📑 Daftar Isi

Tim KYGB, alumni Samsung Solve for Tomorrow, menunjukkan aplikasi Gesti Talk di smartphone

AI Bahasa Isyarat Gesti Talk Karya Alumni Samsung SFT

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Tim KYGB alumni Samsung Solve for Tomorrow 2025 ciptakan Gesti Talk
  • Aplikasi AI terjemahkan BISINDO ke teks/suara real-time via kamera smartphone
  • Gunakan Computer Vision dan model AI Long Short-Term Memory (LSTM)
  • Raih Juara 3 kategori Universitas di Samsung SFT 2025
  • Samsung SFT 2026 buka pendaftaran hingga 29 Mei 2026

Telset.id – Tim KYGB, alumni Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2025, menciptakan aplikasi AI bernama Gesti Talk yang mampu menerjemahkan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) menjadi teks atau suara secara real-time. Inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap keterbatasan akses interpreter bagi teman tuli di Indonesia, menjelang penutupan pendaftaran Samsung Solve for Tomorrow 2026 pada 29 Mei 2026.

Tim KYGB beranggotakan empat mahasiswa Universitas Bina Nusantara (Binus) Alam Sutera, yaitu Nathanael Setiorahardjo, Bonaventura Jonathan Tanujaya, Kelvin Leandi, dan Gavinn Aloys. Mereka mengembangkan Gesti Talk dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Computer Vision melalui kamera smartphone. Ide ini berawal dari seminar tentang inklusivitas yang menggugah mereka untuk menciptakan solusi komunikasi yang lebih mudah dijangkau.

“Dari seminar tentang inklusivitas itu kami mulai berpikir, bagaimana kalau teman-teman tuli bisa punya akses terhadap interpreter yang lebih mudah dijangkau melalui teknologi? Kami ingin menciptakan solusi yang dapat membantu mereka berkomunikasi secara lebih mandiri dan inklusif,” ujar Nathanael Setiorahardjo, ketua tim KYGB, dikutip dari keterangan resmi Samsung.

Cara Kerja Gesti Talk dan Teknologi AI di Baliknya

Gesti Talk bekerja dengan memanfaatkan Computer Vision untuk membaca titik koordinat tangan dan gerakan pengguna melalui kamera smartphone. Data tersebut kemudian diproses menggunakan model AI berbasis Long Short-Term Memory (LSTM) agar sistem dapat memahami urutan dan konteks bahasa isyarat dengan lebih akurat. Hasilnya, gerakan BISINDO dapat diterjemahkan menjadi teks atau suara secara real-time.

Berkat inovasi tersebut, tim KYGB berhasil meraih Juara 3 kategori Universitas dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow 2025. Program berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) ini dirancang untuk mendorong generasi muda menciptakan solusi teknologi yang menjawab tantangan nyata di masyarakat. Selain kemampuan teknis, para mahasiswa juga mendapatkan pengalaman berharga dalam teamwork, leadership, critical thinking, pitching, hingga problem solving.

“Sesi mentoring jadi salah satu bagian paling penting buat kami. Project kami benar-benar dicek dan diberikan banyak masukan yang membantu. Selain itu, adanya timeline dan deadline juga membuat pengembangan project berjalan lebih terarah,” ungkap tim KYGB.

tim KYGB, alumni Samsung Solve for Tomorrow

Ketertarikan terhadap AI di kalangan akademisi memang semakin meningkat. Dalam konteks yang lebih luas, Steve Wozniak Bacok Gairah AI di sebuah acara wisuda, menunjukkan besarnya antusiasme terhadap teknologi ini. Namun, di sisi lain, ada juga kekhawatiran seperti yang terlihat pada Mahasiswa Gen Z Takut AI yang menganggap teknologi ini bisa membuat mereka bodoh, sementara dosen justru antusias.

Harapan Samsung untuk Generasi Muda

Samsung berharap semakin banyak anak muda Indonesia yang berani menciptakan inovasi berbasis teknologi untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat. Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia, Ennita Pramono, mengatakan Samsung Solve for Tomorrow menjadi ruang belajar sekaligus kolaborasi untuk mengasah keterampilan masa depan generasi muda.

“Melalui Samsung Solve for Tomorrow, kami ingin mengajak lebih banyak generasi muda untuk berani memulai dari kepedulian terhadap masalah di sekitar mereka,” kata Ennita.

Samsung Solve for Tomorrow 2026 sendiri masih membuka pendaftaran hingga 29 Mei 2026 untuk pelajar SMA/SMK/MA sederajat serta mahasiswa aktif D3/D4/S1 di seluruh Indonesia. Tahun ini peserta dapat mengembangkan solusi berbasis STEM dan AI dalam tiga tema utama, yakni Sustainability & Environment, Sport & Technology, serta Education.

Inovasi seperti Gesti Talk membuktikan bahwa AI tidak selalu harus menjadi ancaman, melainkan bisa menjadi alat yang memberdayakan. Di tengah kekhawatiran sebagian Keluarga Mahasiswa Tuntut OpenAI karena dampak negatif AI, karya tim KYGB justru menunjukkan sisi positif teknologi ini untuk inklusivitas.

Komentar

Belum ada komentar.