📑 Daftar Isi

Dario Amodei CEO Anthropic menyerukan regulasi AI dalam esai yang didukung Sam Altman dan Elon Musk

Anthropic CEO Minta Regulasi AI, OpenAI dan Musk Dukung

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Anthropic CEO Dario Amodei menyerukan regulasi perusahaan AI lewat esai yang terbit Sabtu
  • Seruan itu didukung Sam Altman (OpenAI), Elon Musk (Grok), dan Satya Nadella (Microsoft)
  • David Sacks menolak, menilai permintaan itu tidak altruistis dan soal China tidak akan sepakat
  • Amodei minta waiver antimonopoli dan koordinasi internasional termasuk dengan Chinese Communist Party
  • Trump dan Mike Johnson menegaskan AS tidak akan memperlambat AI demi menjaga keunggulan dari China
  • Altman setuju beri evaluator pihak ketiga akses setingkat karyawan meski berbiaya signifikan

Telset.id – Anthropic CEO Dario Amodei menyerukan agar pemerintah Amerika Serikat meregulasi perusahaan AI dalam upaya memperlambat laju pengembangan teknologi tersebut. Seruan itu disampaikan Amodei melalui sebuah esai yang terbit pada Sabtu, dan mendapat dukungan langka dari OpenAI CEO Sam Altman serta Elon Musk, pemilik chatbot Grok.

Dukungan tersebut muncul setelah sepekan perdebatan intensif soal ancaman teknologi AI terhadap keselamatan manusia. Selain Altman dan Musk, CEO Microsoft Satya Nadella juga menyerukan agar pengembangan AI diperlambat. Namun, seruan itu tidak diterima semua pihak. David Sacks, co-chair President’s Council of Advisors on Science and Technology, menyampaikan penolakan keras melalui unggahan di X.

“If the unreleased models are scary enough that you think you should slow down, I support your decision to be responsible. But stop pretending you need anyone else’s permission. Stop pretending antitrust law has to be suspended so you can form a cartel…Most of all, stop pretending the motivation to slow down is purely altruistic,” tulis Sacks.

Permintaan Amodei dan Kritik soal China

Dalam esainya, Amodei meminta pemerintah memberikan ruang bagi perusahaan AI yang bersaing agar dapat bekerja sama menyusun standar tanpa melanggar hukum antimonopoli. Caranya bisa melalui keikutsertaan dalam diskusi atau penerbitan waiver bagi perusahaan yang terlibat. Ia juga menyerukan bantuan pemerintah untuk membangun koordinasi internasional, termasuk dengan Chinese Communist Party. Namun, kritikus meragukan efektivitas langkah tersebut.

“China is very unlikely to join a global agreement, as you know,” tulis Sacks. Kekhawatiran bahwa Amerika Serikat akan kehilangan kepemimpinan teknologi dari China membuat pemerintah AS umumnya menolak gagasan memperlambat laju pengembangan AI.

“You have a lot of very negative forces that are bringing it up that shouldn’t be bringing it up and they’re bringing up things that won’t happen,” kata Trump saat berkunjung ke Irlandia. “We’re leading China on AI,” tambahnya, “and, frankly, I want to keep it that way because whoever wins AI, wins.”

Pemerintah AS memandang ekosistem AI China sebagai ancaman ekonomi dan keamanan nasional, dan sebelumnya pernah tertinggal oleh kemajuan teknologi negara tersebut. House Speaker Mike Johnson menegaskan sikap serupa kepada CNN pada Minggu.

“If Congress just races in and does some sort of emergency session to try to regulate AI, we will lose the race to China, and that is a threat to every single American,” kata Johnson. “So, we’ve got to have balance. We’ve got to have steady hands at the wheel.”

Langkah Sukarela untuk Kembalikan Kepercayaan Publik

Di tengah perdebatan itu, perusahaan-perusahaan menyatakan akan mulai mengambil langkah sukarela untuk membangun kembali kepercayaan publik bahwa mereka bertindak secara bertanggung jawab. Pada Minggu malam, Altman menyetujui proposal Amodei untuk memberikan akses setingkat karyawan kepada evaluator pihak ketiga yang ditempatkan di dalam perusahaan mereka. Tujuannya memeriksa apakah praktik dan produk yang dihasilkan aman, sekaligus melaporkan insiden yang terjadi.

Meski langkah tersebut menimbulkan “significant costs,” Altman menegaskan komitmennya melalui unggahan di X. “Pacing will be well worth this cost; no amount of American competitive pressure should justify recklessness,” tulisnya.

Perdebatan mengenai laju pengembangan AI ini menunjukkan tarik-menarik antara dorongan untuk memperlambat demi keselamatan dan tekanan untuk menjaga keunggulan kompetitif Amerika Serikat. Seruan Amodei yang didukung Altman, Musk, dan Nadella berhadapan langsung dengan penolakan dari Sacks serta sikap pemerintah AS yang menolak memperlambat pengembangan AI. Sementara itu, komitmen Altman terhadap evaluator pihak ketiga menjadi langkah konkret pertama yang disebut dalam perdebatan ini, dengan konsekuensi biaya yang diakui signifikan.

Perusahaan Teknologi lain di sektor berbeda juga menjalankan program pengembangan talenta, seperti yang dilakukan XL melalui inisiatif pendidikannya. Seleksi Peserta program tersebut menjadi contoh bagaimana perusahaan teknologi membangun tanggung jawab jangka panjang. Komunitas Difabel pun turut didukung dalam program serupa.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.