📑 Daftar Isi

Pergerakan jemaah haji menuju Arafah dengan pengawasan teknologi AI dan drone

AI dan Teknologi Canggih Jaga Jutaan Jemaah Haji 2026

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • AI Baseer pantau kerumunan jemaah secara real-time di Smart Makkah Operations Center
  • Simulasi 30 jam libatkan 20 ribu peserta dan 8 ribu bus uji kesiapan sistem
  • Platform Nusuk digitalisasi izin dan jadwal ibadah sejak sebelum keberangkatan
  • NUPCO kelola 1.930 jenis obat dengan gudang medis mobile di Mina dan Arafah
  • Seha Virtual Hospital dan aplikasi Sehhaty hadirkan telemedicine serta resep digital
  • 15.000 kamera diintegrasikan dengan AI untuk analisis pergerakan jemaah
  • Teknologi tetap bergantung pada koordinasi manusia untuk keputusan penting
  • Haji jadi stress-test tahunan untuk sistem transportasi, kesehatan, dan respons darurat

Telset.id – Ibadah Haji 2026 tidak hanya mengandalkan aspek spiritual, tetapi juga mengerahkan kecerdasan buatan (AI), drone, telemedicine, dan sistem pemantauan kerumunan canggih untuk menjaga keselamatan jutaan jemaah di tengah panas ekstrem Arab Saudi. Lebih dari 1,6 juta orang bergerak serempak menuju lokasi suci seperti Mina, Arafah, dan Muzdalifah, sehingga keterlambatan respons darurat atau kemacetan jaringan bisa berubah menjadi bencana besar.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Arab Saudi semakin bergantung pada teknologi modern. Salah satu pusat kendali utamanya adalah Smart Makkah Operations Center yang dioperasikan oleh Saudi Data and Artificial Intelligence Authority (SDAIA). Di pusat ini, sistem AI bernama Baseer digunakan untuk memantau kepadatan kerumunan, pola pergerakan jemaah, dan potensi kemacetan secara real-time. Teknologi ini memungkinkan petugas mendeteksi titik berbahaya sebelum situasi berkembang menjadi insiden serius.

Sebelum musim Haji dimulai, pemerintah Saudi melakukan simulasi besar-besaran untuk menguji kekuatan sistem mereka. Salah satu latihan operasional berlangsung selama 30 jam dan melibatkan lebih dari 40 lembaga pemerintah, 20 ribu peserta, 8 ribu bus, serta simulasi pergerakan sekitar 1,4 juta jemaah. Langkah ini memastikan kesiapan infrastruktur dan koordinasi antarlembaga.

Digitalisasi Ibadah Dimulai dari Aplikasi

Bagi banyak jemaah, pengalaman Haji kini dimulai sejak sebelum berangkat ke Tanah Suci. Melalui platform Nusuk, jemaah dapat mengurus izin, jadwal ibadah, navigasi lokasi, dan berbagai layanan pendukung secara digital. Sistem ini membantu pemerintah Saudi mengatur distribusi jemaah sekaligus mengurangi penumpukan di area tertentu. Digitalisasi ini makin dipercepat setelah pandemi Covid-19 yang mendorong penggunaan layanan contactless dan izin elektronik.

Sistem Medis Super Sibuk Saat Haji

Sektor kesehatan menjadi salah satu area paling krusial selama Haji. Cuaca panas ekstrem, kelelahan, dan kepadatan membuat risiko kesehatan meningkat drastis, terutama bagi jemaah lanjut usia. NUPCO, perusahaan milik Public Investment Fund yang menangani rantai pasok kesehatan Saudi, menjadi tulang punggung operasional medis Haji. “Selama Haji, interoperabilitas sangat penting karena pengiriman layanan kesehatan bergantung pada banyak sistem yang bekerja bersama dengan cepat,” ujar Chief Operating Officer NUPCO, Fahad AlButhi, kepada WIRED Middle East.

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus darurat, Saudi menempatkan gudang medis mobile di dekat area padat seperti Mina dan Arafah. Mereka mengelola sekitar 1.930 jenis obat, alat kesehatan, dan suplai medis. Dashboard operasional live digunakan untuk memprediksi kekurangan stok secara cepat. Dalam kondisi tertentu, drone dan kendaraan respons cepat juga dipakai ketika jalur darat mengalami kemacetan.

Telemedicine hingga Resep Digital

Arab Saudi juga mengembangkan layanan kesehatan digital selama Haji. Seha Virtual Hospital menghubungkan ambulans, klinik sementara, dan rumah sakit dengan dokter spesialis melalui telemedicine dan sistem diagnostik berbasis AI. Jemaah bahkan dapat melakukan konsultasi dan menerima resep digital lewat aplikasi Sehhaty. Investasi teknologi kesehatan ini meningkat tajam setelah tragedi gelombang panas Haji 2024 yang menewaskan lebih dari 1.300 orang. Sejak saat itu, monitoring real-time dan kesiapan medis menjadi prioritas utama pemerintah Saudi.

Para pejabat Saudi menggunakan AI untuk membantu mengelola jutaan jemaah, menganalisis rekaman dari lebih dari 15.000 kamera di seluruh Mekah dan tempat-tempat suci. Data ini diintegrasikan dengan sistem Paket Internet Haji untuk memastikan konektivitas tetap stabil.

Teknologi Tak Bisa Gantikan Manusia

Meski dipenuhi teknologi canggih, operasional Haji tetap sangat bergantung pada koordinasi manusia di lapangan. “Otomatisasi tidak akan menggantikan elemen manusia,” kata AlButhi. Menurutnya, teknologi hanya membantu memberikan visibilitas dan data lebih cepat. Namun keputusan penting tetap bergantung pada pengalaman dan respons petugas di lapangan. Hal ini terutama terasa bagi jemaah lansia yang belum terbiasa dengan smartphone atau sistem digital. Banyak di antara mereka masih mengandalkan relawan, keluarga, dan petugas sebagai penghubung antara teknologi dan kebutuhan nyata di lapangan.

Untuk mendukung konektivitas selama ibadah, operator seluler Tanah Air juga menyediakan layanan khusus. Misalnya, Paket RoaMAX Haji dari Telkomsel dengan kuota 40 GB dan dukungan 5G, serta Paket Haji Unlimited dari Indosat Ooredoo yang menawarkan kuota unlimited.

Haji Jadi Ujian Kota Masa Depan

Haji sering dibandingkan dengan Olimpiade atau festival massal seperti Kumbh Mela di India. Namun skala sinkronisasi Haji jauh lebih kompleks. Jutaan orang bergerak melalui ritual yang sama dalam waktu singkat, di ruang terbatas, dan di bawah tekanan cuaca ekstrem. Kombinasi inilah yang membuat Haji menjadi stress-test tahunan bagi sistem transportasi, kesehatan, pengelolaan kerumunan, hingga respons darurat. Dalam banyak hal, Haji kini bukan hanya ibadah terbesar di dunia, tetapi juga eksperimen hidup tentang bagaimana teknologi masa depan digunakan untuk mengatur jutaan manusia secara aman dan efisien.

Komentar

Belum ada komentar.