📑 Daftar Isi

Parodi AI Odyssey menampilkan JD Vance sebagai Cyclops dalam gua bersama Odysseus

AI Odyssey Parodi JD Vance Jadi Bulan-bulanan Teknologi AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Video parodi AI The Odyssey menampilkan JD Vance sebagai Cyclops yang mengolok-olok tokoh politik
  • Elon Musk berjanji membuat versi AI Odyssey dengan Grok AI namun belum terwujud
  • Kreator NostromoCore telah membuat ratusan video parodi AI dengan ratusan ribu pengikut
  • Perang budaya AI berjalan dua arah antara kelompok Musk dan kritikus politik
  • Adaptasi AI The Odyssey versi serius masih belum ada, yang ada justru parodi konyol

Telset.id – Parodi AI “The Odyssey” yang menampilkan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance sebagai Cyclops menjadi bukti bahwa teknologi AI kini digunakan untuk saling serang dalam budaya politik. Video yang dibuat oleh kreator “NostromoCore” ini justru mengolok-olok tokoh politik, bukan menghasilkan adaptasi epik yang dijanjikan Elon Musk melalui Grok AI.

Elon Musk sebelumnya menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengkritik adaptasi “The Odyssey” garapan Christopher Nolan yang dianggapnya “woke”. Ketika film tersebut justru meraup lebih dari satu miliar dolar di box office, Musk berjanji bahwa Grok AI miliknya akan membuat versi lengkap kisah Yunani kuno tersebut yang “akurat secara historis dan setia pada seni Homer” sebelum akhir tahun. Janji itu belum terwujud, tetapi justru muncul adaptasi AI lain yang jauh berbeda dari bayangan Musk.

Parodi AI Odyssey menampilkan JD Vance sebagai Cyclops dalam gua bersama Odysseus dan anak buahnya

Parodi AI yang Mengolok-olok Tokoh Politik

Video parodi AI tersebut menampilkan JD Vance sebagai Cyclops yang terperangkap bersama Odysseus dan anak buahnya di dalam gua di sebuah pulau. Vance dibuat dengan gaya babyface edits yang aneh, kecuali dengan satu mata raksasa di tengah wajahnya. Adegan-adegan konyol pun ditampilkan, seperti memasukkan anak buah Odysseus ke dalam sofa dan meminum air rendaman hot dog.

Bagian paling absurd dalam video tersebut adalah ketika Cyclops Vance terkena penyakit mata karena Odysseus buang gas ke dalam bantal sofa tempat Vance tertidur. Adegan kemudian beralih ke Cyclops Pete Hegseth dan Kash Patel di luar gua yang menertawakan teriakan kesakitan Vance sambil meminum botol whiskey mereka.

Setelah Odysseus dan anak buahnya melarikan diri menggunakan perahu, Cyclops Vance menangis memanggil “ayahnya” untuk menghukum mereka. Peter Thiel kemudian muncul sebagai penyihir jahat dari balik awan badai, menyambar mereka dengan petir. Video ini jelas bodoh dan kekanak-kanakan, tetapi tidak lebih bodoh dari konten AI yang diunggah Musk setiap hari.

Perang Budaya AI yang Berkembang

Fenomena ini menunjukkan bahwa perang budaya AI berjalan dua arah. Musk dan kelompoknya dapat menggunakan AI untuk menghasilkan propaganda anti-“woke”, dan teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk mengolok-olok mereka secara kejam. Bahkan pemerintahan Trump sendiri pernah membuat video kontroversial yang menampilkan presiden menembaki pengunjuk rasa dengan diare dari jet tempur.

Kreator di balik video AI Odyssey ini, “NostromoCore”, telah memproduksi ratusan video yang mengolok-olok JD Vance. Akun tersebut memiliki ratusan ribu pengikut di platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook. Jelas ada audiens yang menikmati konten semacam ini.

Masa Depan Adaptasi AI The Odyssey

Pertanyaan yang muncul adalah apakah versi Grok dari Odyssey akan segera hadir. Kemungkinan besar janji tersebut akan bergabung dengan kuburan janji-janji Musk yang tidak pernah terpenuhi. Sementara itu, kreator lain dilaporkan sedang mengerjakan versi AI mereka sendiri dari The Odyssey.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi AI semakin mudah diakses dan digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk konten satire politik. Kemampuan AI untuk menghasilkan video parodi yang realistis membuka peluang kreatif sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang batas-batas penggunaan teknologi ini dalam konteks politik dan budaya.

Perkembangan AI memang menghadirkan berbagai kemungkinan baru, baik positif maupun negatif. Penggunaan AI untuk konten satire politik seperti yang dilakukan NostromoCore menunjukkan bahwa teknologi ini dapat menjadi alat yang ampuh untuk kritik sosial, meskipun kualitasnya masih jauh dari kata sempurna.

Sementara Musk terus mengembangkan Grok AI, tampaknya adaptasi The Odyssey versi AI yang benar-benar serius masih belum ada. Yang ada justru parodi-parodi konyol yang memanfaatkan tokoh-tokoh politik terkenal sebagai bahan lelucon. Ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi AI berkembang pesat, penggunaannya masih sangat bergantung pada kreativitas dan tujuan masing-masing individu.

Konten AI semacam ini juga menunjukkan bagaimana media sosial menjadi platform penyebaran konten yang cepat, termasuk konten yang bersifat satire politik. NostromoCore berhasil membangun audiens yang besar dengan konten-konten parodi AI-nya, membuktikan bahwa ada pasar untuk jenis hiburan semacam ini.

Namun, perlu diingat bahwa konten AI juga dapat menimbulkan masalah, seperti penyebaran informasi yang salah atau pencemaran nama baik. Meskipun dalam konteks satire politik hal ini mungkin dianggap sebagai kebebasan berekspresi, batas-batasnya tetap perlu diperhatikan.

Perang budaya AI yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa teknologi netral, tetapi penggunaannya sangat bergantung pada nilai dan tujuan masing-masing pihak. Baik Musk maupun kreator seperti NostromoCore menggunakan AI untuk tujuan yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama memanfaatkan kemampuan AI untuk menciptakan konten yang berdampak.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.