📑 Daftar Isi

Ilustrasi dokter menggunakan AI scribe untuk mencatat konsultasi pasien

Australia Perketat Regulasi AI Scribe Demi Keamanan Pasien

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Pemerintah Australia mendesak tenaga kesehatan berhati-hati menggunakan AI scribe
  • Adopsi AI scribe melonjak dari 22% (Agustus 2024) menjadi 40% (November 2025)
  • Risiko utama: privasi pasien, akurasi catatan medis, dan persetujuan berdasarkan informasi
  • Data pasien berpotensi dikirim ke server cloud di luar Australia tanpa sepengetahuan penyedia layanan
  • TGA sedang mengkaji klasifikasi AI scribe sebagai perangkat medis
  • Klaim peningkatan pendapatan 30% dipertanyakan karena bisa berdampak pada sistem Medicare
  • Laporan hasil kajian TGA diharapkan rilis dalam beberapa bulan mendatang

Telset.id – Pemerintah Australia mendesak tenaga kesehatan untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan alat perekam medis bertenaga AI atau AI scribe, karena regulator kini mengkaji apakah diperlukan perlindungan yang lebih ketat terhadap teknologi yang berkembang pesat di sektor kesehatan ini.

AI scribe telah dengan cepat mendapatkan popularitas dengan cara merekam, mentranskripsikan, dan meringkas percakapan dokter-pasien menjadi catatan klinis. Teknologi ini secara signifikan mengurangi beban administratif yang selama ini membebani para tenaga kesehatan. Namun, pejabat pemerintah kini memperingatkan bahwa adopsi teknologi yang begitu cepat telah melampaui pengawasan yang ada, sehingga menimbulkan pertanyaan serius seputar privasi pasien, persetujuan berdasarkan informasi, dan akurasi catatan medis.

Menurut dokumen yang diperoleh The Guardian Australia melalui permintaan kebebasan informasi, departemen kesehatan federal Australia telah mengidentifikasi beberapa risiko yang terkait dengan alat AI scribe. Dokumen pengarahan yang disiapkan untuk Senate Estimates pada Februari 2026 menggambarkan teknologi ini memiliki “pengawasan yang minim” dan mencatat bahwa beberapa AI scribe dipasarkan seolah beroperasi di luar regulasi perangkat medis yang ada, meskipun digunakan dalam lingkungan klinis.

Kekhawatiran ini muncul di tengah lonjakan adopsi yang terus berlanjut. Sebuah survei online yang dilakukan oleh Royal Australian College of General Practitioners (RACGP) menemukan bahwa proporsi dokter Australia yang menggunakan AI scribe hampir dua kali lipat, dari 22 persen pada Agustus 2024 menjadi 40 persen pada November 2025. Penyedia teknologi juga mengklaim bahwa platform mereka telah memproses ratusan juta konsultasi secara global selama 18 bulan terakhir.

Meskipun departemen kesehatan mengakui bahwa AI scribe dapat meningkatkan produktivitas dokter dan membantu mengurangi kelelahan kerja, mereka juga memperingatkan bahwa alat ini mewarisi banyak keterbatasan yang sama seperti model bahasa besar. Kesalahan dalam transkripsi atau peringkasan dapat berdampak pada keselamatan pasien, akuntabilitas klinis, dan kualitas informasi yang disimpan dalam infrastruktur kesehatan digital Australia.

Representative Image

Privasi Pasien Jadi Sorotan Utama

Privasi telah muncul sebagai kekhawatiran utama lainnya. Pejabat menemukan bahwa beberapa penyedia mempromosikan produk mereka sebagai produk yang mematuhi privasi, namun memberikan transparansi yang terbatas tentang bagaimana informasi pasien diproses. Dalam beberapa kasus, penyedia layanan kesehatan mungkin tidak menyadari bahwa data pasien dikirimkan ke server cloud di luar Australia, yang berpotensi mengekspos informasi medis sensitif ke risiko tambahan.

Departemen juga mempertanyakan klaim pemasaran yang menyebutkan AI scribe dapat meningkatkan pendapatan dokter sekitar 30 persen tanpa memperpanjang jam kerja atau menemui lebih banyak pasien. Pejabat mencatat bahwa klaim semacam itu dapat memiliki implikasi yang lebih luas untuk sistem Medicare Australia yang didanai publik jika tagihan yang lebih tinggi menjadi insentif utama untuk adopsi.

Persetujuan pasien menjadi area lain yang menarik perhatian. Pemerintah menemukan variasi yang signifikan dalam cara klinik mendapatkan izin sebelum merekam konsultasi, dengan alasan bahwa persetujuan berdasarkan informasi yang bermakna mengharuskan pasien untuk memahami baik manfaat maupun keterbatasan dari dokumentasi yang dibantu AI. Kelompok konsumen juga melaporkan kasus di mana pasien diberitahu bahwa mereka harus mencari penyedia layanan kesehatan lain jika menolak penggunaan AI scribe selama janji temu.

Representative Image

Lanskap Regulasi yang Masih Terfragmentasi

Lanskap regulasi saat ini masih terfragmentasi. Pengawasan saat ini dibagi antara Therapeutic Goods Administration (TGA), Australian Health Practitioner Regulation Agency (Ahpra), dan Office of the Australian Information Commissioner. TGA saat ini sedang meninjau apakah AI scribe harus secara resmi diklasifikasikan sebagai perangkat medis, sebuah keputusan yang dapat membawa banyak platform di bawah pengawasan regulasi yang lebih ketat. Sebuah laporan diharapkan akan dirilis dalam beberapa bulan mendatang.

Debat ini mencerminkan tantangan yang lebih luas yang dihadapi sistem perawatan kesehatan di seluruh dunia. Alat AI semakin mampu mengurangi pekerjaan administrasi dan memberi dokter lebih banyak waktu bersama pasien, namun pemerintah juga dipaksa untuk menyeimbangkan keuntungan efisiensi tersebut dengan kebutuhan untuk melindungi privasi pasien, memastikan akurasi klinis, dan menetapkan akuntabilitas yang jelas ketika kecerdasan buatan menjadi bagian dari pengambilan keputusan medis.

Kasus ini mengingatkan kita pada insiden serupa di mana teknologi AI di Australia menimbulkan masalah regulasi. Seperti yang pernah terjadi pada Deloitte yang harus ganti rugi akibat kesalahan AI, penting bagi regulator untuk bertindak cepat.

Keputusan TGA yang akan datang akan menjadi titik kritis bagi masa depan AI scribe di Australia. Jika diklasifikasikan sebagai perangkat medis, platform AI scribe harus memenuhi standar keamanan dan efektivitas yang lebih ketat sebelum dapat digunakan secara luas. Ini akan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi pasien dan tenaga kesehatan, namun juga berpotensi memperlambat adopsi teknologi yang telah terbukti mengurangi beban administratif.

Bagi para profesional kesehatan di Australia, imbauan pemerintah ini menjadi pengingat penting untuk tidak hanya mengandalkan klaim pemasaran dari penyedia teknologi. Verifikasi independen, audit keamanan data, dan transparansi penuh kepada pasien harus menjadi prioritas utama sebelum mengadopsi AI scribe dalam praktik klinis sehari-hari.

Perkembangan regulasi AI di Australia ini juga menjadi pelajaran berharga bagi negara lain, termasuk Indonesia, yang juga mulai mengeksplorasi penggunaan AI dalam layanan kesehatan. Keseimbangan antara inovasi dan perlindungan konsumen harus dijaga agar teknologi benar-benar memberikan manfaat tanpa mengorbankan hak-hak dasar pasien.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.