Telset.id – Pengguna aplikasi populer seperti Google Photos, WhatsApp, dan Spotify kini terus-menerus dihadapkan pada undangan untuk mencoba fitur kecerdasan buatan (AI) baru, meskipun mereka telah berulang kali menolaknya. Fenomena ini menunjukkan bahwa aplikasi di ponsel telah “terkena demam AI” dan memaksakan integrasi AI ke dalam setiap pengalaman pengguna, tanpa menghormati preferensi yang sudah disampaikan.
Seorang pengguna melaporkan bahwa istrinya, yang bukan penentang AI, hanya ingin melihat foto-fotonya di Google Photos. Namun, aplikasi tersebut terus menyapanya dengan ajakan untuk menggunakan alat AI-nya, seperti mencari secara percakapan atau mengedit foto dengan Gemini. Ajakan yang ditolak akan muncul kembali di lain waktu, seolah permintaan “tidak sekarang” diartikan sebagai “tolong tanya lagi nanti.”
Pengamatan ini kemudian meluas ke berbagai aplikasi lain. Hampir semua aplikasi yang ada di ponsel tampaknya telah mencapai kesimpulan yang sama: pengguna tidak hanya kadang-kadang membutuhkan AI, tetapi selalu membutuhkannya di setiap bilah pencarian, aplikasi pesan, pemutar musik, dan pembaca dokumen yang sudah mereka gunakan.
Google Photos kini memiliki fitur Ask Photos yang menggunakan Gemini untuk mencari pustaka foto, menjawab pertanyaan tentangnya, dan melakukan pengeditan berdasarkan instruksi tertulis. Google menyebut fitur ini masih eksperimental dan mungkin menghasilkan hasil yang tidak akurat. Pengguna dapat menonaktifkannya, tetapi harus melalui menu Pengaturan, Preferensi, dan akhirnya fitur Gemini di Photos. Keberadaan pengaturan ini lebih baik daripada tidak ada, namun tetap saja, seseorang yang berulang kali menolak undangan sebenarnya sudah menyampaikan preferensinya.
Meta mengambil pendekatan yang lebih luas. Asistennya kini hadir di WhatsApp, Instagram, Facebook, dan Messenger. Satu lingkaran biru yang sama berhasil mengikuti pengguna di empat aplikasi terpisah, seperti asisten toko yang membantu namun tiba-tiba muncul di setiap lorong.
Spotify memiliki AI DJ, daftar putar buatan AI, dan pencarian musik secara percakapan. Adobe Reader menempatkan asisten AI di samping dokumen PDF-nya. Microsoft melangkah lebih jauh dengan mengganti nama hub Office-nya menjadi Microsoft 365 Copilot app, seolah nama “Microsoft 365, Kini dengan AI Entah Anda Memintanya atau Tidak” terlalu buruk untuk diuji coba.

Microsoft memang mengizinkan pengguna desktop untuk menonaktifkan Copilot di Word, Excel, dan PowerPoint. Namun, dokumentasinya menyatakan bahwa sakelar yang sama tidak tersedia di versi iOS, Android, atau web. Pengguna ponsel hanya dapat mengubah pengaturan privasi yang lebih luas, yang berpotensi memengaruhi fitur lain yang terhubung. Ini bukanlah tombol mati, melainkan lebih seperti pemutus sirkuit.
Beberapa Alat AI Justru Berguna
Penulis artikel asli tidak menganggap semua fitur AI tidak berguna. Menemukan foto tertentu dengan mendeskripsikan keadaan setengah ingat di sekitarnya memang berguna. Mengajukan pertanyaan spesifik pada PDF setebal 70 halaman dapat menghemat waktu. Pencarian musik secara percakapan mungkin berhasil di mana bilah pencarian biasa Spotify kadang-kadang gagal. Penulis juga berlangganan ChatGPT dan Claude.
Yang menjadi masalah adalah niat. Saat membuka aplikasi AI, pengguna memilih interaksi AI. Saat membuka Photos, pengguna ingin melihat foto. Saat membuka WhatsApp, pengguna ingin mengirim pesan. Saat membuka Spotify, pengguna mungkin sudah tahu apa yang ingin didengar. Aplikasi-aplikasi ini berfungsi dengan baik sebelum AI menjadi fitur baru yang paling menonjol. Kini, asisten tersebut semakin sering disajikan sebagai pusat pengalaman, sementara fungsi asli aplikasi sedikit tersingkir.
Industri teknologi tampaknya takut AI menjadi tidak terlihat. Setiap asisten membutuhkan tombol, setiap tombol membutuhkan cahaya berwarna, dan setiap cahaya harus menempati bagian layar tempat ibu jari pengguna berada. Sebuah fitur yang benar-benar berguna tidak perlu terus-menerus memperkenalkan dirinya. Ia akan diam-diam menjadi bagian dari rutinitas karena memecahkan masalah lebih baik daripada metode lama. Pendekatan saat ini terasa lebih seperti perusahaan perangkat lunak yang mati-matian membuktikan bahwa mereka juga memiliki strategi AI.
Baca Juga:
Kata “Tidak” Harus Bertahan
Perusahaan-perusahaan ini terus menjanjikan perangkat lunak yang memahami penggunanya. Google Photos dapat mengidentifikasi wajah, tempat, objek, dan liburan yang setengah terlupakan dari tahun-tahun lalu. Spotify mempelajari apa yang diputar, kapan diputar, dan lagu mana yang ditinggalkan setelah 12 detik. Meta telah menghabiskan waktu bertahun-tahun membangun sistem yang dirancang untuk memprediksi apa yang akan membuat pengguna tetap menatap layar.
Namun, mengingat bahwa seseorang pernah menolak fitur AI ternyata masih di luar batas kemampuan komputasi modern. Pengguna memang dapat mencari cara untuk menonaktifkannya di dokumentasi, tetapi mengapa tidak menjadikan opt-in sebagai default? Sebuah ajakan yang ditolak akan kembali. Tombol yang tersembunyi menjadi lebih menonjol. Pembaruan aplikasi diam-diam memberi asisten kesempatan lain untuk memperkenalkan dirinya.
Perangkat lunak mengingat segalanya kecuali preferensi yang bertentangan dengan strategi perusahaan saat ini. Mungkin aplikasi-aplikasi ini sudah memahami apa arti “tidak.” Mereka hanya memutuskan bahwa mengingatnya akan buruk bagi keterlibatan pengguna.
Fenomena ini menunjukkan adanya ketegangan antara inovasi yang dipaksakan dan pengalaman pengguna yang sesungguhnya. Pengguna menginginkan aplikasi yang melakukan tugasnya dengan baik, bukan aplikasi yang terus-menerus menawarkan fitur yang tidak mereka minta. Ini adalah pelajaran penting bagi industri teknologi: AI yang hebat adalah AI yang tidak perlu diperkenalkan.





Komentar
Belum ada komentar.