Telset.id – Aksi protes terhadap pembangunan pusat data raksasa yang menjadi tulang punggung industri kecerdasan buatan (AI) kian meningkat. Di Amsterdam, sekelompok aktivis iklim dari Extinction Rebellion melakukan aksi vandalisme unik dengan menyerang proyek konstruksi data center milik Microsoft menggunakan bom cair yang bersifat asam.
Menurut laporan dari The Register, para aktivis mengisi balon air dengan campuran hidrogen peroksida, asam asetat, garam, dan cat akrilik sebelum melemparkannya ke fasilitas tersebut. Campuran ini dirancang untuk merusak struktur beton dan mempercepat proses karat pada baja. “Campuran asam ini menyerang beton, dan hidrogen peroksida menyebabkan baja berkarat lebih cepat,” demikian pernyataan Extinction Rebellion.
Dampak fisik dari lemparan balon air tersebut terhadap data center belum diketahui secara pasti. Namun, hal itu mungkin bukanlah tujuan utama dari aksi ini. Extinction Rebellion dikenal kerap menggunakan aksi pembangkangan sipil non-kekerasan untuk menarik perhatian publik terhadap isu-isu iklim yang sering diabaikan.
Sebelumnya, kelompok ini pernah melakukan aksi serupa, seperti menyemprotkan asam butirat yang berbau busuk ke kantor perusahaan asuransi bahan bakar fosil, serta menggunakan lem super dan gembok sepeda untuk memblokade pintu masuk Lloyd’s, sebuah pasar asuransi besar di London.
Alasan Data Center Jadi Target
Data center menjadi sasaran yang jelas bagi aktivisme iklim. Fasilitas yang mendasari ledakan AI ini merupakan penyumbang utama emisi karbon karena kebutuhan energinya yang sangat besar. Selain itu, data center juga menimbulkan masalah serius terhadap pasokan air lokal.
Dalam pernyataan pasca aksi, Extinction Rebellion berargumen bahwa data center yang menjadi sasaran mereka memanfaatkan celah hukum “untuk menghindari aturan yang melarang apa yang disebut ‘hyperscalers’.” Mereka juga menyebut fasilitas tersebut akan “mengonsumsi energi dalam jumlah raksasa di area yang sudah mengalami kekurangan listrik.”
Aksi vandalisme ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak lingkungan dari pusat data. Sebagai perbandingan, isu serupa juga muncul di sektor energi lain seperti yang diulas dalam artikel Gelombang Panas Eropa yang mematikan pembangkit listrik, menunjukkan betapa rapuhnya infrastruktur energi di era perubahan iklim.
Baca Juga:
Selain masalah penggunaan listrik dan dampak iklim, Extinction Rebellion juga mengaitkan aksi mereka dengan penyewa masa depan data center tersebut, yaitu Microsoft. Kelompok hak asasi internasional menuding perusahaan teknologi itu memainkan peran penting dalam kehancuran Gaza oleh Israel.
Seperti yang disampaikan juru bicara Extinction Rebellion, Martijn Dekker, dalam pernyataan pasca aksi, “perjuangan melawan data center dengan jelas menunjukkan bagaimana rakyat biasa bersatu melawan kekuatan kapital besar.”
“Krisis iklim dan ekologi tidak bisa dilihat secara terpisah dari genosida Israel terhadap Palestina atau perjuangan melawan efek destruktif dari AI,” lanjut Dekker. “Penyalahgunaan ini berasal dari segelintir orang super kaya yang sama, dari perusahaan besar yang sama.”
“Kita harus bersatu dan melawan kekuatan anti-demokrasi dari kelompok kecil orang-orang terkaya ini,” tambahnya. “Menghentikan pembangunan pusat data ini adalah langkah yang diperlukan dalam hal itu.”
Aksi serupa sebelumnya juga terjadi di berbagai belahan dunia. Karyawan Amazon bahkan sempat diinvestigasi karena mendukung moratorium pembangunan data center, menunjukkan bahwa kekhawatiran ini tidak hanya datang dari aktivis lingkungan, tetapi juga dari dalam industri teknologi itu sendiri.
Peristiwa di Amsterdam ini menjadi contoh nyata bagaimana perlawanan terhadap dampak lingkungan dari teknologi AI semakin radikal. Dengan target yang jelas dan aksi yang terencana, para aktivis berharap dapat memicu diskusi yang lebih luas tentang keberlanjutan infrastruktur digital di masa depan.
Di sisi lain, perkembangan industri AI dan teknologi baterai juga terus berlangsung. Misalnya, produsen baterai raksasa CATL baru-baru ini menggandeng Google, Xiaomi, dan BMW untuk standarisasi baterai global, sebuah langkah yang menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas sektor tetap berjalan meski ada gejolak di bidang lain.
Aksi Extinction Rebellion di Amsterdam ini menambah daftar panjang protes terhadap ekspansi data center. Dengan semakin besarnya kebutuhan komputasi untuk AI, konflik antara kepentingan bisnis, kebutuhan energi, dan kelestarian lingkungan diprediksi akan terus memanas.





Komentar
Belum ada komentar.