan istilah “tokenmaxxing”, para pemimpin perusahaan kini dihadapkan pada kenyataan pahit: biaya operasional AI yang membengkak tidak selalu sebanding dengan produktivitas yang dihasilkan. Fenomena ini memicu perdebatan baru di industri, di mana beberapa perusahaan justru mulai mempertimbangkan kembali untuk mempekerjakan manusia sebagai alternatif yang lebih murah.
Salah satu contoh paling menonjol datang dari Uber. Andrew Macdonald, Chief Operating Officer (COO) Uber, secara terbuka mengakui dalam sebuah podcast bahwa peningkatan produktivitas yang dijanjikan oleh AI tidak tercermin dari besarnya pengeluaran perusahaan. “Hubungan itu belum ada, kan?” ujar Macdonald kepada host Rapid Response, Bob Safian. Ia menambahkan, “Mungkin secara implisit ada lebih banyak hal yang dikirim, tetapi sangat sulit untuk menarik garis antara statistik tersebut dan, ‘Oke, sekarang kita benar-benar memproduksi 25 persen lebih banyak fitur konsumen yang berguna.'”
Macdonald dengan tegas menyatakan bahwa AI bukanlah teknologi yang gratis. Ia mengeluhkan bahwa jika perusahaan tidak mampu menarik garis lurus antara biaya yang dikeluarkan dengan fitur dan fungsionalitas yang berguna bagi pengguna, maka justifikasi untuk terus berinvestasi menjadi semakin sulit. “AI tidak gratis,” tegasnya. Meskipun ia optimistis bahwa hubungan ini “bisa menjadi lebih jelas” dalam beberapa kuartal mendatang, Macdonald mengakui bahwa saat ini sulit untuk membuktikan nilai investasi tersebut, bahkan ketika metrik fundamental menunjukkan arah yang positif.
Dalam kesempatan yang sama, Macdonald juga merujuk pada pernyataan CTO Uber, Praveen Neppalli Naga, kepada The Information awal tahun ini. Naga mengakui bahwa tim yang terdiri dari 5.000 insinyur Uber telah menghabiskan seluruh anggaran token untuk layanan Anthropic Claude Code tahun kalender 2026 pada pertengahan Maret. Artinya, dalam waktu kurang dari tiga bulan, anggaran AI untuk setahun penuh telah ludes. Hal ini menunjukkan betapa masifnya konsumsi sumber daya AI di perusahaan tersebut.
Baca Juga:
Microsoft Mulai Mengurangi Lisensi AI Eksternal
Kisah serupa juga terjadi di Microsoft. Seperti yang dilaporkan oleh The Verge awal bulan ini, perusahaan yang berbasis di Redmond tersebut berencana untuk menghapus lisensi Tiga YouTuber Gugat Apple untuk alat Claude Code. Langkah ini diambil setelah Microsoft membuka akses ke alat tersebut pada bulan Desember lalu. Sebagai gantinya, Microsoft akan lebih fokus pada alat Copilot buatan mereka sendiri.
Meskipun pihak manajemen menyatakan bahwa langkah ini dilakukan untuk menyederhanakan operasional, karyawan perusahaan mengungkapkan kepada publikasi tersebut bahwa keputusan itu juga didorong oleh motif finansial. Ini menandakan bahwa bahkan perusahaan sekelas Microsoft pun mulai merasakan tekanan biaya dari penggunaan AI eksternal dan berusaha untuk mengoptimalkan pengeluaran dengan beralih ke solusi internal.
Meskipun menghadapi keraguan tentang efisiensi biaya, Uber tetap berkomitmen penuh pada AI. CEO Uber, Dara Khosrowshahi, dalam panggilan pendapatan dengan investor awal bulan ini, mengakui bahwa pengeluaran perusahaan melonjak karena investasi di bidang AI. Konsekuensinya, perusahaan memperlambat proses perekrutan karyawan baru. “Kami melihat adopsi alat-alat ini, baik itu tim hukum, tim pemasaran, atau pengembang,” kata Khosrowshahi. “Kami pikir ini menciptakan semacam karyawan dengan kekuatan super.”

Pernyataan Khosrowshahi ini kontras dengan kekhawatiran yang diungkapkan oleh Macdonald. Hal ini menunjukkan adanya perpecahan internal di Uber antara optimisme terhadap potensi AI dan realitas finansial yang dihadapinya. Di satu sisi, para pemimpin percaya AI dapat meningkatkan produktivitas karyawan secara drastis. Di sisi lain, biaya yang membengkak dan sulitnya mengukur dampak langsung dari teknologi ini menimbulkan pertanyaan sulit.
Kompleksitas ini juga diperparah oleh fakta bahwa implementasi AI yang buruk seringkali menghasilkan fitur yang tidak populer dan bug yang mengganggu akibat kode yang dihasilkan oleh AI. Hal ini semakin mempertanyakan apakah investasi besar-besaran di bidang AI benar-benar sepadan dengan hasilnya.
Pernyataan Macdonald mencerminkan kegelisahan yang mulai melanda para pemimpin teknologi. Mereka mulai mempertanyakan apakah pengeluaran besar untuk AI benar-benar dapat dibenarkan. Jika tidak, hal ini tentu bukanlah sebuah kejutan mengingat banyaknya contoh kegagalan implementasi AI yang merugikan.
Dengan kata lain, industri teknologi kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada tekanan untuk terus berinovasi dan memanfaatkan AI. Di sisi lain, ada tekanan finansial yang memaksa mereka untuk lebih bijak dalam mengelola anggaran. Pertanyaan besarnya adalah, apakah AI akan mampu membuktikan nilainya dalam jangka panjang, atau justru menjadi beban yang tidak tertahankan bagi perusahaan-perusahaan yang telah terlalu dalam berinvestasi?
Ikuti terus perkembangan terbaru seputar industri AI dan teknologi hanya di Telset.id.





Komentar
Belum ada komentar.