📑 Daftar Isi

Karyawan tertekan di meja kerja akibat PHK berbasis AI

90 Persen Eksekutif Akui AI Tak Tingkatkan Produktivitas

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • 90 persen eksekutif mengakui AI tidak berdampak pada lapangan kerja dalam 3 tahun terakhir
  • 89 persen responden menyatakan tidak ada dampak AI pada produktivitas tenaga kerja
  • PHK berbasis AI justru merusak sentimen karyawan dan menurunkan produktivitas
  • Reaksi pasar saham terhadap PHK berbasis AI mendekati nol
  • Meta contoh perusahaan yang kesulitan menjaga moral karyawan setelah PHK massal
  • CEO OpenAI Sam Altman akui belum ada momen iPhone dalam adopsi AI

Telset.id – Sebanyak 90 persen eksekutif mengakui bahwa adopsi AI tidak memberikan dampak terhadap produktivitas perusahaan mereka dalam tiga tahun terakhir. Temuan dari National Bureau of Economic Research ini memperkuat bukti bahwa investasi besar-besaran pada teknologi AI belum memberikan hasil yang sepadan.

Riset tersebut mengungkap bahwa lebih dari 90 persen eksekutif yang merespons survei menyatakan “tidak ada dampak AI terhadap lapangan kerja perusahaan mereka sendiri selama tiga tahun terakhir.” Bahkan, 89 persen responden mengaku “tidak ada dampak pada produktivitas tenaga kerja” sama sekali.

Meski demikian, perusahaan tetap melanjutkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Mark Ma, profesor bisnis dari University of Pittsburgh yang tidak terlibat dalam riset tersebut, menyoroti fenomena ini dalam tulisannya di The Conversation. Menurutnya, perusahaan terus menggandakan investasi teknologi AI sementara jumlah PHK terus meningkat.

Seorang pria tertekan duduk di meja kerja.

PHK Berbasis AI Justru Merusak Produktivitas

Mark Ma memperingatkan bahwa penggunaan AI sebagai pembenaran PHK dapat memperburuk situasi. “PHK berbasis AI dan ketidakamanan kerja yang dihasilkan secara aktif menghancurkan kondisi yang dibutuhkan agar AI membuat pekerja lebih efisien,” tulis Ma.

Ia menambahkan, “Faktanya, pemotongan pekerjaan ini merusak sentimen karyawan terhadap AI — yang merupakan salah satu prediktor terkuat produktivitas perusahaan ketika AI digunakan.”

Dampak negatif ini bahkan terlihat dari reaksi pasar saham. “Manajer berharap bahwa investasi AI dan pemotongan pekerjaan akan meningkatkan nilai perusahaan,” jelas Ma. “Namun ketika kami memeriksa reaksi pasar saham terhadap pengumuman PHK ini, rata-rata pengembaliannya mendekati nol.”

Moril karyawan pun merosot tajam ketika manajemen terus menggaungkan narasi bahwa pekerja tidak lagi dibutuhkan berkat AI. Mark Zuckerberg melalui Meta menjadi contoh nyata, di mana perusahaan kesulitan menjaga antusiasme pekerja setelah serangkaian PHK besar-besaran yang dieksekusi dengan buruk.

Sentimen Karyawan Kunci Keberhasilan AI

Analisis ulasan Glassdoor yang dilakukan Ma dan rekannya menemukan “asosiasi kuat antara sentimen karyawan terhadap AI dan produktivitas perusahaan berdasarkan informasi keuangan pemberi kerja.” Hasil ini menunjukkan bahwa “sentimen anti-AI di kalangan pekerja justru menurunkan produktivitas dan mengimbangi potensi efisiensi yang disebabkan oleh AI.”

Dengan kata lain, kekhawatiran atas ketidakamanan kerja dapat membuat upaya perusahaan untuk meraih manfaat AI menjadi bumerang. “Singkatnya, sentimen karyawan memainkan peran lebih penting dalam membuka manfaat AI daripada optimisme manajer mana pun,” tulis Ma.

Ma merekomendasikan agar manajer berhenti menggunakan AI sebagai pembenaran PHK. Langkah tersebut dinilainya sebagai “kesalahan perhitungan strategis yang bertentangan dengan manfaat AI.”

Industri AI sendiri mulai menghadapi kenyataan bahwa teknologi ini gagal memenuhi janji-janji besar yang digunakan untuk menarik investasi triliunan dolar. Bahkan Sam Altman, CEO OpenAI, mengakui akhir pekan lalu bahwa “kami belum memiliki momen iPhone yang sepenuhnya mengubah cara seseorang berinteraksi dengan teknologi.”

Temuan riset ini menjadi peringatan penting bagi perusahaan di Indonesia yang tengah gencar mengadopsi AI. Investasi teknologi tanpa memperhatikan sentimen karyawan berisiko menghasilkan kerugian ganda: biaya besar tanpa peningkatan produktivitas, plus menurunnya moril tenaga kerja.

Para pelaku industri perlu mempertimbangkan pendekatan yang lebih seimbang, di mana AI diposisikan sebagai alat bantu而非 pengganti tenaga kerja. Keberhasilan adopsi AI pada akhirnya bergantung pada kesiapan organisasi dan penerimaan karyawan, bukan sekadar besarnya anggaran teknologi yang dikucurkan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.