Telset.id – Prediksi pecahnya AI bubble di Amerika Serikat pada 2027 atau 2028 menjadi sorotan setelah analis keuangan Joachim Klement menyampaikannya dalam wawancara langsung di Bloomberg TV. Pernyataan ini muncul hanya sehari setelah kabar OpenAI yang disebut akan gagal mencapai target pendapatan tahunan sebesar US$20 miliar mengguncang pasar saham, dengan indeks Nasdaq turun 1,25 persen saat penutupan perdagangan.
Klement, managing director dan research analyst di investment bank Panmure Liberum, menyampaikan keyakinannya bahwa AI bubble akan pecah dalam rentang waktu tersebut. Pernyataan itu disampaikannya dalam program harian Open Interest di Bloomberg TV, yang menghadirkan dirinya sebagai narasumber utama untuk membahas kondisi ekonomi AI yang semakin menjadi perhatian publik.
Pasar saham memang sempat pulih ke level mendekati rekor tertinggi begitu perdagangan dibuka pada Jumat. Namun, episode tersebut memperlihatkan betapa rapuhnya AI spending boom yang tengah berlangsung, sekaligus minimnya informasi yang tersedia dari laboratorium AI swasta yang tidak memiliki kewajiban untuk memberi tahu publik secara berkala.

Investasi AI Dianggap Salah Sasaran
Dalam wawancara tersebut, Klement mengungkapkan keyakinan intinya bahwa AI bubble akan pecah pada 2027 atau 2028. Keyakinan itu didasarkan pada pandangannya bahwa AI bubble di Amerika Serikat berfokus pada jenis teknologi yang salah, yaitu frontier model yang boros sumber daya.
“Saya pikir seluruh AI boom ini berinvestasi pada masa depan AI yang salah,” kata Klement. “Saat ini kita berinvestasi pada frontier large language model yang berjalan di data center, padahal semakin jelas bagi saya bahwa masa depan AI yang sebenarnya adalah small language dan open-weight model yang berjalan di komputer desktop lokal. Dan itu, bagi saya, menunjukkan bahwa kita sudah over-invested di data center seiring semakin banyak aplikasi beralih ke model yang lebih kecil dan lebih murah yang berjalan secara lokal.”
Klement menambahkan bahwa dirinya menilai telah terjadi kelebihan investasi dan akan ada kesadaran bahwa pendapatan yang diharapkan sebagian pihak untuk menutupi harga saham tidak akan terwujud. Ia menyebut pihak-pihak tersebut tanpa menyebutkan nama secara spesifik pada saat ini.
Pandangan ini bukan pertama kalinya disampaikan Klement. Sebagai analis keuangan, sikapnya terhadap ekonomi AI memang dikenal suram. Pada Mei, ia menulis artikel di Reuters yang berargumen bahwa investor institusional seharusnya tidak bertanya apakah AI boom akan berakhir, melainkan apa yang akan terjadi pada pasar ketika hal itu terjadi.
Baca Juga:
Permintaan AI Bergantung pada Segelintir Perusahaan
Ketika anchor Bloomberg, Dani Burger, mengangkat isu besar berupa triliunan dolar infrastruktur data center yang direncanakan untuk beberapa tahun ke depan, Klement menjelaskan bahwa seluruh investasi tersebut pada akhirnya bergantung pada hanya beberapa perusahaan teknologi yang rencana besarnya mungkin tidak akan pernah terwujud.
“Jika menyangkut permintaan yang mendasarinya, jika Anda mengeluarkan permintaan OpenAI dan Anthropic, hampir tidak ada permintaan di sana untuk AI compute yang membenarkan investasi triliunan dolar yang diperkirakan akan dilakukan hyperscaler saja tahun depan,” jawab Klement.
Menurutnya, jika dua bulan sebelumnya ia ditanya, ia akan mengatakan bahwa bubble tersebut bisa dengan mudah bertahan dua tahun lagi. Namun kini, satu-satunya hal yang ia butuhkan agar bubble ini pecah adalah revisi rencana pertumbuhan ke bawah dan perlambatan pertumbuhan, karena hal itu saja sudah akan mengubah prospek pendapatan hampir di seluruh rantai pasok.
Klement juga menegaskan bahwa dengan nasib ekonomi Amerika Serikat yang kini sepenuhnya menyatu dengan data center boom, setiap perlambatan dalam AI spending hampir pasti akan berdampak buruk bagi semua pihak, bukan hanya industri teknologi.
Kemunculan Klement di kanal berita utama Bloomberg ini menunjukkan bahwa AI bubble semakin sulit diabaikan oleh komentator arus utama. Hal ini terjadi di tengah sebagian publikasi yang mengutip para miliarder teknologi yang bersikeras bahwa AI bubble hanyalah mitos.
Isu ini juga bersinggungan dengan dinamika industri AI yang lebih luas, termasuk sikap sejumlah pemain yang memilih jalur berbeda dalam monetisasi produk mereka. Perkembangan terkini seputar model AI menunjukkan bahwa strategi bisnis tiap pengembang bisa berbeda jauh satu sama lain.
Sementara itu, perangkat keras yang menjadi tulang punggung pergeseran ke model AI lokal juga terus berkembang. Inovasi pada perangkat seperti laptop AI memperlihatkan bagaimana komputasi AI mulai bergeser ke perangkat pengguna, sejalan dengan tesis Klement soal model yang berjalan secara lokal.
Di sisi lain, cara publik menerima dan menyebarkan informasi di kanal digital turut memengaruhi bagaimana narasi industri ini terbentuk. Fenomena citizen journalism menjadi salah satu faktor yang membuat isu seperti AI bubble cepat menyebar ke ruang publik.
Prediksi Klement menegaskan bahwa AI bubble kini menjadi topik yang tidak lagi bisa diabaikan oleh komentator arus utama. Dengan nasib ekonomi Amerika Serikat yang menyatu dengan data center boom, revisi rencana pertumbuhan dan perlambatan pertumbuhan menjadi pemicu utama yang ia sebut akan mengubah prospek pendapatan di seluruh rantai pasok.
[ META_DESCRIPTION]
Analis Joachim Klement prediksi AI bubble AS pecah 2027-2028 di Bloomberg TV, sehari setelah kabar OpenAI dan penurunan indeks Nasdaq.





Komentar
Belum ada komentar.